1. 19:43 6th Apr 2014

    Notes: 6

    Reblogged from salsabilaa

    Tags: SBMatahari

    ayo kakak kakak yang berada di tim Hijau dan Merah ikut bercerita juga :)

    salsabilaa:

    Setelah sukses dengan trip kakak guru @sbmatahari yang pertama ke puncak awal tahun kemarin, kita pun ketagihan untuk bikin trip bareng lagi sebagai sarana refreshing sekaligus teambuilding :)

    Berdasarkan pertimbangan waktu, biaya, dan tingkat kepadatan kalau pergi ke kota/tempat wisata, akhirnya pilihan trip kali ini pun jatuh ke jelajah memburu matahari di ibukota :)

    19 orang kakak guru kemudian dibagi ke dalam tiga tim: merah, hijau, dan biru. Nama tim menentukan warna baju yang harus dipakai serta tempat-tempat yang akan dijelajahi.
    Tim merah: Museum sejarah Jakarta - Toko Merah - Jembatan Merah - Rumah akar - Menara Syahbandar di pelabuhan Sunda KelapaTim hijau: Museum nasional - Museum gajah - Museum arca - Ragusa
    Tim biru: Kawasan ekowisata mangrove - Yayasan Buda Tzu Chi - Taman wisata alam

    Diantara tiga tim, rute tim biru (ai dkk.) lah yang paling jauh dari pusat ibukota -__- tapi worth it kok :D

    Perjalanan diawali dengan berkumpul di stasiun UI pukul 14.00 dan berangkat dengan kereta menuju stasiun kota pukul 14.30. Sesampainya di stasiun kota, kita pun shalat ashar terlebih dahulu baru kemudian berpencar menuju rute masing-masing.

    Stasiun kota - Kawasan Wisata Alam Mangrove

    Perjalanan menuju kawasan wisata ini luar biasa sodara-sodara! Ya lamanya, ya macetnya, ya salah jurusannya..
    Diawali dengan naik bus kota lanjut naik angkot yang ternyata jurusannya berbeda (supir angkotnya baru dan kurang tahu jalan). Alhasil kita harus turun dan jalan cukup jauh untuk naik angkot lain dengan rute yang benar. Sesampainya di kawasan wisata, ternyata kita harus menerima kenyataan kalau kawasannya udah tutup T.T (tutup pukul 17.00 sementara kita baru sampai pukul 17.15). Karena sayang udah pergi jauh-jauh tapi nggak bisa masuk, akhirnya kita minta Karin dan Fadel untuk bujukin pak satpam supaya ngasih izin kita masuk sebentar. Ternyata bujukannya berhasil dan kita diizinkan untuk foto-foto sebentar :D
    *psst, kalau mau foto di sini pakai kamera hp / digicam aja. Kalau mau bawa kamera SLR, harus bayar 150ribu

    Misi: "Melakukan pose ‘jangan galau nanti mati’ di jembatan kayu (minimal 2 orang)"

    image

    (yang jadi ‘korban’ ki-ka: Fadel dan Abe)

    Foto-foto lain yang diambil di sini..

    image

    image

    image

    Kawasan Wisata Alam Mangrove - Yayasan Buda Tzu Chi

    Lokasi kedua letaknya tidak terlalu jauh dari lokasi pertama. Cukup berjalan kaki sebentar + naik angkot, lalu sampailah di gedung yayasan Buda Tzu Chi yang terletak di kawasan perumahan Pantai Indah Kapuk. Sampai di sana, kita pada amaze gitu karena gedungnya besar banget dan berasa lagi di China. Hihihi..

    Ini dia gedung yayasan Buda Tzu Chi X)

    image

    Misi: "Melompat di depan Tzu Chi Primary School (semua)"

    image

    Foto lainnya..

    image

    image

    image

    Yayasan Buda Tzu Chi - Taman Wisata Alam

    Lokasi ketiga terletak persis di belakang area yayasan Buda Tzu Chi. Tapi karena sudah maghrib dan tempatnya sudah tutup, jadinya kita nggak sempat untuk menjalankan misi berikutnya (padahal misinya seru, “berfoto di atas kano” X)). Kita hanya menumpang untuk shalat maghrib dan isya aja di sana. Masjidnya bagus loh! Bangunannya terbuat dari kayu dan berada di atas danau :D (belum nyimpan fotonya)

    'Perjuangan' kita ternyata tidak hanya di awal perjalanan aja, tapi juga hingga akhir perjalanan X)
    Merasakan gelap-gelapan sebentar di masjid (karena mati lampu), menunggu busway yang datang hingga 30 menit, menunggu pak supir busway makan malam dulu, bersabar dengan perut kelaparan (kita nggak mau makan di PIK karena takut nyampe Depok terlalu larut), kereta di st.kota yang datang terlambat, dan diakhiri dengan makan mie aceh pukul 11.30 malam! (karena kita baru nyampe Depok jam segitu).

