1. 19:33 21st Oct 2014

    Notes: 10

    Tags: puisi

    Puisi Sapardi Djoko Damono

    Berikut adalah puisi-puisi karya Sapardi Djoko DamonoTerbit di Kompas, 1Oktober 2014. Selamat menikmati

    Memilih Jalan

    : Robert Frost

    /1/

    Jalan kecil ini berujung di sebuah makam dan kau bertanya,

    “Kenapa tadi kita tidak jadi mengambil jalan yang satunya?”

    Tapi kenapa kau tidak bertanya, “Untunglah kita tidak

    mengambil jalan itu tadi”?

    Memang absurd, jalan ini kenapa ada ujungnya dan tidak

    menjulur saja terus-menerus sampai pada batas yang seharusnya

    juga tidak perlu ada.

    (Ternyata masih tetap ada yang berujung pada kalimat yang

    tampaknya memerlukan tanda tanya.)

    /2/

    Kita mungkin keliru memilih jalan tapi itu sama sekali bukan

    salahmu.

    Akulah yang mengajakmu mengambil jalan ini sebab kupikir

    kota yang kita tuju terletak di ujung jalan yang kita lalui ini.

    Hanya comberan bekas hujan.

    Hanya bunyi-bunyian lirih sisa nyanyian yang seperti

    memberi tahu bahwa dahulu nenek-moyang kita pernah

    membuka hutan dan mendirikan kerajaan besar dengan bantuan

    orang-orang dari seberang yang buru-buru pergi lagi begitu

    terdengar kita dibelah oleh ribut-ribut memperebutkan tahta

    kerajaan.

    Hanya bekas comberan.

    Sehabis hujan.

    Hanya suara sopir taksi yang tak bosan-bosannya bertanya

    alamat rumah ibadah kita persisnya di mana.

    /3/

    Jalan buntu ini kemarin tak ada.

    “Ia muncul dari suara yang asing, dari hakikat malam yang

    sangat pekat perangainya,” katamu ketika melihatku seperti

    bertanya-tanya.

    Ya, tetapi kenapa kemarin jalan buntu ini tak ada?

    “Sebaiknya kautanyakan saja kenapa jalan buntu ini

    sekarang ada.”

    Jendela Kaca

    Selalu!

    Kau selalu pura-pura tidak memperhatikan gerimis yang

    suka menjengukmu lewat jendela kaca.

    Selalu pura-pura sibuk mengerjakan ini-itu dan kalau ditanya

    kenapa tidak memberikan perhatian sedikit pun terhadap gerimis

    kaujawab, Apa perlunya?

    Kau punya bayang-bayang yang tidak akan pernah bisa

    kaukibaskan yang juga selalu merisaukan sikapmu terhadap

    gerimis.

    Dan malam ini ketika ia terus-menerus mendesakmu agar

    memberikan perhatian terhadap gerimis atau setidaknya

    menjelaskan ada apa dengan sikapmu kau bangkit dari tempat

    duduk dan matamu tajam menuding jendela kaca itu menahan

    bisikan yang paling putih yang pernah kauraba dengan jiwamu.

    Jendela memang ada untuk menjadi batas yang di luar dan

    yang di dalam.

