1. 19:33 17th Jul 2014

    Notes: 16

    Tags: Religius

    #fatwakhyar jilid 28

    146. Judul poster itu “Jadwal Imsakiyah”, tetapi hal pertama yang kita lihat dan ingat kapan Maghrib tepatnya tiba.

    147. Saat Rsemua menjadi islami, dari pakaian bermerk luar negeri hingga rak toko buku, yang tidak hanya majalah dewasa.

    148. Demokrasi ini ramai karena orang yang tak paham benar beda sampel dan populasi pun diizinkan ikut lantang berbicara

    149. Setelah sibuk dengan satu atau dua, mari kita beranjak ke (sila) tiga: Persatuan Indonesia.

    150. Kita telah memilih presiden yang menurut kita paling baik, namun masih harus memilih serius atau tidak menjalani Rini.

    151. Duka pada derita masyarakat Palestina karena rasa kemanusiaan bukan rasa seagama, tak menjadikan duka itu lebih tinggi nilainya.

    152. Kita mesti bertanya apakah keriuhan dalam mempersoalkan hitung cepat pemilu membuat kita lalai menghitung cepat dosa dosa kita.

    153. Bani Israil yang diceritakan di dalam Al Quran dan Israel sebagai negara adalah entitas yang berbeda.

    154. Rditinggalkan hiburan pengiring sahur dan buka: Pilpres dan Piala Dunia, tanda kita harus fokus sebenarnya pada Tuhan..

    155. Kadang bukan bertaburannya pahala di Ryang kita rindukan, tetapi diri kita yang lain, yang begitu dekat dengan Tuhan. .

     
  2. 19:22

    Notes: 11

    Tags: prosa

    Pacar Pertama

    Cerita pendek yang sangat manis ini adalah karya Vika Wisnu.Terbit di Kompas, 13 Juli 2014. Pelan-pelan membacanya, rasakan desir-desir romantisnya.

    Kebun belakang rumah peninggalan Mas Amal menghadap ke sebuah empang kecil. Dulu, di seberang empang itu belum dibangun perumahan, kanan kirinya masih sawah. Dengan begitu, hampir setiap sore kami bisa menyaksikan matahari ”angslup”, tenggelam, bulat badannya habis ditelan pematang.

    Sepuluh tahun setelah peringatan seribu hari suamiku itu, sebuah pengembang menguruk tanah becek tempat bulir-bulir padi berasal dengan komposit perkerasan, lalu membangun di atasnya kluster-kluster yang menyusun sebuah ekosistem baru bernama kota mandiri. Matahari masih terbenam di tempat yang sama, hanya saja kini lebih menyerupai kartu pos berwarna oranye pucat—yang biasa Mas Amal beli untuk menulis jawaban teka-teki silang, dan pagar batako yang memagari kawasan itu menjadi garis bibir bis surat raksasa.

    Empangnya masih ada, suamiku membelinya. Dalam wasiatnya tertulis, ”Danau kecil ini kado ulang tahun buatmu, Sita. Maafkan aku tidak bisa menemanimu lebih lama.”

    Ia meninggal karena kanker, pada hari ulang tahun pernikahan kami kedua belas, tepat di umurku yang ketiga puluh dua. Seingatku sejak itu, lebih dari sepuluh kali, bolak-balik orang suruhan perusahaan properti  merayuku agar menjual tanah berkolam itu, setiap tahun nilai tawarannya selalu meningkat. Barangkali, tanpa empang itu, peta lokasi real estat-nya jadi kurang sempurna karena ada garis menjorok bila dilukiskan di atas kertas brosur. Atau mungkin ada emas di dasar genangan airnya bila digali sehingga pengembang mau menebusnya dengan harga sangat tinggi. Entahlah, yang jelas aku bersikeras tak melepasnya untuk nominal berapa pun. Dan tampaknya mereka sudah merekrut insinyur yang lebih pintar, yang ahli merencanakan site plan untuk kondisi lahan apa pun.

    Belakangan, datang seorang lelaki berkulit legam, memintaku mengizinkannya menebar benih mujair di sana dan merawat tanaman di sekelilingnya, sekadar sebagai kenangan di masa lalu bahwa sebidang tanah itu pernah jadi miliknya. Aku tak keberatan karena bekas tuan tanah itu pun tak keberatan menjadi tukang kebunku. Diko—anakku semata wayang—dan  Adrian, sahabatnya, senang sekali bermain di sana. Pak Us, demikian kami memanggilnya, mengajari mereka memancing, tapi dia akan mengamuk dan mogok bicara bila kedua bocah itu melakukan hal yang dilarangnya dengan keras: berenang di sana. Bagi Diko dan Adrian, hal itu kemudian menjadi tantangan tersendiri, bagaimana bisa berenang sepuas-puasnya tanpa Pak Us mengetahui. Ingatanku masih merekam tawa gaduh mereka saat menyadari Pak Us tak semudah itu dikelabui.

    Di kebun belakang ini aku biasa menghabiskan waktu menulis, memeriksa naskah soal dan hasil ujian mahasiswa, mengeringkan daun-daun herbarium, memanggang sosis untuk pesta kebun Diko, dan—dulu, dulu sekali—membantunya  memasang pasak tendabackyard camp bersama teman-temannya hampir tiap akhir pekan. Di sini aku duduk-duduk menunggu sunset show, kadang bersama Diko, adakalanya bersama ibu-ibu tetangga arisan PKK, lain waktu bersama kolega-kolegaku. Di sini pula setelah bocah-bocah itu beranjak remaja aku biasa mendengarkan cerita-cerita Diko dan Adrian tentang gadis-gadis yang mereka incar, ada beberapa yang nyaris jadi pacar, ada pula yang mati-matian menghindar. Kukatakan, ”Bodoh sekali gadis-gadis itu menampik pemuda setampan kalian.”

    Diko tersipu, Adrian terbahak. Ia meniru Diko memanggilku Mama, bukan dengan sebutan ”tante” seperti umumnya. Sebagai sahabat, Adrian tahu banyak tentang rahasia Diko, dari Adrian juga seringnya aku mendapat informasi kepada siapa anak jejakaku itu jatuh cinta atau karena siapa ia patah hati.

    Kebun belakang dengan danau kenang-kenangan Mas Amal itu menjadi saksi saat Diko berikrar menikahi Putri. Kami mengundang tak lebih dari seratus tamu, dan seorang kerabat mendekorasi setiap sudutnya sehingga menjelma suasana ijab kabul yang syahdu. Aku menitikkan air mata, dengan macam-macam rasa pada setiap tetesnya. Bahagia dan terpesona karena akhirnya aku sampai pada tujuanku mengantarkan Diko jadi ”orang”. Tidak mudah bertahan hidup sebagai orangtua tunggal meski sejujurnya lebih berat menyandang sebutan janda. Sedih dan cemas karena membayangkan setelah resepsi yang berkesan itu aku akan melewati hari-hariku seorang diri. Diko telah menandatangani kontrak dinas dengan perusahaan yang menerimanya bekerja untuk bersedia ditempatkan di mana saja, dan seminggu sesudah pernikahannya ia dan istrinya sudah harus berada di Samarinda.