    Trip ini sebenarnya belum berakhir. Masih dilanjutkan dengan permainan2 lain keesokan harinya. Tapi karena ai nggak punya fotonya, ai nggak cerita deh. Pokoknya mah seruuuuu XD

     
  2. 19:34

    Notes: 4

    Reblogged from upikid

    intifada!

    upikid:

    Saya terbangun lagi dari mimpi ini, mimpi membunuh ataupun terbunuh. Benci sekali merasakan sensasi yang didapat saat termegap-megap kalut sambil menghitung angka satu, dua, tiga, empat, lima, sampai sepuluh. Meraup kesadaran, memilinnya padu, menyaringnya jadi jernih, ini jasad ada dimana: alam baka, alam mimpi, ataukah alam fana.

    Jam berdetak, seirama dengan degub jantung yang kembali normal memompa darah keseluruh tubuh. Semua kini terlihat jelas, hari sudah berganti, sekarang pukul satu lewat sekian. Saya meminum secangkir air mineral, cuci muka, lalu menghambur ke luar kamar. Cari angin, ataupun berjalan tanpa tujuan menyusurin tepian jalan raya.

    ***

    Jalanan ini tak pernah ada sepi-sepinya, 24 jam kendaraan bermotor melintas dengan pongah, pejalan kaki harus sabar jikalau ingin menyebrang. Jika tidak, mudah-mudahan menambah daftar panjang manusia yang meregang nyawa di kerasnya aspal jalanan. Saya boleh berpendapat pejalan kaki adalah strata paling jelata dalam kelas sosial di rimba jalan raya. Boleh dilindas, diserempet, ditabrak, ataupun dimaki-maki tak punya otak.

    Saya duduk termangu-mangu di pangkalan ojek, tepat di persimpangan jalan besar dengan jalan gang yang juga cukup lebar. Tak ada seorang pun di sini, sepi. Langit pun tampak sunyi. Tak ada bintang, tiada rembulan, hanya awan kusam yang bergumul-gumul entah apa maunya. Dari kejauhan sayup-sayup terdengar bunyi gerombolan anjing yang mengais-mengais tempat sampah. Adalah pertanda, maka saya memutuskan untuk segera pulang.

    ***

    Dengan tampang yang tak cocok dicurigai sebagai maling, saya berjalan pelan-pelan. Memperhatikan lekat-lekat bentuk pagar rumah warga, mencemooh sampah yang tak pernah beres dibersihkan, mengomentari dalam hati jalanan baru yang diperlicin menjelang pemilu, bersungut merasai desir angin yang menghantam tengkuk dengan semena-mena. Ini kegiatan rutin orang-orang yang hampir pesong. Sebab Rutinitas yang membuat hidup jadi waras.

    Sayangnya rutinitas juga membuat orang jadi sinting.

    ***

    Saya mendengar serak suara knalpot, saya menoleh ke belakang lantas menepi. Melintas dua remaja berpenis bertampang pribumi menunggangi motor buatan jepang yang telah butut dengan kencang. Yang membonceng pura-pura melepaskan tangan, yang dibonceng serta merta memeluk pinggang yang membonceng, nakal sekaligus mesra, ia mengumpat nanti batu yang digenggamnya jatuh. Jagoan.

    Beberapa puluh meter tiba-tiba itu motor melambat, dan buk! Batu yang dipegang salah satu jagoan menghantam sebuah sasaran: anjing yang sedang mengais-ngais sampah.

    Motor melaju kencang, dua jagoan terkekeh-terkeh, anjing mengaing-ngaing kesakitan, dari kejauhan terburu-buru saya berlari.

    ***

    Lihatlah ini anjing dengan seksama. Kurus kering, mungkin tak bertuan, keluar malam-malam, mengais-ngais sampah mencari makan: Ia terus mengaing-ngaing sambil menggelinjang, dari kepalanya mengucur darah, mungkin tengkorakknya remuk atau retak. Oh, makhluk tuhan yang malang.

