manusia yang terus bertumbuh, membaca dan berbicara adalah hobbi saya tetapi tidur dan makan adalah hal yang lebih menyenangkan sebenarnya.
Tulisan ini adalah buah pikir Samuel Mulia. Dimuat di Kompas, 26 Februari 2012. Tulisan mas Samuel kali ini menyasar keseimbangan. Seperti biasa, lugas tetapi tidak kehilangan keanggunannya.
Belum lama ini salah satu klien saya secara tiba-tiba menghentikan proyeknya dan mengalihkannya kepada institusi lain. Keadaan macam ini acap kali menyulut rasa jengkel, meski saya mengerti bahwa di dalam hidup ini kemungkinan macam ini selalu saja terjadi.
Yang diambil
Saya tak terlibat secara langsung dalam proyek ini, tetapi salah satu rekan bisnis dan timnya yang selalu memonitor. Kejadian yang mendadak tanpa alasan ini membuat rekan bisnis saya mengajukan satu pertanyaan yang sudah pasti bisa Anda tebak. Ya benar. Mengapa proyek ini mendadak dihentikan dan dialihkan ke tempat lain.
Klien kami mengajukan sejuta alasan yang sungguh tak melegakan hati, dan dari alasan dan cara mengungkapkannya membuat rekan bisnis saya berujar demikian. ”Enggak papa kok, Pak. Itu hak Bapak untuk pindah ke lain hati. Kalau tidak begitu, Bapak kan enggak bisa menilai apakah cara kami menangani proyek ini bagus atau tidak.”
Di suatu rapat mingguan, rekan bisnis saya menceritakan soal kejadian di atas. Saya yang pertama naik pitam. Tetapi salah satu sejawat dalam ruang rapat itu berkomentar begini. ”Memang menyebalkan, tetapi kita mungkin mesti mikir, institusi yang mendapat proyek kita itu bisa jadi sedang membutuhkan dana. Kita harus legowo menerima ini. Tuhan itu adil kok dan tak pernah keliru.”
Saya yang kemudian tersetrum di ruang rapat pagi itu. Pertama, mendengar jawaban yang diberikan rekan bisnis saya. Kehilangan merupakan sebuah saat yang tepat untuk mengevaluasi, sejauh apa kualitas pekerjaan kita. Baik, sedang, buruk, atau luar biasa. Tak hanya kehilangan pekerjaan, tetapi kehilangan pasangan dalam perkawinan atau kehilangan kesempatan. Sebuah hubungan pun perlu dievaluasi, apalagi kalau sampai retak dan salah satunya berhenti mencintai.
Evaluasi ini tidak hanya berguna di saat itu saja, tetapi berguna kalau di suatu hari mendapat proyek atau menjalin hubungan asmara yang baru. Bukankah, katanya, orang itu harus belajar dari kesalahan, dan kesuksesan itu diraih dengan cara memadukan kepandaian dan sejuta kesalahan yang dibuat?
Yang diberikan
Hal kedua yang menyetrum saya di rapat pagi itu adalah keputusan klien saya untuk berpindah ke lain hati. Kejadian itu mengingatkan kembali kepada kekonyolan yang pernah saya buat. Pindah ke lain hati karena hijaunya rumput tetangga selalu membuat mata lebih berbinar. Soal hijaunya, itu bisa dirinci dalam sejuta contoh. Dari lebih cantik, lebih memiliki networking, lebih ini dan lebih itu.
Setelah pindah ke lain hati itu, saya menyesal, karena dalam perjalanan, hasil yang terlihat tidak sebinar awalnya. Pelajaran besar yang saya dapat adalah, kalau rumput tetangga kelihatan lebih hijau, itu adalah waktu yang tepat untuk membuat rumput di rumah saya jauh lebih hijau dan bukan meninggalkan dan membiarkannya kering menjadi kuning kecoklatan, dan kemudian mati. Peristiwa itu membuat saya malu sekali, karena rumput di rumah saya yang sudah saya genggam ternyata jauh lebih hijau.
Hal ketiga yang membuat mata terbuka di ruang rapat itu adalah ketika rekan sejawat saya berkomentar: ”Kita mungkin mesti mikir, institusi yang mendapat proyek kita itu bisa jadi sedang membutuhkan dana. Kita harus legowo menerima ini, Tuhan itu adil kok dan tak pernah keliru.” Di pagi itu saya benar seperti tersambar petir yang mengejutkan semua saraf kesadaran, untuk mampu berpikir bahwa menciptakan kebaikan itu adalah dengan memberi apa yang kita miliki.
Saya kesal karena bisnis itu berpindah tangan, tetapi teman sejawat saya bisa memandangnya lebih dari hanya sekadar mengambil bisnis orang lain. Ia malah melihat kehilangan sebagai waktu yang tepat memberi berkat kepada orang lain yang lebih membutuhkan. Saya seperti disadarkan dari rasa amarah yang sama sekali tak perlu terjadi. Keluar dari ruang rapat itu saya benar-benar merasakan ”dada yang lapang”.
Saya masih harus banyak belajar. Kalau saya kehilangan, dan dengan kehilangan itu menjadikan orang lain berbahagia, yaa… saya harus rela. Saya harus rela kalau pasangan saya pergi, kalau ia menemukan orang lain yang bisa lebih membahagiakannya. Saya harus rela kehilangan ayah saya karena, dengan demikian, ia terbebas dari penyakitnya yang menyiksa.
Dan kehilangan itu juga membebaskan saya dari rasa egois untuk memiliki segala sesuatu selamanya dan dari perlakuan yang tidak adil. Kehilangan itu memberi saya pelajaran besar bahwa tak ada pesta di dunia ini yang tak akan berakhir, tetapi setelah itu akan ada pesta baru yang disediakan kehidupan ini untuk dinikmati.
Anda pasti tak percaya, karena saya sendiri tak percaya. Satu hari setelah kehilangan proyek itu, kami mendapat proyek yang sama dari sebuah perusahaan yang berbeda. Benarlah kata rekan sejawat saya itu, Tuhan itu begitu adil, bahwa rezeki itu tak akan pernah keliru diberikan kepada seseorang. Pesta lama saya telah usai, pesta baru akan segera saya nikmati!