    Di kebun belakang itu juga di suatu pagi yang tanggung, bulan Februari ulang tahunku yang keempat puluh tujuh, Adrian berkunjung. Tak bermaksud mencari Diko, Adrian khusus membawakanku seikat bunga yang disimpannya di balik punggung. Aku sedang mengikis lumut di pot batu, takjub menerimanya, diulurkannya kepadaku dengan gaya berlutut yang jenaka. Kelopak-kelopak mawar sekonyong-konyong mekar, kebun belakang yang di hari-hari itu hanya berisi celotehan Pak Us dan Sarmilah tukang masak yang setia sekejap menjadi ceria. Adrian ikut tersenyum lebar, ikut bahagia. Seolah kurang cukup, ia menambahkan, ”Sita, maukah kau menikah denganku?”

    Aku terpingkal, kuacak-kacau rambutnya. Kuingatkan bagaimana kusemprotkan air keran ke tubuhnya dan tubuh Diko yang penuh lumpur, tergelincir saat menyusuri pematang sawah dengan berboncengan sepeda. Adrian teringat belum berterima kasih kuurut engkelnya yang keseleo gara-gara Diko kebablasan mendorongnya hingga terjatuh dari pohon mangga. Kami bernostalgia, tentang murkaku saat menangkap tangan mereka berdua mengisap berbatang-batang sigaret di kamar, tentang permintaan ayah ibunya menjelang kenaikan kelas lima, agar kedua karib ini dikhitan pada tanggal yang sama.

    Sependek yang kuingat, sejak hari itu pula kebun belakangku berubah warna. Mendung membuat pertunjukan matahari terbit terhalangi, cerah langit pagi  jadi tak tergenapi. Sepanjang percakapan, Adrian terus-menerus memanggilku Sita, bukan Mama seperti biasanya. Memakai gayanya bercanda kutegur pemuda kawan seiring anakku itu agar kembali sopan, tapi air mukanya berubah setenang permukaan empang. Tak ada yang berloncatan, benih mujair baru ditanam kemarin lusa, yang gemuk-gemuk sudah dipanen seminggu sebelumnya. Adrian menjelaskan, ia tak bermaksud kurang ajar.

    ”Sita….” bersikukuh ia, suara bocahnya tak bersisa. Baru kusadari yang berbicara di hadapanku ini kini adalah seorang lelaki yang telah matang sempurna. Kurisan cambang membentuk garis rahangnya, dadanya setegap serdadu, tulang hidung yang lurus telah membangun keseluruhan profil wajahnya yang tak lagi lugu.

    ”Gadis-gadis itu tak pernah menolakku,” katanya kemudian. ”Aku menjauhi mereka.” Kudengarkan setiap katanya dengan saksama, ”Karena kau.”

    Kepada anakku, murid-muridku, mahasiswaku, kuajarkan kesantunan dan budi pekerti, adalah tak berhati mempersetankan kalimatnya dalam suasana semacam ini. Aku takut membuat hatinya mengecil, mengerut, menciut. Kutepuk pundaknya. ”Adrian,” kutatap matanya. Nadaku tak berbeda dari saat-saat wajah keruhnya semasa SMA merajuk minta ditanya. ”Cerita sama Mama, ada masalah apa?”

    Tak kusangka, berpendar darinya sorot kecewa. ”Mungkin ini aneh, buatmu.” Digesernya bangku kayu dan duduk sebelahku. ”Tapi aku tidak punya cara yang lebih baik untuk menyampaikannya.”

    Lalu dari mulutnya tersusun narasi, sinopsis yang tidak terlalu rapi. Deras dan berlompatan seperti percikan hujan di atas genangan. Aku tak tahu bagaimana mulanya, aku sudah berusaha melawannya, mencoba jatuh cinta kepada gadis lain dengan berbagai cara, tapi akhirnya aku toh tidak bisa membohongi diriku sendiri, aku jatuh cinta kepadamu. Bahunya yang dulu kerempeng kini telah melebar dan pejal, lengannya yang dulu sebatang lidi telah mengembang seakan bisepnya ditaburi serbuk ragi, menunduk ia sampai wajahnya terbenam. ”Maaf, Sita. Maafkan aku.”

    Perlu sementara waktu bagiku untuk memahami. Di kebun belakang itu pada hari-hari berikutnya aku menginterogasi diri, apa yang telah kuperbuat selama ini? Apa salahku berperilaku? Adrian tak pernah datang lagi sejak peristiwa pagi itu. Entah dia menganggapnya sebagai suatu kekeliruan ataukah dia terlalu malu. Ibunya sesekali bertandang membawakanku roti buatannya sendiri. Selang sebelas bulan, lewat surel ia berkabar sedang berada di New York. Lamarannya diterima PBB. Lembaga itu memberinya kontrak panjang di divisi logistik setelah masa percobaan menyiapkan perbekalan pasukan misi perdamaian di Afghanistan dinilai baik. Adrian tak pernah membicarakan lagi perasaannya, tak lagi menyinggung soal hatinya. Hanya sejak pertama sampai e-mail terakhir yang kuterima, sebagai pembuka selalu dituliskannya:Dear Sita.

    Di kebun belakang selepas siang biasanya aku menulis balasan, kuceritakan tentang kepindahan Diko dan Putri ke Papua, anak-anak mereka— cucu-cucuku yang lucu-lucu, tentang mosaik batu kali pengganti paving stone yang kutambahkan di kebun belakang, di jalan setapak menuju empang, tentang hari-hariku menjelang pensiun. Subuh tadi, Adrian menelepon akan pulang bulan depan. Dengan Diko ia bersepakat akan merayakan ulang tahunku dengan pesta kebun, seperti dulu.

    Di kebun belakangku akan kembali ada pesta! Aku tertawa, aku tahu alasan sesungguhnya. Dari Diko kudapat berita ia akan datang bersama calon istrinya seorang mahasiswa Indonesia yang melanjutkan pascasarjananya di Amerika. Entah mengapa, di dadaku terselip perasaan  asing selain yang telah kukenali sebagai lega. Dan satu bulan adalah waktu yang sangat singkat. Tahu-tahu kebun belakangku telah penuh bunga.

    ”Apa kabar, Sita?” Adrian menunduk. Bibirnya di punggung tanganku yang mulai kisut. Kuusap rambutnya,  perlahan dan serta-merta dibawanya telapakku ke pipinya, hangat.

    ”Diko baru besok akan tiba,”  kataku.

    ”Aku datang terlalu cepat?” suaranya telah bertambah timbre, lebih berwibawa. Dan aku tetaplah ibu yang bijaksana. ”Kau datang tepat waktu. Lasagnanya sudah matang.”

    Kutirukan isi telepon Putri, hujan badai, cuaca buruk, penerbangan dari Jayapura semua ditunda.

    Adrian lalu bercerita tentang berbagai hal, seperti sinterklas menuang hadiah Natal dari buntelan.

    ”Berapa umurmu?” tanyaku ketika ia mulai nampak kelelahan.

    ”Seratus tahun,” jawabnya asal. ”Setua apa seharusnya seorang pria bisa mempersunting seorang gadis?”

    Aku tertawa. ”Entahlah, aku bukan seorang gadis.”