    Durjana! Apa yang dipikirkan dua keparat ini? Mengganggap diri seolah bocah Palestina yang menimpuki tank tentara Israel dengan batu, atau menyamakan diri seperti jemaah haji yang melempari setan dengan krikil saat melempar jumroh? 

    Saya mengedarkan pandangan, tak jauh dari situ tergeletak sebongkah batu. Masih ada samar-samar bercak darah. Saya kutip dan saya timang-timang. Cukup berat, keras, bergerigi, dan seukuran genggaman tangan.

    Saya memandang ke dalam mata si anjing, begitu jauh, begitu gelap, begitu dingin. Ada kekosongan yang pekat di dalam sana. Sayup-sayup saya mendengar sesuatu, kepala saya berputar-putar, pandangan mengabur dengan cepat. Rasa-rasanya berhenti menjadi ada.

    Dan setelah itu, tak yakin betul apa yang terjadi. Yang saya ingat samar-samar: saya menghantam kepala anjing itu berkali-kali, darah menciprat ke muka, tangan yang perih, dan nafas yang terengah-engah.

     
  3. 19:26

    Notes: 3

    Tags: prosa

    Bidadari Serayu

    Cerita pendek yang cantik ini adalah karya Sungging Raga. Terbit di Kompas, 6 April 2014. Duh, indahnya…

    Di sungai Serayu, pada suatu pagi tahun 1886, ditemukan sesosok mayat lelaki mengambang, tubuhnya tersangkut di salah satu besi penyangga bendungan. Lelaki itu adalah Salimen, yang sejak malam sebelumnya dinyatakan menghilang dari rumah.

    Alkisah, beberapa saat setelah kejadian tersebut, warga mulai berkumpul…

    ”Ini sudah mayat keempat belas di Serayu.”

    ”Mengerikan.”

    ”Bahkan Salimen yang tidak pernah macam-macam pun ikut jadi korban!”

    Tak seperti penemuan mayat-mayat sebelumnya di mana warga segera mengangkat mayat itu dari sungai, kini mereka hanya berdiri di tepian, melihat dengan raut yang ketakutan.

    ”Jelas ini bukan kematian biasa.”

    ”Jadi benar yang dikatakan Kyai Subale? Salimen mati karena mengintip bidadari yang sedang mandi, seperti yang terjadi pada orang-orang sebelumnya?”

    Begitulah kabar yang beredar di desa tepi Serayu, seorang kyai kharismatik bernama Kyai Subale memberi penjelasan perihal kematian misterius yang terjadi selama beberapa hari terakhir.

    ”Kalau kalian mengintip para bidadari yang sedang mandi di sungai Serayu, apalagi mencuri selendangnya, kalian akan dibawa ke langit, dan hanya badan saja yang akan kembali ke bumi, sementara jiwa kalian menjadi tawanan. Percayalah dan ikuti nasihat saya.”

    Awalnya warga tak begitu percaya dengan ucapan Kyai Subale, tapi kematian demi kematian yang berurutan membuat penjelasan Kyai Subale terdengar masuk akal. Warga pun mulai bertanya-tanya, sejak kapan para bidadari suka mandi di Serayu?

    Sungai Serayu yang permukaannya berwarna hijau, luas, dan cantik, memang sangat cocok jika disandingkan dengan sosok bidadari. Bahkan berdasarkan salah satu riwayat yang dituturkan secara turun-temurun oleh sesepuh desa, nama Serayu berasal dari Sirah Ayu atau Kepala Cantik.

    Menurut riwayat tersebut, dahulu Sunan Kalijaga pernah menyeberangi sebuah sungai besar di daerah Banyumas, Jawa Tengah, dan beliau terkejut melihat seorang gadis sedang mandi di tengah sungai. Gadis itu hanya tampak kepala dan wajahnya yang ternyata sangat cantik. Tentu saja, sebagai bentuk penghargaan tertinggi kepada Sunan Kalijaga dan kepada riwayat ini, kita tak perlu bertanya mengapa tak dipastikan dulu tubuh gadis itu seperti apa. Sebab di zaman ketika dongeng menyerupai kenyataan, banyak gadis-gadis yang berkepala manusia tapi bentuk tubuhnya ternyata menyerupai makhluk lain.