    Ballada Penyeberang Sungai dan Bonggol Kayu

    naik dari tebing sungai

    sehabis menyeberang

    dari tepi sebelah timur

    ia duduk di bonggol kayu

    ia duduk

    memperhatikan barisan semut

    yang sama sekali

    tidak memperhatikannya

    ia duduk

    di bonggol kayu

    yang tidak pernah tahu

    asal-usulnya

    ia duduk memperhatikan

    seekor ular kecil

    berwarna hijau

    yang sama sekali

    tidak memperhatikan

    barisan semut

    yang tadi menjadi

    pusat perhatiannya

    ia duduk memperhatikan

    kura-kura yang tadi dilihatnya

    memanjat tebing sungai

    begitu pelahan

    sehingga menyebabkannya

    tidak mau lagi repot

    berpikir tentang waktu

    bangkit dari duduk

    di bonggol kayu

    ia berpikir

    sebaiknya menyeberang

    sungai lagi agar ingat

    untuk apa tadi menyeberang

    sesampai di tepi sebelah timur

    ia memusatkan pandangan

    ke bonggol kayu

    yang di seberang barat

    dan bertanya kenapa

    tadi duduk

    di atasnya

    lalu ia berpikir

    ada baiknya kalau

    menyeberang lagi

    agar yakin

    bahwa pernah

    duduk di bonggol kayu

    yang di seberang itu

    tepat di tengah sungai

    ia memutuskan

    untuk tidak perlu

    mengusut mengapa

    tadi duduk di bonggol

    kayu yang tidak suka

    ditanya perihal

    asal-usulnya

    tepat di tengah sungai

    ia berhenti dan berpikir

    sebaiknya dibiarkan saja

    semua ingatan

    tentang bonggol kayu

    yang pernah didudukinya

    ia memilih menjadi buih

    menggelembung putih

    mengikuti keriput air

    yang menghilir

    menuju tubir

    Sejak Kini

    Kita tidak lagi berhak mengucapkan apa pun sejak cuaca

    yang sangat kalut ini nyata-nyata bermuara di mulut.

    Kata yang tumbuh dalam diri kita yang subur dalam denyut

    jantung dan serabut urat darah di otak kita telah disihir menjadi

    warna-warni angin dan semerbak api dan suara lebam yang

    memadamkan hujan.

    Duka ganjil yang tumbuh dari bayang-bayang ribut-ribut

    ini tak juga bisa kita kibaskan.

    Lidah kita mencecap tiga tetes air dan sebutir pasir.

     

    Pulang dari Pemakaman Teman

    : Wyslawa Szymborska

    Yang pakai jas hitam ngoceh tentang proyeknya yang belum

    jelas berhasil-tidaknya meskipun jagoannya menang dalam adu

    sms melawan capres saingannya di pemilu sebuah Republik

    Demokratik Nusantik.

    Yang sarungnya palekat tidak mau diajak istrinya mampir ke

    “Mal Firdaus” khawatir jangan-jangan ular yang suka melet-melet

    itu masih menjulur-julurkan lidahnya di atas onggokan buah apel

    impor di sana.

    Yang tadi berpidato sambil sesenggukan atas nama keluarga

    si mati dengan sabar mengelus-elus kepala anak laki-lakinya yang

    sejak datang tak henti-hentinya bikin ribut minta pulang kebelet

    main game petak umpet dalam gadget yang kemarin dibelinya.

    Yang pakai sepatu kets loncat-loncat kecil sambil nyengir

    becerita kepada yang pakai celana ketat tentang boss-nya yang

    ragu-ragu mau memindahkannya dari bagian basah ke bagian

    kering sebab khawatir kalau nanti kena demo anak buahnya.

    Orang muda yang pakai songkok merah agak kegedean

    merangkul istrinya sambil bisik-bisik – untung kita tak mendengar

    apa yang dibicarakan pasangan yang baru nikah minggu lalu itu.

    Yang berbaju batik terus mengomel tentang cuaca yang

    tidak juga membaik akhir-akhir ini, anaknya yang semata wayang

    keluar-masuk rumah sakit – “Meskipun kami sudah punya askes,

    Mas,” katanya.

    Yang berjalan pincang-pincangan memakai tongkat rotan

    (yakni saya?) tumben kali ini sama sekali tidak mau bicara,

    tampaknya bertanya-tanya kepada dirinya sendiri kenapa

    sih teman yang baru dimakamkan itu sampai hati benar

    mendahului dirinya.

    Yang sudah tertimbun tanah menjadi saksi itu semua dan

    untuk pertama kalinya merasa sangat berbahagia; sayang si

    pincang sama sekali tidak melihatnya.

    Aku Melambaikan Tangan

    Aku melambaikan tangan di sela-sela cahaya sore yang tampaknya

    sudah sangat ingin lesap,

    tetapi kaubilang kau tidak pernah mengenalku.

