1. 19:50 30th Dec 2011

    Notes: 4

    Tags: budaya

    Paradoks Waktu

    Tulisan ini adalah buah pikir Clara Ng, Penulis. Dimuat di Kompas, 30 Desember 2011. Ah, membaca tulisan ini saya jadi teringat bahwa tema ini hampir saja menjadi tema skripsi saya tempo lalu, psikologi waktu.

    Pada tahun ini, saya bertemu dengan ”teman-teman lama” tidak lewat reuni. Saya mengejar keberadaan mereka melalui mesin pencari. Saya menemukan jejak mereka melalui Twitter, Facebook, dan blog. Saya bolak-balik membaca tulisan mereka.

    Apa yang saya lakukan lebih baik daripada reuni. Melalui blog, saya kembali dekat dengan teman-teman lama. Cerita mereka tentang keseharian membuat waktu mencair. Dulu saya ada dalam hidup mereka—sebagai teman di kelas, sebagai teman dalam satu kegiatan—namun kini mereka memiliki hidup sendiri tanpa kehadiran saya. Mendadak, saya merasa kembali ke masa lalu, bermain dan berkegiatan bersama mereka.

    The Time Paradox oleh Philip Zimbardo menggabungkan pengertian psikologi dengan konsep waktu. Setiap keputusan yang dilakukan manusia, termasuk hasil akhirnya, ditentukan kekuatan besar di dalam pikiran, yaitu bandul jam. Bandul jam ini berdetik secara individual: menghitung masa lalu, masa sekarang, dan masa depan berdasarkan zona waktu setiap manusia.

    Dengan kata lain, waktu bukan bagian eksternal berupa jam di dinding atau kalender, namun internal, tertanam di dalam diri dan menjadi faktor penting dalam menyikapi keadaan. Teman saya bercerita, jika mencium wangi kopi tubruk, dia teringat masa kecilnya pada sore hari di kota kelahirannya. Sebab, ibunya selalu menyiapkan kopi untuk ayahnya di gelas belimbing. Kenangan itu bukan masa lalu di benaknya. Dia merasakan kenyamanan dan ketenangan saat menyesap kopi tubruk: di mana pun, pada saat kapan pun.

    Paradoks waktu internal bukan hanya tentang masa lalu, namun juga tentang masa sekarang dan masa depan. Pikirkan bagaimana kita memandang masa sekarang untuk masa depan. Ada orang yang menyiapkan segala sesuatu dengan detail dan meyakinkan bahwa masa depan akan tergambarkan sempurna jika penuh persiapan. Ada pula orang merasa kehidupannya dikendalikan faktor eksternal sehingga spontanitas adalah agamanya.

    Bias waktu perspektif muncul dalam berbagai wajah. Orang yang mengalami shock di masa lalu membawa krisisnya ke masa sekarang. Tulisan di blog teman saya bercerita tentang pengalamannya ditipu. Baginya, itu adalah ”pengalaman seumur hidup”. Lihat saja, peristiwa masa lalu yang menyakitkan ditahbiskannya sebagai bagian dari ”seluruh kehidupannya”.

    Paradoks waktu memperlihatkan watak manusia yang sesungguhnya. Tahun baru yang akan datang ini adalah kalender yang menjadi tolak ukur kita menghitung usia, namun belum tentu menjadi acuan utama untuk membentuk perilaku. Sebab, bukankah istilah ”dewasa” atau tidak ”dewasa” ala pandangan umum juga tidak selalu merujuk pada umur, melainkan pada kematangan pribadi? Selamat Tahun Baru 2012. Selamat merayakan paradoks waktu yang hidup di dalam benak kita masing-masing.

     
    1. utsnia reblogged this from muhammadakhyar
    2. choirunnisakfauziati reblogged this from muhammadakhyar
    3. muhammadakhyar posted this