1. 13:02 20th Jan 2013

    Notes: 7

    Tags: sastra

    image: Download

    Kompas/ Iwan Setiyawan
Kawasan Bundaran Hotel Indonesia dan Jalan MH Thamrin, Jakarta, terendam banjir.


Ciliwung yang Manis
Ciliwung mengalir
dan menyindir gedung-gedung kota Jakarta
kerna tiada bagai kota yang papa itu
ia tahu siapa bundanya

Ciliwung bagai lidah terjulur
Ciliwung yang manis tunjukkan lenggoknya

Dan Jakarta kecapaian
dalam bisingnya yang tawar
dalamnya berkeliaran wajah-wajah yang lapar
hati yang berteriak karena sunyinya
maka segala sajak
adalah terlahir karena nestapa
kalaupun bukan
adalah dari yang sia-sia
ataupun ria yang berarti karena papa

Ciliwung bagai lidah terjulur
Ciliwung yang manis tunjukkan lenggoknya

Ia ada hati di kandangnya
Ia ada nyanyi di hidupnya
Hoi, geleparnya anak manja!
Dan bulan bagai perempuan tua
letih dan tak diindahkan
menyeret langkahnya atas kota
Dan bila ia layangkan pandangnya ke Ciliwung
Kali yang manis membalas menatapnya!
Hoi! Hoi!

Ciliwung bagai lidah terjulur
Ciliwung yang manis tunjukkan lenggoknya

Teman segala orang miskin
timbunan rindu yang terperam
bukan bunga tapi bunga
Begitu kali bernyanyi meliuk-liuk
dan Jakarta disinggung dengan pantatnya

(WS Rendra, Empat Kumpulan Sajak, Penerbit Pustaka Jaya, 1961)

    Kompas/ Iwan Setiyawan

    Kawasan Bundaran Hotel Indonesia dan Jalan MH Thamrin, Jakarta, terendam banjir.

    Ciliwung yang Manis

    Ciliwung mengalir

    dan menyindir gedung-gedung kota Jakarta

    kerna tiada bagai kota yang papa itu

    ia tahu siapa bundanya

    Ciliwung bagai lidah terjulur

    Ciliwung yang manis tunjukkan lenggoknya

    Dan Jakarta kecapaian

    dalam bisingnya yang tawar

    dalamnya berkeliaran wajah-wajah yang lapar

    hati yang berteriak karena sunyinya

    maka segala sajak

    adalah terlahir karena nestapa

    kalaupun bukan

    adalah dari yang sia-sia

    ataupun ria yang berarti karena papa

    Ciliwung bagai lidah terjulur

    Ciliwung yang manis tunjukkan lenggoknya

    Ia ada hati di kandangnya

    Ia ada nyanyi di hidupnya

    Hoi, geleparnya anak manja!

    Dan bulan bagai perempuan tua

    letih dan tak diindahkan

    menyeret langkahnya atas kota

    Dan bila ia layangkan pandangnya ke Ciliwung

    Kali yang manis membalas menatapnya!

    Hoi! Hoi!

    Ciliwung bagai lidah terjulur

    Ciliwung yang manis tunjukkan lenggoknya

    Teman segala orang miskin

    timbunan rindu yang terperam

    bukan bunga tapi bunga

    Begitu kali bernyanyi meliuk-liuk

    dan Jakarta disinggung dengan pantatnya

    (WS Rendra, Empat Kumpulan SajakPenerbit Pustaka Jaya, 1961)

     
    1. jojoendra reblogged this from muhammadakhyar
    2. innanisil reblogged this from muhammadakhyar
    3. hanabilqisthi reblogged this from muhammadakhyar
    4. muhammadakhyar posted this