    Kabar itu dengan cepat menyebar ke seantero desa, ”Kyai Subale juga bilang, biasanya bidadari mandi menjelang matahari tenggelam, jadi jangan ada yang berani datang ke dekat Serayu menjelang matahari terbenam. Jika ada keperluan, tunda sampai setelah isya’. Sebab bisa jadi kita awalnya tidak ingin mengintip, tapi kalau mendengar suara kecipak air dan suara tawa bidadari, maka kita pun tergoda.”

    Sejak itulah, sungai Serayu yang sedianya menyajikan pemandangan indah, barisan pohon pinus, suara ricik air, anak-anak kecil menyeberangi jembatan bambu, juga perahu-perahu yang ditambatkan, sekarang berbalik sangat mencekam.

    Dari sore sampai isya’, tak terlihat aktivitas warga, jalan kampung yang menuju jembatan Serayu menjadi lengang. Namun mereka tahu bahwa ini tidak menuntaskan seluruh masalah. Warga sepanjang tepi sungai Serayu lalu mengadakan pertemuan di balai desa untuk menemukan jalan keluar yang konkret. Kepala desa dan semua tokoh masyarakat ikut berkumpul. Mereka berunding cukup alot.

    ”Ini konyol, pembunuhan oleh bidadari itu jelas sebuah konspirasi dunia gaib. Mana ada bidadari yang seharusnya cantik jelita dan baik, justru menyandera bahkan membunuh? Ini melawan teori.”

    ”Apa Anda yakin bidadari itu pembunuhnya?”

    ”Siapa lagi? Bukankah Kyai Subale bilang sendiri?”

    ”Kyai Subale hanya bilang warga kita diangkat ke langit dan dibunuh, tapi kyai tidak memastikan bidadari itu pembunuhnya.”

    ”Hm. Begitu, ya. Jadi maksudmu, mungkin saja bidadari hanya umpan, sengaja turun ke Serayu, lalu penduduk kita diangkat ke langit, akhirnya dibantai oleh makhluk lain di sana?”

    Mendengar kata ”dibantai”, beberapa peserta rapat tampak terkejut dan berbisik satu sama lain.

    ”Jadi, mari kita urun rembuk solusi, kita tidak bisa diam, kita harus melawan. Masing-masing silakan menawarkan ide.”

    Perundingan semakin alot, satu per satu usul bermunculan, ibu-ibu sibuk menyiapkan kopi dan pisang goreng bagi peserta rapat.

    Sejenak kita tinggalkan warga di balai desa. Sambil menunggu perundingan itu selesai, saya—sebagai penulis cerita—akan menyajikan beberapa intermeso sebagai berikut:

    Alkisah, dalam sudut pandang lain, dalam platform cerita yang berbeda, para bidadari cantik dari dunia dongeng memang rajin berkunjung ke sungai Serayu untuk mandi.

    Setiap menjelang senja, para bidadari akan turun dari langit, mendarat lembut di tanah basah, meletakkan selendang di atas batu, melepas ikat kepala sehingga rambut mereka akan tergerai, lalu menceburkan diri ke sungai dan mandi sepuasnya sambil tertawa-tawa. Kadang mereka saling mencipratkan air satu sama lain, kadang sebagian dari mereka memanjat sebuah tebing yang cukup tinggi, dari puncak tebing itu mereka melompat ke dalam sungai dengan gerakan salto akrobatik menyerupai atlet lompat indah.

    Dan sungguh para bidadari tak pernah tahu perihal manusia yang selalu mengintip mereka, perihal laki-laki yang mengintip dan berharap mencuri selendang agar bisa mewariskan namanya dalam cerita dongeng.

    Juga satu hal yang penting, bidadari-bidadari itu ternyata tak pernah mempermasalahkan perihal hilangnya selendang, mereka punya banyak selendang di langit, kalau mereka tak mendapati selendang ketika selesai mandi, maka mereka akan tetap melesat ke langit, tubuh-tubuh mereka yang serupa cahaya itu akan sangat menyilaukan. Anatomi apakah yang bisa dilihat dalam cahaya selain cahaya?

    Jadi, sebenarnya bidadari-bidadari itu merasa tak punya hubungan apa-apa dengan kasus warga yang mencuri selendang lalu ditemukan mati mengapung di Serayu keesokan paginya. Mereka justru ikut bertanya-tanya, siapakah yang telah melakukan pembunuhan dan mencemarkan nama baik bangsa bidadari? Adakah makhluk di alam ini yang melakukannya karena cemburu pada kecantikan dan kesempurnaan mereka?