    Matanya membening, seperti berlapis kaca. Diko pasti sudah memberi tahunya, seperti Mas Amal, rupanya kanker menggerogotiku juga.

    ”Stadium empat,” kataku menghiburnya. ”Tapi aku tidak akan mati.”

    ”Memang tidak,” jawabnya tangkas. ”Tidak sebelum kau jadi istriku.”

    ”New York penuh wanita cantik, bukan?”

    ”Aku ke New York untuk bekerja.”

    ”Adrian, apakah aku harus memilihkan pengantinmu?”

    ”Jangan cerewet. Dokter bilang kau harus banyak istirahat.”

    ”Kapan kau kembali ke New York?”

    ”Juni mungkin, atau Juli. Aku memperpanjang cuti.”

    ”Apakah aku akan mati secepat itu?”

    ”Apakah kau berencana mati sebelum aku?”

    ”Kau sakit apa?”

    ”Aku tidak sakit. Tapi aku bisa mati juga sewaktu-waktu.”

    Aku mendengar Adrian menyebut nama Ailin. Seorang gadis yang bersedia menerima segala kekurangan dan kelebihannya, mengagumi kecerdasannya dan membantunya menertawakan kebodohan-kebodohannya. Seorang gadis yang memeluknya saat senang maupun sedih. ”Sita, aku mengkhianatimu.”

    ”Kau akan beristri, bukan berselingkuh.”

    ”Kau mau aku mengenalkannya kepadamu?”

    ”Aku lagi jelek.”

    ”Kau selalu cantik.”

    ”Tapi aku belum mandi….”

    ”Baiklah, nanti saja setelah kau siap ditemui.”

    Adrian membetulkan letak selimutku. Di kursi goyang panjang yang dihadapkan Pak Us ke arah empang itu aku biasa berbaring sepulang kemoterapi. ”Danau ini, dan kau,” kukatakan kepada Adrian, ”adalah kado ulang tahun terindah untukku.”  Jarak kami begitu dekat hingga kupikir aku sedang berbisik. Kulihat wajah Mas Amal yang tersenyum di wajahnya.

    Bersandar pada satu sisi gebyok yang menghubungkan ruang duduk dengan kebun belakang, Ailin memandangi seluruh sekuen. Hari itu pertama kali setelah lima tahun mengenal ia melihat pancaran yang berbeda di mata kekasihnya, seperti pelangi, cerah di antara hujan yang belum sepenuhnya reda.

    Ailin tidak mendekat, melihati saja dua manusia itu bertatapan, saling menggenggam. Daun-daun Heliconia bergesekan tanpa suara. Di antara Golden Shower yang berjuluran, sekelopak anggrek hitam mengembang lambat-lambat. Angin tenang, kurang dari satu jam lagi sunset show. Adrian pernah bercerita saat-saat menjelang matahari terbenam adalah saat-saat yang paling dinikmatinya setiap menghabiskan waktu di kebun belakang rumah Diko, sejak pertama mereka saling kenal, bahkan sampai bertahun-tahun sesudah sahabatnya itu direnggut kanker limpa ketika mereka sama-sama masih di bangku sekolah dasar kelas lima.

    Di depan kolam ikan yang di kanan kirinya terdapat nisan-nisan pualam, Adrian biasa berbaring tanpa alas di atas hamparan rumput gajah, merasai setiap helai rambutnya lembut dibelai, sembari mendengarkan roman-roman romantis yang seakan tak kunjung habis dari Sita, pacar pertamanya. Ailin membiarkan buliran air dari matanya bergelindingan tak terseka. Di kaki kursi goyang yang terus melambat ayunnya itu, Adrian bersimpuh, tersedu.

     
  3. 19:11

    Notes: 11

    Tags: Cerita

    Kedaluwarsa

    Tulisan ini adalah karya Samuel Mulia. Terbit di Kompas, 13 Juli 2014. Bagaimana kita melihat orang tua kita?

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kedaluwarsa berarti tidak model lagi (baju, kendaraan); tidak sesuai dengan zaman; sudah lewat (habis) jangka waktunya (tuntutan dsb); habis tempo; terlewat dr batas waktu berlakunya sebagaimana yang ditetapkan (makanan).

    Balas jasa

    Pada Jumat pagi menjelang tengah hari, saya menengok teman di sebuah rumah sakit yang suasananya saja makin membuat yang sakit bertambah sakit. Dalam obrolan yang singkat itu, saya menanyakan kepadanya, apakah orangtuanya tahu bahwa ia sedang dirawat di rumah sakit?

    Ia menjelaskan, kalau ia tidak memberi tahu mereka dengan alasan seperti ini. ”Kasihan, Mas. Aku enggak tega merepotkan mereka dan membuat panik mereka.” Saya sempat terdiam sejenak dan teringat kepada beberapa teman lain yang melakukan hal yang sama. Mereka menyembunyikan penderitaan dengan sejuta alasan, hanya untuk tidak membuat orangtua yang dicintai makin menderita.

    Kejadian di atas melahirkan berjuta pertanyaan. Dan, pertanyaan pertama yang timbul adalah apakah cinta kepada orangtua itu bentuknya melindungi orangtua dari merasa terganggu dan kepanikan?

    Apakah dengan cinta itu, teman-teman saya telah menciptakan masa kedaluwarsa sebuah tanggung jawab orangtua terhadap anak seperti makanan kaleng? Masa yang menurut saya tak pernah ada selama mereka hidup dan disebut orangtua.

    Apakah benar yang namanya orangtua itu, apalagi memang sudah tua, dan anak juga sudah dianggap tua dan dewasa, tidak selayaknya merepotkan dan membuat mereka panik? Apalagi kalau anaknya menjadi begitu kaya dan rayanya. Bagaimana kalau anaknya tidak kaya dan tidak raya? Apakah orangtua merasa menyesal karena masa kedaluwarsanya diperpanjang? Begitu?

    Artinya mereka mengharap bahwa anaknya memiliki pengertian yang begitu dalamnya untuk tidak mengkhawatirkan mereka sebagai sebuah imbal jasa dari semua pengorbanan yang telah mereka lakukan berpuluh tahun lamanya? Apakah ketika orangtua memutuskan memiliki anak, itu dengan tujuan untuk sebuah balas jasa?

    Apakah jawaban dan tindakan teman-teman saya itu didasari oleh perasaan hormat, atau kasihan, atau pengertian mereka sendiri untuk mengasihi orangtuanya, atau itu sebuah cermin dari hasil pendidikan orangtua, yang membuat anak selalu merasa perlu bertanggung jawab atas kehidupan orangtua di suatu hari kelak?

    Tanggung jawab

    Bagaimana kalau seandainya teman-teman saya tidak berpikir demikian? Apakah itu akan mengundang kekecewaan yang sangat sebagai orangtua? Bukankah kalau dua orang bersepakat menjadi orangtua, itu berarti mereka bersepakat mengundang masalah dan kebahagiaan datang dalam hidup mereka?

    Itu berarti, mereka telah menyadari sepenuhnya dari sejak awal bahwa ada tanggung jawab tanpa masa kedaluwarsa dari apa yang mereka sepakati itu, bukan? Bahwa ada kemungkinan yang mereka sepakati itu bisa jadi tidak sesuai seperti yang mereka dambakan dan mengecewakan.