    Ketika ada anak-anak bersepeda lewat

    aku dengar jejerit-jeritan yang dulu pernah menjadi bagian hidup

    kita.

    Tetapi kaubilang tidak pernah mengenalku.

    Di seberang danau ada yang memperhatikan kita

    ketika kulambaikan tangan sore itu.

    Tak pernah ada yang sia-sia ketika bedug magrib

    menularkan cahaya merah.

    Aku mengenalmu – berenang di arus cahaya yang tenggelam

    di danau yang sejak hari ini memisahkan kita;

    aku melambaikan tangan di sela-sela cahaya sore,

    tak hendak percaya bahwa kau tak lagi mengenal ragamu ini.

    Percuma Saja

    “Percuma saja kita percaya,” katamu ketika orang yang raut

    mukanya musykil dan nada suaranya ganjil itu selesai bicara di

    televisi kita yang sudah mulai pudar warnanya.

    Tetapi mungkin saja ia tidak bicara kepada kita, mungkin

    saja.

    Ia menatap kamera dan menjelaskan mengapa studio begitu

    dingin sehingga gatal-gatal muncul di sekujur tubuhnya dan

    tampaknya sama sekali tidak ada maksudnya untuk membuat kita

    percaya pada yang diucapkannya.

    Malahan mungkin saja ia tidak mengatakan apa-apa dan

    suara yang kaudengar itu sepenuhnya justru muncul di sela-sela

    ucapan-ucapan kita sendiri yang sejak kemarin seperti menghalangi

    segala jenis pertanyaan, “Percuma saja kau susah payah memilih

    kata, semua sama saja bunyinya.”

    Sapardi Djoko Damono menulis puisi dan prosa. Saat ini ia sedang mempersiapkan buku puisinya yang terbaru, Babad Batu.

     
  2. 19:22

    Notes: 3

    Tags: prosa

    Those Lazy-HaZy-Crazy Days of Summer

    Cerita pendek yang sangat unik ini adalah karya DanartoTerbit di Kompas, 1Oktober 2014. Segar bukan?

    Pertengkaran saya dengan David Copperfield mencapai puncaknya ketika ilusionis itu menawarkan duit untuk biaya saya bermalam atas hilangnya pacar saya yang ia lenyapkan dan belum berhasil ia kembalikan.

    ”Ini artinya kamu belum pasti bisa mengembalikan pacar saya,” sergah saya kepadanya.

    ”Maaf, maksud saya memang supaya kamu cukup sabar menunggu,” jawabnya sekenanya.

    ”Apa kamu bisa sabar menghadapi kegagalanmu ini.”

    ”Ini kejadian luar biasa. Kamu tahu, kan, saya belum pernah gagal?”

    ”Lalu kenapa bisa gagal?”

    ”Ini misteri. Seratus prosen kecelakaan. Sungguh mati saya sedih. Saya bayangkan seandainya pacar saya yang hilang, hancur hati saya.”

    ”Nah, kamu ngrasain, kan!”

    ”Tolong kasih nasihat, saya harus bagaimana.”

    ”David! Kamu itu guru. Tak pantas kamu minta nasihat.”

    ”Saya mati kutu.”

    Ini cerita musim panas yang brengsek di Amerika ketika saya dan Cindy Kimberley piknik di Patung Liberty, New York (jauh sebelum peristiwa 11 September 2001). Gantian kami gendong-menggendong di pelataran patung itu sebelum kami masuk dan menaiki tangga ke atas menuju ke tangan patung yang mengacungkan api nan tak kunjung padam itu. Karena capek, kami tertidur dan bangun-bangun sudah malam. Dari dalam mahkota patung itu kami melongok, alangkah elok malam musim panas di New York dari ketinggian yang penuh. Bintang-bintang rasanya balerina yang berayun-ayun. Lalu kami menghitung jumlah bintang-bintang yang bertaburan itu, yang rasanya mudah kami gaet itu.