    Kembali ke cerita sebelumnya, malam sudah tiba di tepi Serayu, bintang-bintang adalah lampion waktu, cahaya purnama seperti memercik pada daun-daun pepohonan yang gemetar, seperti seremonial alam yang paling murni dan sabar.

    Rapat telah selesai setengah jam lalu, warga sudah bubar dan kembali ke rumah masing-masing, ada yang melanjutkan perbincangan di pos ronda atau warung kopi. Hasil perundingan itu menghasilkan keputusan yang kelak akan menjadi titik balik sejarah sungai Serayu:

    Warga memutuskan akan mengotori sungai itu, setidaknya sampai para bidadari tak betah mandi di sana lagi.

    ”Kita harus sering-sering membuang sampah atau melakukan apa saja sampai warna air sungai tidak lagi menjadi hijau, tapi coklat,” kata sang pemimpin rapat.

    Keputusan yang sebenarnya kontroversial itu langsung dijalankan keesokan harinya. Warga yang awalnya sangat mencintai sungai Serayu dan menjaga keelokannya, tiba-tiba menjadikannya tempat untuk melakukan sebagian aktivitas rumah tangga dan aktivitas tubuh manusia. Para ibu suka mencuci di sungai, warga desa membuat saluran pembuangan yang mengarah ke sungai itu, berbagai macam limbah desa mengalir ke sana.

    Waktu demi waktu berlalu, warna sungai pun mulai berubah, hijaunya perlahan memudar, berganti warna pekat. Dan mereka ternyata berhasil. Ketika air sungai telah berubah coklat, tak seorang bidadari pun mau mandi di sungai itu. Menurut kabar beberapa orang, para bidadari berpindah ke sungai Porong di Sidoarjo.

    Kyai Subale telah mengonfirmasi bahwa sungai Serayu kembali aman. Hari itu juga menjelang matahari terbenam, warga berkumpul di tepi sungai untuk merayakan keberhasilan mengusir bidadari, tak ada lagi rasa takut, anak-anak kecil bergembira, ibu-ibu sibuk menyiapkan pesta untuk seluruh desa…

    Namun satu bulan kemudian, masalah lain muncul. Sebuah masalah baru yang memaksa warga kembali melakukan rapat.

    ”Bidadari sudah pergi. Jadi, ada yang tahu bagaimana caranya membuat Serayu kembali berwarna hijau?” Tanya salah seorang warga. Mereka saling berbisik, seperti memikirkan sesuatu yang jauh lebih berat dari sebelumnya.

    ”Sejak bulan lalu kita sudah berhenti membuang sampah di sana, tapi airnya belum berubah juga. Apakah ini semacam kutukan dari bidadari?”

    ”Sudah, jangan bicara kutukan lagi!” Balas warga lainnya.

    ”Mana Kyai Subale, dalam keadaan begini dia justru tidak muncul!”

    ”Kalau Sunan Kalijaga masih hidup, ia pasti tidak mengenali Serayu yang sekarang.”

    ”Ayo, siapa yang waktu itu mengusulkan untuk mengotori sungai kita? Sekarang harus bertanggung jawab!”

    Suasana rapat berangsur ramai. Bahkan ada beberapa orang yang berdiri dari kursinya. Pemimpin rapat coba melerai mereka.

    ”Tenang. Tenang. Itu adalah keputusan bersama. Serayu akan tetap menjadi Serayu apapun warna airnya. Sekarang kita hanya perlu merawat apa yang masih ada. Pohon-pohon pinus, sawah-sawah yang hijau di sekitar bantaran sungai, itu tanggung jawab kita. Dan satu hal, sebaiknya jangan ceritakan pada keturunan kita, bahwa dulunya sungai ini berwarna hijau. Setuju?”

    Warga berpandangan, tak tahu harus setuju atau tidak. Namun begitulah akhir dari rapat kedua yang tampak tak begitu memuaskan. Orang-orang pulang dengan perasaan beragam. Sementara itu, sungai Serayu tetap mengalir dengan megahnya. Meski tak sehijau pada awalnya dan tak lagi menjadi tempat persinggahan bidadari, sungai itu tak hendak mengutuk siapa pun, ia membiarkan segala cerita hanyut bersama alirannya yang tetap tenang, begitu tenang, sampai ke Pantai Selatan….