    Apakah hal-hal semacam ini terbesit di benak mereka sebelum anak hadir dalam kehidupan mereka? Kalau mereka menyadari, mengapa ada anak sampai bisa memberi pernyataan seperti teman saya itu? Apakah itu hanya anaknya yang sok bijak?

    Bagaimana cara dan dasar apa yang dipakai orangtua untuk mengeksekusi kesepakatan yang sejak awal tak pernah melibatkan anak? Pengertian, egoisme, kasih sayang, atau campuran ketiganya atau ada unsur lainnya yang tak saya ketahui?

    Kalau saya kembali kepada kasus di atas, apakah pernyataan teman-teman saya untuk tidak berkeinginan membuat orangtua panik dan merepotkan adalah sebuah bukti kekuasaan yang dieksekusi dengan tiga unsur di atas? Atau hanya salah satunya?

    Apakah membungkam kepanikan dan kerepotan dari orangtua akan menjadikan seorang anak itu saleh, bijaksana, dan menjauhkan mereka dari predikat anak kurang ajar, tak tahu diri, dan menjadikannya sebagai anak idaman orangtua, dan idaman orang lain seperti saya yang mendengar pernyataan di atas? Apakah itu yang artinya menghormati orangtua?

    Kalau teman saya tidak menceritakan kondisi sesungguhnya karena itu akan mengkhawatirkan orangtua, apakah itu berarti bahwa ada masanya kebohongan itu dianggap sebuah kebenaran? Jadi berbohong untuk sebuah kebaikan tidak dianggap keliru, apalagi kalau bersangkut paut dengan orangtua. Begitu?

    Sambil melangkah keluar dari rumah yang sungguh menyakitkan itu, saya berpikir keras, sungguh keras. Kalau teman-teman saya memiliki pengertian yang begitu dalamnya terhadap orangtua, apakah itu sebuah tindakan mengambil alih predikat orangtua?

    Jadi predikat orangtua itu bisa digilir seperti piala, tak perlu harus ayah dan ibu, tetapi anak pun suatu hari bisa menjadi orangtuanya orangtua. Saya sungguh tak tahu karena tak pernah menjadi orangtua, maka saya mengajukan sejuta tanya, tanpa berniat menghakimi.

    Satu pertanyaan lagi yang tersisa. Apakah menjadi orangtua itu memang seyogianya tidak untuk semua orang? Sehingga mereka yang terpaksa, mampu melahirkan dan mendidik anak seperti teman saya itu?

     
  4. Gaza

    Terbit di Kompas, 13 Juli 2014. Tulisan yang dapat membantu kita, betapa berat beban yang ditanggung wilayah sekecil Gaza.

    Gaza adalah tragedi. Tragedi kemanusiaan. Dari hari ke hari, dari waktu ke waktu, cerita tentang Gaza (Jalur Gaza) adalah cerita tentang penderitaan, tentang kesengsaraan penduduk wilayah itu. Inilah wilayah yang sering disebut sebagai ”penjara terbesar dan terpanjang di dunia”.

    Begitulah sesungguhnya kenyataan dari sebuah wilayah yang disebut Jalur Gaza, yang berluas 365 kilometer persegi: panjang 40 kilometer, lebar 13 kilometer (terlebar), dan 5 kilometer (tersempit). Sejak tahun 1967, setelah berakhirnya perang, Israel menguasai wilayah darat, laut, dan udara Jalur Gaza.

    Bagian barat Jalur Gaza berbatasan dengan Laut Tengah yang dikuasai Israel, sebelah utara dan timur berbatasan dengan Israel, dan sebelah selatan berbatasan dengan Mesir. Jalur Gaza bagaikan sepotong ”sandwich”. Wilayah itu dikelilingi tembok atau pagar pembatas, pos-pos pemeriksaan yang dibangun Israel, dan zona penyangga yang dimaksudkan untuk mencegah orang-orang Palestina, terutama yang oleh Israel dikategorikan sebagai para pengebom bunuh diri, masuk ke wilayah Israel.

    Sangat wajarlah kalau suasana ”claustrophobia”, rasa takut akan ruangan yang sempit dan tertutup, selalu membayangi penduduk Jalur Gaza. Penduduk Gaza berjumlah sekitar 1,6 juta orang pada waktu itu. Baru pada tahun 2005, Israel mengendurkan pengurungannya dan menarik pasukan penduduk serta warganya dari wilayah permukiman di Jalur Gaza.

    Akan tetapi, pengenduran pengurungan itu tidak berlangsung lama. Setelah Hamas memenangi pemilu parlemen, Januari 2006 (merebut 76 dari 132 kursi di parlemen), Israel memblokade lagi Jalur Gaza. Blokade ini menghancurkan perekonomian Gaza, membatasi gerak penduduknya, dan berdampak negatif terhadap kemampuan rakyat biasa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari karena mereka terbatas gerak dan aksesnya.

    Blokade itu berlangsung selama lima tahun. Akibatnya sangat nyata: 34 persen angkatan kerja Gaza, yang separuhnya anak-anak muda, menganggur. Karena hampir 30 persen bisnis di Gaza tutup dan 15 persen lainnya terpaksa merumahkan 80 persen tenaga kerjanya. Kebutuhan air, listrik, dan bahan bakar sangat bergantung pada pasokan dari Israel.

    Di tengah blokade itu, pecahlah Perang Gaza, 27 Desember 2008-18 Januari 2009. Perang ini semakin meluluhlantakkan Gaza: 4.000 rumah hancur, 50.800 orang mengungsi, 1.417 orang tewas, 5.303 orang terluka, dan 120 orang tertangkap. Banyak fasilitas umum dan infrastruktur hancur, termasuk gedung-gedung sekolah dan rumah sakit.

    Ketika pecah perang, 52 persen dari 1,6 juta penduduknya adalah anak-anak di bawah usia 18 tahun. Mereka inilah yang hidup di bawah kungkungan, tekanan, kekhawatiran, dan yang hidupnya selalu terancam, selalu dalam kecemasan. Kini, mereka sudah berusia 20 tahunan. Mereka ini pula yang akan menjadi pemimpin Gaza pada masa depan.

    Kondisi tempat mereka lahir, tumbuh, dan berkembang akan sangat memengaruhi sikap mereka. Bagaimana mereka melihat dan mengartikan perdamaian. Ini penting sebab perdamaian lewat perang tidak akan mampu membangun perdamaian sejati. Sebab, perdamaian adalah persoalan dasar manusia, terlebih untuk menanggapi tendensi dasar kekerasan yang tidak jarang tumbuh kuat dalam naluri manusia: homo homini lupus….

    Sulit membayangkan akan menjadi seperti apa Gaza dan manusia-manusia Gaza pada masa depan jika Israel tetap mengumbar tabiat angkara murkanya seperti sekarang ini.