    ”Berapa jumlahnya?” tanya saya.

    ”Tiga miliar dua ratus lima puluh tujuh,” jawabnya.

    ”Salah.”

    ”Betul, salah.”

    ”Ada bintang yang baru muncul.”

    ”Benar,” katanya. ”Yang baru muncul itu lima miliar,” lalu Cindy tersenyum sambil menggaet wajah saya dan menciumi mulut saya.

    Pagi harinya saya turun sendirian mencari apa saja untuk sarapan karena Cindy masih mau santai di dalam patung itu. Ketika saya kembali dengan beberapa gelang kue donat dan dua gelas kertas cappuccino, alangkah setengah mati kaget saya waktu menyadari patung itu tidak ada. Entah lenyap ke mana Dewi Kemerdekaan itu. Saya mati suri. Mematung dengan dua gelas cappuccino dan beberapa gelang kue donat yang berantakan di kaki saya. Beberapa saat lengang. Ruang dan waktu beku. Dimensi alam tumpang tindih. Udara persis cermin bergelombang. Tak sesuatu pun bisa ditangkap. Warta berita jadi bohong semua. Air laut sekitar berganti-ganti warna. Dan cuaca tumpang tindih bagai Kamajaya-Kamaratih.

    Lalu bergegas dua orang, lelaki dan perempuan, melintas di depan saya sambil ngedumel penuh penyesalan. Si lelaki lalu diam berdiri tegak sambil merentangkan tangannya menghadap fondasi patung itu. Agaknya ia sedang mengerahkan seluruh tenaganya, sementara si perempuan berlutut di dekatnya sambil menggenggamkan kedua telapak tangannya erat-erat di dadanya.

    Kemudian setelah beberapa saat lamanya dengan berlelehan keringat di keningnya, si lelaki itu terkapar menatap angkasa, lalu si perempuan memeluknya dengan tangis sesenggukan. Dengan langkah kaki yang berat, saya menghampiri lelaki itu dan menatap wajahnya, sadarlah saya ketika mengenali wajah yang sangat termasyhur di dunia, David Copperfield, si ilusionis itu. Ada apa, kenapa ia terkapar, apa ia perlu pertolongan.

    Apa saya bisa menolong?

    Ia lalu bercerita kepada saya, untuk menyenang-nyenangkan pacarnya, Lilly ”Jaguar” Carbonero, David melenyapkan Patung Liberty itu ketika sedang piknik mengitari patung itu. Ternyata ia tidak mampu memunculkan kembali patung itu meski sudah berusaha keras dalam waktu yang cukup lama.

    ”Kamu gila!” bentak saya kepadanya sambil mencekiknya.

    David kaget setengah mati sambil berusaha melepaskan cekikan saya, sementara pacarnya mencekik saya dari belakang.

    ”Aduuh, Lilly! Kukumu menghunjam leher saya,” teriak saya.

    ”Lepaskan tanganmu dari leher David!” teriak Lilly si Jaguar.

    Lalu saya melepaskan cekikan saya atas leher David yang terbatuk-batuk sambil menjauh. Lilly memeluknya sambil menciuminya. Sedang leher saya berdarah dibalut sumpah-serapah saya dalam bahasa Jawa supaya saya puas. Lilly Carbonero benar-benar jaguar yang garang.

    Waktu saya kasih tahu bahwa Cindy, pacar saya, berada di dalam patung itu, David kaget setengah hidup, terloncat sambil merentangkan tangannya ke udara, lalu mengentak-entakkan kakinya ke tanah sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

    David lalu memejamkan matanya, tubuhnya terkapar, agaknya ia menyesali dirinya, sementara Lilly memeluknya. Saya menjauh. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Rasa marah, penyesalan, sedih dan bingung, berkecamuk jadi satu. Di mana gerangan Cindy saat ini? Apakah dia juga kebingungan mencari jalan untuk bisa kembali ke dunia nyata? Tiba-tiba di kawasan itu berkumpul seluruh staf pertunjukan David, sekitar lima puluh orang jumlahnya. Rupanya David memanggil mereka. Sejumlah kendaraan, mobil-mobil berat, juga ambulans, van, peralatan lengkap, termasuk korden yang sangat luas dan besar, dan sebuah helikopter. Malam yang panas itu mengucurkan keringat oleh gebrakan orang-orang yang lalu lalang bekerja keras. Tak dinyana, berduyun-duyunlah orang berdatangan menonton. Sekian regu polisi sibuk mengatur supaya para penonton tidak mendekat.