     
  4. 19:17

    Notes: 3

    Tags: Cerita

    ”Ya, Ampun… Segitunya?”

    Tulisan ini adalah karya Samuel Mulia. Terbit di Kompas, 6 April 2014. Kamu masih suka kaget? 

    Demikian teriakan kecil seorang teman lama, ketika ia mendengar jawaban mengapa saya sekarang sudah tidak aktif lagi di ranah sosial media. Setelah mendengar jawaban itu ia berkomentar lagi. ”Masak, sih, seorang kayak kamu enggak tahan banting?”

    Pengelompokan

    Beberapa waktu sebelum peristiwa di atas terjadi, saya mendapat undangan untuk menghadiri ulang tahun seorang pengusaha wanita yang juga socialite di Ibu Kota ini. Sejujurnya saya kaget menerima undangan itu karena selain saya sudah ”mengundurkan diri” dari jagat sosial media, saya juga sudah mengundurkan diri dari acara-acara macam pesta ulang tahun itu. Apalagi yang melibatkan sesuatu yang gemerlap.

    Setelah menerima undangan itu, saya mengirim pesan kepada salah satu teman saya yang juga diundang pada acara yang sama. Saya menjelaskan bahwa saya ini malas sekali untuk hadir karena saya tak terlalu mengenal para undangan lainnya.

    Teman saya itu membalas begini. ”Kayaknya orang-orang yang diundang beda, deh, enggak seperti biasanya. Acaranya sederhana, kok, cuma di rumah, ada misa dan acara berdoanya.” Saya membalas pesan itu begini.

    ”Waduh…, sekarang aku dimasukkan kelompok tamu yang beda dari biasanya, ya, kelompok tamu yang berdoa, bukan yang doyan pesta. Akhirnya aku dikelompokkan dalam grup yang tak doyan pesta.” Ia membalas pesan itu dengan singkat. ”Amin.”

    Setelah dua kejadian itu, saya membuat janji bertemu dengan seorang teman lama. Seorang pria yang sejak lama sudah saya kenal sebagai sosok suami, ayah, pria yang santun dan tidak neko-neko. Seandainya perjalanan hidupnya dapat diukur, tak ada satu pun yang keluar dari jalur. Semuanya baik dan sejahtera.

    Siang itu, ia menjelaskan bahwa perkawinannya dalam kondisi yang bergemuruh gara-gara ia berselingkuh. Kejadian itu diketahui istri dan anaknya yang sudah dewasa. Teman saya itu menjelaskan bahwa ia sempat terdiam ketika si anak bertanya begini. ”Aku tu gak nyangka, loh, orang kayak Papa, kok, bisa-bisanya berselingkuh. Kenapa Pa?”

    Pertanyaan kenapa atau mengapa selalu saja melahirkan sejuta jawaban yang bisa jadi diterima dengan baik oleh si penanya atau malah melahirkan debat yang hebat. Mengapa orang baik bisa berbuat tidak baik, mengapa orang tidak baik bisa menjadi baik, mengapa orang berubah, mengapa orang tak mau berubah?

    Namun buat saya, semua kejadian seperti di atas itu terjadi karena pelakunya memutuskan untuk memilih jalur yang berbeda, setelah cukup lama ada di jalur yang itu-itu saja yang mungkin tak lagi memberi faedah. Maka, keputusan itu juga memaparkan bahwa orang lain yang melihat, mulai mengelompokkan saya. Dari kelompok A ke kelompok B.

    ”Life is full of surprises”

    Hal yang menarik adalah perpindahan itu tidak terlalu mengagetkan si pelaku, tetapi justru menyetrum mereka yang melihat perubahan itu dan acap kali komentar yang klise terdengar di gendang telinga. ”Kok bisa sih.”

    Mungkin kok bisa sih dalam kasus saya dari kelompok pesta menjadi kelompok yang berdoa akan mengundang sedikit decak kagum. Itu mengapa teman saya membalas dengan jawaban amin.

    Komentar yang singkat dan padat itu, saya yakini juga menyiratkan sebuah perasaan sukacita kalau saya sekarang menjadi manusia yang lebih baik. Seperti menggambarkan anak yang hilang telah ditemukan kembali.

    Namun, berbeda masalahnya, ketika teman saya berkomentar ya ampun dalam cerita saya di atas. Ia tak menyangka bahwa saya yang selama ini dianggap kuat dan tegar, kok bisa KO dengan sebuah kejadian sehingga mengundurkan diri dari ranah sosial media.