     
  5. Krisis dan Kesadaran Nasional

    Ditulis oleh Iwan Santosa. Terbit di Kompas, 13 Juli 2014. Tulisan ini mencoba melihat bagaimana dampak Perang Dunia I di wilayah Nusantara.

    image

    Kepulauan Nusantara atau Hindia Belanda menjadi pihak netral mengikut negeri induk Kerajaan Belanda semasa Perang Dunia I (1914-1918), terjepit di antara kekuatan Eropa yang berperang. Hindia Belanda menjadi ajang ”Perang Dingin” dari pihak yang berperang dan kesadaran politik bangsa jajahan.

    Pihak negara yang berperang, seperti Entente: Austro-Hongaria, Jerman dan Turki, serta pihak Sekutu Inggris, Perancis, Rusia, Italia, Jepang, dan Amerika Serikat, memiliki komunitas di Hindia Belanda yang hidup dalam berbagai profesi. Banyak pegawai negeri (ambtenaar) Hindia Belanda memiliki latar belakang kebangsaan Inggris atau Jerman. Serdadu kolonial—KNIL—juga banyak berkebangsaan Jerman.

    Mereka juga memiliki hubungan erat dengan kelompok masyarakat serta organisasi di Hindia Belanda, seperti Syarikat Islam (SI), yang mengagumi Jerman-Turki karena semangat perlawanan terhadap kolonial. Menguatnya SI kerap membuat organisasi itu dijuluki golongan kolonial sebagai Salah Idenburg—merujuk pada keleluasaan yang diberikan Gubernur
    Jenderal AWF Idenburg—pada pergerakan politik di Hindia Belanda.

    Kondisi itu kelak turut memperkuat semangat perjuangan nasionalisme Indonesia yang untuk pertama kali ditulis Tan Malaka dalam tulisan Naar Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) pada 1920-an.

    Sejarawan KITLV Leiden, Kees van Dijk, dalam buku Hindia Belanda dan Perang Dunia I(1914-1918), menguraikan beragam kondisi Nusantara berikut dampak perang serta dinamika di masyarakat jajahan serta persoalan regional Asia Pasifik.

    Asia Pasifik seperti sekarang sudah terbagi dalam koloni dan pengaruh negara besar, seperti Jerman, Inggris, Perancis, Amerika Serikat, Jepang, Rusia, Portugis, Belanda, dan pengaruh budaya Turki Ottoman.

    Pada awal Perang Dunia I di Eropa-Afrika dan Asia, dinamika politik sedang bergejolak di Hindia Belanda dan Jawa, trio tokoh IP (Indische Partij-Partai Hindia), Douwes Dekker, Tjipto Mangoenkoesumo, dan Soewardi Soerjaningrat, sedang diberangus. Diedarkan pengumpulan dana TADO (Tot aan de Onafhankelijheid-Sampai Merdeka). Mereka diasingkan ke Belanda.

    Volksraad—semacam DPR Koloni—dengan tokoh Abdul Moeis dan kawan-kawan mulai diberi keleluasaan, janji politik dan berbagai iming-iming diberikan Belanda, yang menurut Van Dijk membuka beragam peluang, seperti Indie Werbaar (Pertahanan Hindia Belanda), melibatkan penduduk Bumiputera, Onze Vloot (Armada Kami), membangun armada laut yang kuat, program bantuan sosial-kesehatan, dan beragam dukungan bagi rakyat yang terkena dampak perang yang semakin membuat Hindia Belanda terjerat krisis ekonomi dan berbagai dampak dari konflik yang berkepanjangan. Pada akhir Perang Dunia I, seperti Eropa, flu Spanyol menjangkiti Nusantara, mengakibatkan 1 juta penduduk tewas. Penduduk Hindia Belanda kala itu 40 juta jiwa.

    Sejarawan Yayasan Nation Building, Didi Kwartanada, mengatakan, pada masa awal dan semasa PD I, banyak janji dan keleluasaan diberikan bagi pergerakan nasional di Hindia Belanda. Namun, begitu perang selesai, janji-janji tersebut diabaikan. Jauh sebelum itu pada pergantian abad, Belanda kalah terhadap Inggris dalam Perang Boer, Jepang mengalahkan Rusia dalam pertempuran Selat Tsushima 1905, sehingga membuat pihak kolonial khawatir kehilangan pengaruh.

    Semasa itu muncul gerakan Etis, yakni upaya balas budi Belanda terhadap koloni Hindia Belanda dengan mendidik masyarakat Nusantara agar mandiri dan bertahap bisa setara dengan Belanda (Eropa) terlibat dalam pemerintahan.

    Perkembangan politik tersebut yang kemudian berlanjut dengan dinamika gerakan SI, yang kemudian pecah menjadi SI Merah (lalu menjadi Partai Komunis Indonesia). Sejarawan Bonnie Triyana menjelaskan, salah satu pendiri PKI, selain Semaoen, Tan Malaka adalah Henk Sneevliet. Karena perjuangan Sneevliet yang pro buruh Bumiputera, Sneevliet diusir dari Jawa ke Belanda. Sneevliet adalah salah satu pendiri Partai Komunis Tiongkok (Gong Chan Dang) yang kini berhasil membangun Tiongkok.

    Semasa itu, kakak dari RA Kartini, RMP Sosrokartono, telah tampil di pentas dunia sebagai wartawan perang di front Eropa, meliput menyerahnya Jerman kepada Sekutu. Sosrokartono bisa dibilang wartawan perang pertama Indonesia!

    Perekonomian Hindia Belanda berantakan lantaran ekspor teh, kopi, gula, karet, kina, dan lain-lain mandek. Bahkan, menjelang akhir PD I, Hindia Belanda terjangkit flu Spanyol yang menyebabkan 1 juta jiwa tewas.

    Pada tahun-tahun pertama perang, para pebisnis masih optimistis, bisnis akan berjalan seperti biasa karena Entente dan Sekutu sama-sama membutuhkan pasokan bahan mentah dari Belanda yang netral. Ternyata semua tidak berjalan sesuai skenario. Bahkan, setelah PD I berakhir, dunia memasuki masa resesi akhir 1920-an dan awal 1930-an yang disebut Malaise atau dalam pemahaman penduduk Hindia Belanda disebut ”Jaman Meleset”.

     
  6. Genesis Tragedi Timur Tengah

    Tulisan ini adalah karya Trias Kuncahyono. Terbit di Kompas, 13 Juli 2014. Inilah asal-muasalnya…

    Siapa yang harus bertanggung jawab atas terjadinya konflik Palestina dan Israel, serta berbagai macam konflik lainnya, termasuk konflik etnis, di Timur Tengah? Jawabannya: Inggris dan Perancis!

    Zaman ketika Perang Dunia I berkobar, Perancis dan Inggris merupakan dua kekuatan besar dunia yang memiliki ambisi besar. Inggris, yang sudah menguasai Terusan Suez, berharap dapat menggunakan terusan itu untuk menggerakkan armadanya ke Timur.

    Apalagi, pada tahun 1911, tulis John B Judis dalam Genesis, perusahaan minyak Inggris menemukan minyak di Persia. Sejak itu muncul spekulasi, ada minyak di Mesopotamia. Itu sebabnya, Inggris berusaha mencari jalan untuk membawa minyak dari Timur ke Barat lewat Palestina.

    Sementara itu, lawan utamanya, Jerman, mulai membangun jaringan rel kereta api yang akan menghubungkan Berlin dengan Baghdad dan kota-kota pelabuhan di Teluk Persia.