    Kemudian David menutup udara di atas fondasi patung itu dengan korden yang sangat besar yang direntang oleh helikopter itu. Sesaat David merentangkan tangannya ke angkasa, lalu helikopter itu melepaskan korden yang dijinjingnya dan… alhamdulillah, Patung Liberty itu muncul kembali magrong-magrong di langit New York yang malam itu biru bersih dipenuhi bintang-gemintang yang kerlap-kerlip cemerlang ikut gembira. Serta-merta saya berlari ke arah patung itu, masuk ke dalamnya yang diikuti David dan Lilly.

    ”Cindy!” teriak saya sambil menoleh ke sana kemari.

    ”Cindy!” teriak David.

    ”Cindy!” teriak Lilly.

    Saya terus berlari ke atas.

    ”Cindy! Cindy! Cindy!” teriak kami bertiga.

    Sesampai di ruang mahkota patung itu, kami berkaparan ngos-ngosan seperti habis diburu macan. Tak juga ada Cindy.

    Kami bertiga jatuh sedih. Tidak hanya hati saya yang berkeping-keping, juga David sangat terpukul karena nama besarnya tak juga mampu menolong. *****

    Danarto, salah satu cerpenis terkemuka Indonesia. Ia melahirkan kumpulan Godlob, yang mengguncang jagat cerpen Indonesia pada era 1990-an. Tinggal di Ciputat, Tangerang Selatan.

    *)Those Lazy-Hazy-Crazy Days of Summer, dari lagu Nat King Cole

     
  3. 19:11

    Notes: 4

    Tags: Cerita

    Apakah Aku Orang yang Bahagia?

    Tulisan ini adalah karya Samuel Mulia. Terbit di Kompas, 19 Oktober 2014. Kamu?

    Di suatu sore, di sebuah kafe, sahabat saya curhat begini, ”Mas, aku mau nanya, ya. Menurut Mas, aku ini seorang yang bahagia enggak? Kata beberapa orang, saya ini tidak bahagia.”

    Tidak mengerti

    Beberapa jam setelah percakapan di atas, sesi curhat itu berubah menjadi sesi yang memaksa saya mengajukan pertanyaan yang sama. Am I a happy person? Kalau sudah ada pertanyaan semacam itu, kata-kata yang sederhana yang sering kali diucapkan dan terlihat sepele itu tiba-tiba membuat kelabakan. Tiba-tiba saya menjadi tidak tahu bahagia itu apa.

    Maka, inilah yang saya dapatkan setelah mencari artinya dari beberapa kamus online. Bahagia adalah feeling or showing pleasures or contentment. Having a sense of confidence in or satisfaction with a person or situation. Convenient. Fortunate. An event or situation characterized by happiness.

    Itu bahagia. Bagaimana yang tidak bahagia? Lawan kata bahagia itu dijelaskan sebagai sad sampai mengandung unsur unwilling.

    Saya membaca dan melihat adanya peperangan, perkelahian, mulai dari yang terjadi di tengah jalan sampai di dalam gedung parlemen, perbedaan pendapat yang menyulut hal-hal yang melarakan. Dalam keseharian hidup pun terjadi.

    Beberapa minggu lalu, sopir kantor saya dipalak dan berakhir dengan menjadi korban perampasan. Awalnya mau merampas mobil, tetapi berakhir dengan merampas SIM. Padahal ia yang merampas, yang telah melakukan kesalahan karena melawan arus jalan yang membahayakan.