    Pada saat yang hampir bersamaan, hubungan bisnis Perancis dengan kota-kota pelabuhan di Laut Tengah—Beirut, Sidon, dan Tirus—telah tumbuh dan berkembang. Karena itu, perlu sebuah kebijakan untuk mengamankan bisnisnya itu.

    Perjanjian Sykes-Picot

    Kondisi lapangan seperti itulah yang mendorong Perancis dan Inggris, setelah pecah PD I, merancang sebuah langkah untuk mengamankan kepentingan mereka. Hal itulah yang telah mendorong kedua negara mengadakan pembicaraan rahasia dan akhirnya melahirkan sebuah perjanjian di antara mereka yang disetujui oleh Rusia. Perjanjian yang kemudian disebut Perjanjian Sykes-Picot itu ditandatangani pada 16 Mei 1916. Disebut Sykes-Picot karena ditandatangani oleh Mark Sykes dari Inggris dan George Picot dari Perancis.

    Kesepakatan itu diambil setelah Perancis dan Inggris melihat Kekhalifahan Utsmaniyah (Ottoman) yang berpusat di Turki mulai goyah. Dalam PD I, Ottoman bergabung dengan Jerman. Ketika itu, Kekhalifahan Utsmaniyah dipimpin Sultan Mehmed V (berkuasa tahun 1908-1918), dan nantinya digantikan oleh Sultan Mehmed VI (1918-1922).

    Perjanjian Sykes-Picot, pada garis besarnya, berisi pembagian wilayah Kekhalifahan Utsmaniyah yang tengah memasuki rembang petang. Berdasarkan perjanjian itu, Perancis menguasai Suriah, Lebanon, dan Cilicia. Sementara Inggris mendapatkan wilayah yang sekarang bernama Jordania, sebagian Irak (termasuk Baghdad), serta Pelabuhan Haifa dan Acre.

    Sebagian besar Palestina dikontrol bersama oleh kekuatan Sekutu. Lembah Jordan ada di bawah pengaruh Inggris. Jerusalem di bawah administrasi internasional. Rusia mendapatkan sebagian Turki, termasuk Istanbul dan Selat Bosporus.

    Ada, paling tidak, tiga kepentingan strategis dari perjanjian ini. Pertama, pembagian Timur Tengah mengabadikan konsep tradisional sistem perimbangan kekuasaan Eropa. Karena, Inggris dan Perancis tetap khawatir munculnya kekuatan lain yang akan menggerogoti wilayah mereka, dan mereka melihat Jerman berpotensi untuk itu.

    Kedua, pembentukan negara Arab merupakan balasan atas revolusi Arab melawan Turki. Ketiga, dengan menguasai wilayah antara Terusan Suez dan Teluk Persia, Inggris mengamankan jalur laut ke India.

    Isi Perjanjian Sykes-Picot sebenarnya bertentangan dengan perjanjian yang ditandatangani Inggris dengan penguasa Mekkah. Perjanjian ini disebut McMahon-Hussein 1915. Perjanjian ini merupakan hasil korespondensi antara komisioner tinggi Inggris di Mesir, Sir Henry McMahon, dan Sharif Hussein bin Ali di Mekkah.

    Menurut perjanjian itu, Inggris berjanji setelah PD I selesai akan menyerahkan wilayah, yang sebelumnya dikuasai Utsmaniyah, kepada orang-orang Arab yang tinggal di wilayah itu. Inggris mendukung kemerdekaan negara-negara Arab di wilayah, termasuk di Semenanjung Arab (kecuali Aden), dan seluruh Irak, Palestina, Transjordan, dan Suriah hingga Turki bagian utara serta Persia bagian timur. Hussein juga akan meminta Inggris mendukung restorasi kekhalifahan.

    Namun, Inggris dan Perancis, ketika menandatangani Perjanjian Sykes-Picot, sepertinya menutup mata terhadap Perjanjian McMahon-Hussein. Persoalannya menjadi lebih rumit lagi setelah Inggris mendukung bahkan menjadi sponsor utama lahirnya Deklarasi Balfour (1917), yang isinya mendukung orang- orang Yahudi untuk mendapatkan”national home” di Palestina. Tentu saja isi Deklarasi Balfour itu bertentangan dengan Perjanjian McMahon-Hussein.

    Hussein, paling tidak, mengartikan bahwa berdasarkan Perjanjian McMahon-Hussein, Palestina akan diberikan kepada orang-orang Palestina setelah perang usai. Namun, dengan munculnya Deklarasi Balfour, ceritanya menjadi lain.

    Krisis Timur Tengah

    Inilah perjanjian yang menggambarkan arogansi kekuasaan besar pada masa itu. Kekuatan Eropa mencampuri Timur Tengah dan, yang lebih penting lagi, mengabaikan garis-garis tradisional yang memisahkan agama dan etnik di kawasan itu.

    Perjanjian Sykes-Picot disusun dan ditandatangani tanpa pernah dikonsultasikan atau sekurang-kurangnya dibicarakan dengan para pemimpin politik atau pemuka suku penduduk di Timur Tengah pada masa itu. Sykes dan Picot dengan pensil di tangan menarik garis di atas peta Timur Tengah dan membagi-bagi wilayah tersebut tanpa banyak pertimbangan.

    Akibat dari perjanjian yang saling bertentangan itu—McMahon-Hussein, Sykes-Picot, dan Deklarasi Balfour—dirasakan dunia Arab hingga saat ini, termasuk konflik etnis yang pecah di Suriah, juga di Irak dan Lebanon. Memang, Inggris telah mendudukkan dua putra dari sekutu Arab-nya untuk menjadi penguasa di Jordania dan Irak.

    Namun, mereka, termasuk wilayah yang dikuasai Perancis—Suriah dan Lebanon—tak memperoleh kemerdekaan penuh sampai setelah Perang Dunia II berakhir.

    Yang merasa sangat dikhianati Inggris adalah Palestina. Alasannya, Inggris tak memenuhi janjinya untuk menyerahkan wilayah Palestina kepada mereka. Yang terjadi justru sebaliknya, memberikan jalan kepada orang-orang Yahudi untuk mendirikan negara Israel di Tanah Palestina.

    Padahal, dalam Perjanjian Sykes-Picot, Jerusalem secara jelas disebutkan ada di bawah ”administrasi internasional” dan akan diserahkan kepada Palestina. Namun, ini tak pernah direalisasikan oleh Inggris.

    Pembagian garis batas wilayah yang dicoretkan Inggris dan Perancis telah menimbulkan konflik berkepanjangan melintasi tidak hanya dekade, tetapi juga bahkan abad. Masalah di Palestina terus berkepanjangan hingga kini.

    Sementara itu, kini muncul struktur politik baru di beberapa negara Timur Tengah berdasarkan garis etnik atau sektarian, seperti yang terjadi di Suriah dan Irak.

    Irak, setelah Saddam Hussein tumbang, seperti terpecah menjadi tiga wilayah besar berdasarkan garis sektarian: Syiah di selatan hingga sebagian tengah, Sunni sebagian tengah dan sebagian utara, serta Kurdi di wilayah utara.

    Suriah, demikian pula, tercabik-cabik perang saudara berbau sektarian. Lebanon tak terkecuali meski sedikit banyak bisa mengendalikan.

    Perkembangan terakhir di Irak utara mempertegas hal itu, yakni dengan muncul kelompok yang menamakan dirinya Negara Islam Irak dan Suriah (NIIS). Keputusan NIIS hari Minggu, 29 Juni 2014, yang memproklamasikan kekhalifahan baru di sebagian wilayah Irak dan Suriah, telah memunculkan persoalan baru serta membahayakan bagi Suriah dan Irak.

    Hari itu, Abu Bakr al-Baghdadi memproklamasikan dirinya sebagai Khalifah Ibrahim yang wilayah kekuasaannya membentang dari Allepo (Suriah) hingga Provinsi Diyala (Irak). Diyala adalah provinsi di sebelah timur laut Baghdad dan dekat dengan perbatasan Iran.

    Aleppo, sebuah kota di Suriah bagian barat laut, merupakan kota terbesar kedua di Suriah. Pada zaman Kekhalifahan Utsmaniyah yang berpusat di Turki, Aleppo merupakan kota terbesar ketiga setelah Konstantinopel (Istanbul) dan Kairo.

    Dengan munculnya ”kekhalifahan” baru ini, garis-garis batas yang pernah diputuskan secara rahasia dan sepihak oleh Inggris dan Perancis (baru terungkap ke media setelah pecah Revolusi Bolshevik di Rusia tahun 1917) seolah hilang.

    Garis-garis perbatasan itu dihapus oleh NIIS. Namun, pertanyaannya, apakah Suriah dan Irak akan menerima? Lahirnya NIIS nyata-nyata mengurangi wilayah mereka.

    Konflik baru tidak akan terhindarkan. Tidak mustahil ini akan memberi inspirasi kepada suku Kurdi untuk merdeka.

    Inilah semua hasil campur tangan negara-negara Barat pada masa lalu, yang sebenarnya berlanjut selama Perang Dingin dan sekarang ini.

     
  7. Konflik Paling Mematikan

    Tulisan ini adalah karya Wisnu Dewabrata. Terbit di Kompas, 6 Juli 2014. Beginilah akibat perang yang dimulai dari “ingin” itu…

    Perang Dunia I pada awalnya tak pernah diperkirakan bakal berkembang menjadi sebuah peperangan semesta terbuka. Rangkaian pertempuran sengit yang melibatkan total 70 juta prajurit dari 19 negara di lima benua berlangsung selama 50 bulan. Perang ini pun menjadi salah satu konflik paling mematikan dalam sejarah umat manusia.

    Perang Dunia (PD) I yang berlangsung 28 Juli 1914-11 November 1918 menjadi catatan penting karena menimbulkan korban jiwa yang sangat besar dari kalangan sipil dan militer. Baik langsung akibat perang maupun akibat wabah penyakit dan kelaparan yang dipicu konflik itu.

    Dari kalangan militer tercatat 10 juta prajurit asal sejumlah negara tewas dan 20 juta orang lainnya terluka. Perang melibatkan 70 juta prajurit, 20 juta orang di antaranya direkrut lewat mobilisasi dan wajib militer.

    Jumlah prajurit yang tewas asal Jerman merupakan yang tertinggi, mencapai dua juta orang. Angka itu disusul Rusia dengan total 1,8 juta jiwa prajuritnya. Perancis dan Austria-Hongaria masing-masing kehilangan 1,4 juta prajurit.

    Sementara itu, puluhan juta jiwa lain dari kalangan warga sipil diyakini tewas. Mereka menjadi korban langsung pertempuran atau praktik genosida, seperti menimpa 1,5 juta warga Armenia pada 24 April 1915 di Turki.

    Korban tewas di kalangan warga sipil juga disebabkan kelaparan dan wabah penyakit, seperti flu Spanyol, yang diyakini menelan korban tewas mencapai 40 juta orang di seluruh kawasan.

    Sementara mereka yang selamat terpaksa mengungsi dan terlunta-lunta. Tercatat 10 juta pengungsi tersebar di seluruh wilayah Eropa.

    Dari 10 juta pengungsi itu terdapat enam juta anak yatim piatu dan tiga juta janda akibat perang.

    Kerugian lain PD I juga melumpuhkan sendi perekonomian negara-negara peserta perang. Bahkan, total ongkos perang diketahui mencapai 180 miliar dollar AS atau setara dengan total gabungan pendapatan domestik bruto seluruh negara Eropa saat itu.

    Perubahan besar

    Mengutip sejarawan militer yang juga penulis sejumlah buku tentang PD I, Sir Hew Francis Anthony Strachan asal Universitas Oxford, Inggris, perang besar tersebut telah menyebabkan sejumlah perubahan besar di dunia.

    Dalam salah satu artikelnya di laman majalah Foreign Affairs, Strachan menyebut, perang itu, antara lain, menyebabkan keruntuhan tiga kekaisaran besar yang ada di kawasan timur Eropa.

    Kekaisaran Rusia yang dipimpin Tsar Nicholas II tumbang oleh aksi revolusi 1917 dan berujung pada terbentuknya negara komunis Uni Soviet.

    Kekaisaran Austria-Hongaria juga tumbang setelah diyakini menjadi pemicu PD I dengan menyerang Serbia setelah tewasnya sang putra mahkota, Pangeran (Archduke) Franz-Ferdinand. Ferdinand dan istrinya tewas ditembak seorang aktivis nasionalis Serbia saat berkunjung ke kota Sarajevo.

    Dengan didukung Jerman, Kekaisaran Austria-Hongaria bertekad membalas dendam kematian Ferdinand dengan menyerbu Serbia tepat sebulan setelah kematian itu. Mereka menghujani kota Beograd dengan peluru artileri.

    Pada ”episode” pertama itu Jerman kemudian juga mendeklarasikan perang terhadap Serbia dan musuh lamanya, Perancis, pada 3 Agustus 1914, demi memuluskan ambisi lamanya mengalahkan Rusia.

    Baik Rusia, Perancis, maupun Inggris, ketiganya tergabung dalam aliansi Triple Entente atau Sekutu. Adapun Jerman, Austria-Hongaria, dan Italia tergabung dalam persekutuan Triple Alliance atau Kekuatan Sentral.

    Inggris ikut terlibat dalam pertempuran melawan Jerman setelah negeri itu coba merangsek ke wilayah Perancis melalui Belgia. Saat itu antara Belgia dan Inggris memang terikat perjanjian pertahanan. Pertempuran dan aksi saling serang pun terjadi berturut-turut seolah permainan catur.

    Perang bahkan terus merembet dan melibatkan sejumlah negara lain, seperti Jepang, Australia, Selandia Baru, dan Amerika Serikat (AS).

    Perang itu juga menyebabkan keruntuhan Kesultanan Ottoman yang pada awalnya dikepung kekuatan militer Inggris, dibantu Australia, Selandia Baru, dan Perancis.

    Keruntuhan Kesultanan Ottoman memicu pemberontakan negara-negara Arab yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan imperium itu. Keruntuhan Ottoman juga memicu berdirinya tanah air untuk orang Yahudi di wilayah Palestina.