    Hanya karena ia berbadan tinggi, tegap, dan suara yang lantang, sopir saya yang kurus kering kalah telak. Penjelasan yang diberikan dan maaf yang diucapkan mulut sopir saya tak bisa menahan kemarahan si perampas.

    Dan ketika sopir saya bercerita soal peristiwa naas itu kepada beberapa temannya, mereka mengatakan bahwa itu sudah sering terjadi. Itu sebuah modus dari sebuah kelompok kejahatan. ”Mereka sengaja membuat perkara, kemudian mengancam,” komentar teman-temannya.

    Melihat peristiwa itu, saya kembali kepada makna bahagia seperti penjelasan di atas. Orang yang bahagia adalah mereka yang mampu showing pleasures or contentment. Dalam tidak bahagia dijelaskan ada unsurunwilling, itu berarti menjadi bahagia ada unsur willing-nya.

    Perampok, peperangan, perkelahian, dan kepongahan adalah mereka yang belum mampu dan belum willingmenunjukkan rasa bahagia dan menjadi manusia yang bahagia. Disebut kelompok kejahatan, bisa jadi bukan sebuah kelompok orang yang melakukan kejahatan, tetapi sekelompok orang-orang yang belum mampu menunjukkan dan masih enggan menjadi bahagia.

    Mengerti dan memaknai

    Kalau saya katakan belum mampu dan belum mau, artinya mereka memiliki kesempatan untuk mampu dan mau di suatu hari. Maka, pertobatan menjadi sebuah bukti nyata bahwa seseorang mampu dan mau menjadi bahagia, bukan mampu dan mau menjadi orang baik setelah pernah menjadi orang jahat. Bahagia itu dasar utama untuk melahirkan kebaikan. Bukan baik yang menjadi dasar bahagia.

    Teman saya yang bekerja di sebuah butik jam tangan supermahal bercerita, beberapa kliennya sering sekali mengucapkan kalimat ancaman ketika tidak mendapatkan potongan harga. ”Kamu enggak tahu saya ini siapa?”

    Kata bahagia mengandung unsur fortunate dan having a sense of confidence in or satisfaction with (a person or situation). Kalau saja ia punya rasa percaya diri, kalau saja ia merasa satisfy dengan sebuah keadaan, yaitu tidak mendapat potongan harga, kalau saja ia menyadari ia adalah orang yang fortunate, yang artinya mampu membeli tanpa potongan harga, maka kalimat semacam itu tak akan pernah terlontar keluar. Hanya orang yang tidak bahagia yang mampu melahirkan ancaman. Apakah orang yang satisfy masih perlu mengancam?

    Katakan ia mendapat potongan harga setelah mengancam, apakah kemudian ia menjadi orang yang bahagia? Nah, saya pernah dalam situasi semacam itu. Maka di situasi itu saya sering salah menilai. Saya pikir saya bahagia. Padahal, setelah saya mendapat potongan harga, saya tetap menjadi manusia yang tidak bahagia.

    Mengapa? Tidak mendapat potongan harga adalah ancaman. Coba tanyakan kepada diri Anda sendiri, apa rasanya terancam? Bahagiakah Anda? Maka mendapat potongan harga setelah mengancam karena terancam adalah hanya sebuah bentuk keinginan memuaskan ego menjadi pemenang atas ancaman. Padahal, bahagia itu bukan sebuah perlombaan untuk menjadi pemenang, tetapi satisfaction with.

    Dulu, saya merasa friksi itu terjadi karena saya memiliki perbedaan pendapat, perbedaan latar belakang, perbedaan nilai, dan sejuta alasan lainnya dengan orang lain. Saya merasa perbedaan sebagai biang kerok terjadinya friksi.

    Setelah saya tahu makna bahagia, maka friksi tak akan pernah lahir dari sebuah perbedaan. Ia lahir karena saya dan orang yang berseberangan dengan saya enggan menjadi bahagia. Selain enggan, kami tidak percaya diri. Oleh karenanya, kambing hitam patut diciptakan. Dan, kambing yang hitam itu adalah perbedaan.