    Inggris dan Perancis memegang peran penting dalam perubahan peta kekuasaan di kawasan Timur Tengah itu.

    Strachan juga menyebut PD I melahirkan AS sebagai negara adidaya baru. Pasukan AS terlibat setelah negeri itu mendeklarasikan perang melawan Jerman pada 6 April 1917.

    Sebelumnya, AS memutus hubungan diplomatik dengan Berlin setelah Jerman melancarkan serangan besar-besaran di Samudra Atlantik yang menenggelamkan banyak kapal barang milik berbagai perusahaan perkapalan.

     
  8. Tergelincir dalam Perang yang Tidak Dimengerti

    Tulisan ini adalah karya René L Pattiradjawane. Terbit di Kompas, 6 Juli 2014. Kembali lagi tentang Perang Dunia I.

    Perdebatan apa pemicu Perang Dunia I yang terjadi 100 tahun lalu masih menjadi pertanyaan kalangan akademisi dari berbagai disiplin ilmu, seperti hubungan internasional, ekonomi, sosial, politik, dan sejarah.

    Banyak pertanyaan muncul terkait Perang Dunia (PD) I yang menewaskan jutaan jiwa. (lihat tulisan ”Korban dan Dampak: Konflik Paling Mematikan”). Siapa sebenarnya pengambil keputusan perang ini: monarki yang berkuasa, presiden, menteri luar negeri, kepala staf, atau kombinasi mereka? Apa yang berada dalam benak mereka jelang Juli 1914? Apakah ada dorongan dari pengalaman lalu, seperti dua kali Perang Balkan, 1912-1913? Apa justifikasi yang mendorong PD I dan kenapa para pengambil keputusan melakukan ini?

    Lusinan pertanyaan bermunculan, mencari konklusi substantif atas perubahan dunia yang terjadi akibat perang itu. Definisi perang dunia sendiri harus dipahami melalui keterlibatan lima atau lebih kekuatan utama dan memiliki operasi militer di dua atau lebih benua.

    Definisi perang seperti ini mencerminkan betapa mahalnya konflik ini. Aktor utamanya harus negara-negara yang sangat kaya dengan jangkauan antarbenua yang substansial. kalangan sejarawan sepakat kalau PD I adalah tragedi yang tidak perlu dan merupakan kesinambungan perang dunia sebelumnya.

    Dalam sejarah dunia, setidaknya ada delapan kategori perang dunia yang menewaskan jutaan korban dan melibatkan banyak negara. Enam perang dunia sebelumnya adalah Perang Aliansi Akbar (Perang Liga Augsburg) 1689-1697, Perang Suksesi Spanyol (1701-1714), Perang Suksesi Austria (1740-1748), Perang Tujuh Tahun (1756-1763), Perang Revolusioner Perancis (1792- 1802), dan Perang Napoleonik (1803- 1815). Setelah 99 tahun situasi damai, terjadi PD I (1914-1918), disusul PD II (1939-1945) dua dekade kemudian.

    Dalam rentang waktu ini, PD I sebenarnya adalah PD VII, juga dikenal sebagai Perang Akbar. Perang ini adalah rangkaian yang dimulai dengan Perang 30 tahun, 1618-1648, yang memecah belah Eropa tengah.

    Berbagai perang di kawasan Eropa ini menonjol karena jumlah korban tewas. Namun, yang kerap terlewatkan, peristiwa kematian berdarah di belahan lain dunia. Perang sangat destruktif yang tidak mendapat perhatian luas antara lain perang saudara di Tiongkok yang dikenal sebagai Pemberontakan Taiping (1851-1864) yang menewaskan sekitar 20 juta jiwa.

    Menelaah lebih lanjut muasal PD I, berbagai catatan sejarah melihat beberapa faktor yang menentukan pecahnya perang besar ini. Di antaranya gagasan imperialisme berbagai imperium di Eropa, perlombaan senjata, gerakan nasionalis negara-bangsa, nasionalisme dan unifikasi Imperium Jerman, nasionalisme di Eropa Timur, nasionalisme Pan-Slavia, serta keamanan Imperium Austria.

    Pembunuhan Archduke Austria Franz Ferdinand dan istrinya, Sophie Chotek, di Sarajevo, 28 Juni 1914, menjadi casus belli terjadinya krisis politik dan diplomatik. Para pemimpin Jerman ketika itu terjebak dalam tekanan untuk mendahului perang saat ada peluang diplomasi bisa mengamankan resolusi damai.

    Mesin-mesin perang Jerman kehilangan kontrol dan mengantarkan negara ini pada konflik yang tidak diharapkan. Secara umum, premis terjadinya PD I disebabkan tiga faktor: Pertama, para pemimpin Jerman berubah pikiran dan berupaya menghindari perang ketika menyadari tak bisa mengandalkan netralitas Inggris dalam konflik.

    Kedua, Jerman dipaksa mendahului perang karena takut mobilisasi Rusia atau serangan Perancis. Terakhir, pemimpin politik Jerman gagal mencegah perang karena menyerah pada tekanan pemimpin militer untuk memobilisasi dan menyatakan perang, baik sebelum maupun mengantisipasi musuh mereka melakukan hal sama.

    Agenda imperialisme

    Di balik semua ini, sebenarnya tersembunyi agenda imperialisme yang menyebabkan terjadinya hubungan tidak seimbang, memaksa negara dan penduduk negara lain, serta menghadirkan kekuatan baru dalam bentuk dominasi dan subordinasi ekonomi, budaya, dan teritorial. Sebelum PD I, imperium di Eropa merasa perlu melindungi akses pasar, bahan mentah, serta pengembalian investasi melalui penguasaan politik dan militer di negara jajahan masing-masing.

    Antara 1850-an dan 1911, seluruh wilayah Afrika menjadi koloni negara Eropa kecuali Liberia dan Etiopia. Inggris menjadi penguasa India pada 1858 serta menduduki Mesir pada 1882 untuk melindungi kepentingannya di India. Perancis menyelesaikan kolonisasi kawasan Indochina pada 1887 dan ditambah Laos pada 1893.

    Menjelang 1914, imperialisme menjadi dunia baru yang menghadirkan kompetisi di sejumlah benua. Menjelang PD I, Inggris memiliki imperium 140 lebih besar dibandingkan ukuran negaranya, Belgia memiliki kekuasaan 80 kali dari luas wilayahnya, Belanda 60 kali, dan Perancis 20 kali.

    Saat itu, menurut mantan Menlu Amerika Serikat Henry Kissinger, terjadi keseimbangan kekuatan virtual. Situasi global, khususnya di Eropa, terlihat negara bergerak dari satu krisis ke krisis lain, negara-bangsa bergantian berkonfrontasi lalu mundur untuk kompromi.

    Inti yang tecermin dalam pemahaman Kissinger ini adalah ketidakseimbangan kekuatan akan mendorong agresi, komitmen berlebihan tidak bisa dipertahankan di dalam negeri, dan keseimbangan berdasarkan konfrontasi yang konstan akan berakhir dengan bencana. Dalam 100 tahun terakhir ini, bencana perang di dalamnya menjadi pelajaran penting bagi negara mana saja untuk tidak mengulanginya.