    Manusia yang bahagia tidak akan memaksa, tidak mengancam, dan tidak melarakan sesamanya. Rasa bahagia itu yang melahirkan dan memaknai pengertian akan sejuta perbedaan.

     
  4. Anonymous said: i LOVE your writing. honestly i'm a fan of yours. i always wait for your next word-of-art which i rarely found on your blog. so please keep writing more often. i'm looking forward to read those! :)

    terimakasih atas dorongan yang kamu berikan. “itu sungguh berarti”. “berarti”, dalam frase tadi memiliki arti “bermakna” atau “bernilai” :) malah jadi membahas kata. oh iya, mohon maaf atas “kemenungguan” yang saya buat untukmu. menulis, untuk saya, tak pernah mudah. menulis, terutama di media yang bisa dibaca publik, bukan hanya sarana berekspresi bagi saya, tetapi juga untuk menciptakan impresi tertentu. nah, karena maksud-maksud inilah banyak “saringan” yang saya ciptakan sendiri saat memulai menulis hingga mengunggahnya ke laman ini. duh, malah menyampaikan justifikasi.
    apapun, salam.

     
  5. All right consists solely in the restriction of the freedom of the others.
    — Immanuel Kant
     
  6. 20:08 19th Oct 2014

    Notes: 1

    Anonymous said: halo bang, mau nanya. kira-kira buku "Cinta di Ujung Jari" masih bisa dipesan gak ya? terima kasih bang

    coba ditanyakan dengan mention @nayasaa di twitter-nya. semoga masih ada :)

     
  7. Membunuh Faraday

    Hidup yang tenang adalah hidup dengan kepercayaan bahwa dunia berjalan dengan baik. Berputar sebagaimana mestinya. Kita menyerap dengan sungguh-sungguh ajaran yang disampaikan orang tua dan guru sewaktu kecil dahulu: rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya, malas pangkal bodoh, boros pangkal miskin. Begitulah kita dibesarkan. Kita tumbuh berkembang dalam iklim pengasuhan yang percaya bahwa semua orang mendapatkan apa yang pantas untuk mereka. Pendek kata, hidup yang adil memang benar-benar berlangsung di sekitar kita.

    Kepercayaan kita bahwa tiap orang mendapatkan apa yang ia usahakan tentu saja membantu kita keluar dari hidup yang serba tidak pasti. Dalam pandangan kita, ikhtiar yang cerdas dan semangat yang sungguh-sungguh pastilah jalan yang tepat untuk mencapai titik tujuan.  Hanya saja, di sinilah pokok masalahnya. Dalam pikiran seperti ini, realitas kita lihat hanya selapis. Kausalitas yang kita bangun hanyalah terkait kualitas seorang manusia dan hasil yang ia dapatkan. Orang baik akan mendapatkan yang baik, yang buruk akan mendapatkan yang buruk, selesai perkara. Dalam benak kita, dunia yang sedang kita jalani ini tak ada infrastruktur ataupun suprastruktur.

    Asumsi sebab-akibat satu lapis ini selain mempertahankan rasa aman karena adanya kepastian, tanpa kita sadari juga membawa kita ke arah yang agak mengkhawatirkan. Kita jadi begitu mudah mengeluarkan semacam tuduhan untuk manusia yang menjadi korban nasib sebagai jenis manusia yang lemah lagi cengeng, tak punya gairah hidup, gagal bersaing dalam iklim kompetitif dewasa ini. Dalam pandangan kita, orang-orang yang mendapatkan jalan hidup yang buruk, tak lain tak bukan disebabkan oleh mereka sendiri. Tak ada waktu untuk penjelasan yang lain-lain. Tambahan penjelasan hanya akan kita anggap usaha untuk tidak mengakui kesalahan diri sebagai sebab dari hidup yang buruk tadi. Justifikasi.

    Suatu hari bertahun-tahun yang lalu, saya menangis tersedu-sedu. Bukan karena ayah saya tak membelikan sepeda motor model terbaru. Bukan pula karena ibu melarang untuk mulai mendekati perempuan yang saya sukai. Hari itu saya gemetar, hidup yang adil, yang semula tertancap kuat di benak saya, perlahan keluar.

    Ini tentang salah seorang sahabat terdekat saya. Kami saat itu, semacam duet anak kampung yang sudah saling mengerti satu sama lain. Saat sedang bermain bola di kampung sana, jika saya sayap kanan, ia pasti beroperasi di kiri. Jika saya mengirim umpan silang, pastilah kepalanya yang saya tuju. Jika mengirim umpan daerah, area kosong di depan saya berlarilah, bola ia arahkan. Saat musim hujan tiba, lapangan bola becek, orang-orang kampung mulai menebang pinang. Memotongnya di sana-sini. Jadilah dua tiang net yang berdiri kokoh di lapangan pasir dadakan. Setiap sore selalu saja ada, pertandingan diadakan di sana. Jika bukan bulu tangkis, pasti sepak takraw. Di dunia cabang inipun saya dan sahabat saya tadi selalu turut serta. Jika bermain bulu tangkis, kami selalu akan bermain ganda. Saya sebagai pemain bertipe menyerang, ia yang bertahan. Lain lagi jika sore itu kami bertanding sepak takraw, biasanya saya yang menjadi tekong, dan ia yang menjadi apit kanan, yang lebih banyak melancarkan serangan mematikan.

    Hanya saja, keunggulan sejati dari sahabat saya tadi bukanlah di dunia olah raga. Ia termasyhur sekampung raya karena tangannya yang begitu lihai dalam perkara seni. Berikan ia sabun mandi dan pisau, ia akan ubah itu menjadi benda cantik sekaligus wangi hanya dalam beberapa menit. Berikan padanya kepala anda, sisir dan gunting. Apapun potongan rambut yang anda inginkan akan anda miliki dengan bentukan yang lebih baik dari bayangan di pikiran anda sebelumnya. Berikan padanya selembar karton putih, palet, kuas, dan cat air, anda akan melihat lukisan pantai yang bisa menimbulkan rasa haru. Saya masih ingat, lukisan pantainya ini merupakan salah satu lukisan terbaik se-Sumatera Utara di kompetisi seni tingkat sekolah dasar. Itulah tangan sahabat saya, seniman sejati, betuah.

    Hidup yang manis berhenti ketika ia harus memutuskan tak meneruskan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Ia harus memilih, ia atau adik perempuannya yang melanjutkan sekolah. Semua uang tabungan dan beberapa petak tanah sudah lepas dari orang tuanya untuk pilihan ini. Tak ada opsi lain. Teman saya memilih pemberhentiannya. Saya memilih untuk gemetaran sendirian, merenung-renungkan hidup, menimbang-nimbang tentang keadilan.

    Lalu beberapa tahun kemudian, saya lagi-lagi sesenggukan. Perkaranya sungguh sentimentil. Hari itu Sekolah Bermain Matahari, sekolah pre-school Sabtu-Minggu gratis yang didirikan untuk mengisi kebutuhan anak-anak di bantaran sungai Ciliwung sekitaran jalan Kapuk, sedang kedatangan tamu-tamu. Mereka adalah para dokter gigi muda lengkap dengan jas putihnya yang menawan. Sesi itupun datang. Pertanyaan itu pun akhirnya dihamburkan, “siapa yang besarnya mau jadi dokter?” Beberapa mengacung tangan dan maju ke depan. Adik-adik kecil tadi pun diminta mencoba menggunakan jas-jas putih itu. Saya gemetar. Akankah mereka akan benar-benar dapat menggunakan jas putih nan gagah itu kelak.

    Adakah hidup yang adil untuk mereka. 

     
  8. 11:19 17th Oct 2014

    Notes: 14

    The first lesson of economics is scarcity: there is never enough of anything to satisfy all those who want it. The first lesson of politics is to disregard the first lesson of economics.
    — Thomas Sowell, US economist