    Sejujurnya, saya tak suka dengan pengelompokan karena cenderung pada akhirnya menjadi sebuah penghakiman. Mungkin saya tak terlalu terganggu dihakimi, saya lebih terganggu karena soal kekagetan yang terjadi ketika ada perubahan.

    Saya merasa kekagetan yang dicerminkan dengan kalimat kok bisa sih itu, sebuah kebiasaan saya sebagai manusia untuk tidak menerima orang itu bisa hidup di dua dunia. Dunia yang santun dan dunia yang tidak santun. Ia positif, tapi kadang ia bisa negatif.

    Entah mengapa, saya selalu berusaha memositifkan orang dan terkaget-kaget kalau sampai ia menjadi negatif. Padahal, saya yang seharusnya kaget terhadap diri sendiri, bukan terhadap perubahan orang lain.

    Seyogianya saya ini yang harusnya kaget, kok bisa-bisanya saya ini tak menyadari manusia itu sangat normal kalau hidup di dua dunia. Pengelompokan itu juga mencerminkan ketidakmampuan saya menerima kebebasan manusia untuk melakukan apa yang dianggapnya baik untuk dirinya sendiri, dan bukan untuk orang lain.

    Bertahun lamanya saya takut negatif itu tersirat, mungkin tepatnya saya takut kebenaran itu terungkap bahwa manusia itu bisa negatif meski selama ini ia dikenal baik. Atau sebaliknya, kok, dulu nakal sekarang jadi baik. Kok, dulu suka pesta dan pulang dalam keadaan setengah sadar atau tak sadar sama sekali, sekarang rajin beribadah. Umumnya kasus yang saya sebut terakhir ini akan mengundang komentar. ”Muna banget, ya.”

    Saya tahu pasti bahwa sebelum saya mati, maka kekagetan orang lain terhadap hidup saya akan selalu terjadi demikian juga sebaliknya. Semoga selain kaget, saya masih diberi kesempatan belajar untuk membiarkan manusia hidup di dua dunianya, jangan hanya tidak kaget kalau kodok bisa hidup di dua dunia. Kan, katanyalife is full of surprises, bukan?

     
  5. 19:08

    Notes: 68146

    Reblogged from gigitata

    rimadorable:

    elijah120607:

    Chris Pine, Josh Duhamel, Aaron Paul, Taylor Kitsch, Garrett Hedlund, Amie Hamer, James Marsden, James Franco, Chris Hemsworth, and Joseph Gordon-Levitt @Yu Tsai.

    Oh myyyyyyyy

    hahahaha….

    (Source: yutsai.com)

     
  6. 19:53 4th Apr 2014

    Notes: 1

    adamaulana asked: Assalamualaikum kak akhyar, Di kampus saya sering diadakan apel pagi atau sore. Namun dlm apel itu ada yang mengganjal di hati saya. Di salah satu apel. Kami menggunakan full english. Sy juga tdk tahu maksudnya apa. Namun menurut saya ini sudah ke bablasan krn kata2 hormat, tegak dan istirahatditempat juga diganti pke english. sy mau menyanggah hal itu kpd pihak kampus namun sy blm punya argumen yg kuat krn di UU 24 2009, hal itu tdk ditulis scr tersurat & sy bingung hrs di hub ke pasal yg mn?

    ini adalah fenomena yang menarik bagi saya pribadi. hanya saja jika kamu menanyakan “apakah ada aspek legal di Indonesia yang dilanggar” saya benar benar tidak mengetahuinya. saya kira teman teman yang belajar Ilmu Hukum pasti lebih memahaminya :)
    hanya saja, dalam iklim akademik seperti kampus, tentu sangat baik jika kamu punya kesempatan dan mengambil kesempatan itu untuk bertanya “apa gerangan hakikat ini dan itu dilakukan” :)
    mohon maaf saya tak bisa membantu. semoga teman teman yang membaca ini bisa membantu menjawab.
    salam :)

     
  7. 19:17 31st Mar 2014

    Notes: 2

    Tags: prosa

    Tentang Seorang yang Membunuh Keadilan di Penjaga Konstitusi

    Cerita pendek realis ini adalah karya Remy Sylado. Terbit di Kompas, 30 Maret 2014. Kita mulai kehilangan sentuhan legenda kita. 

    Malam itu tampak lebih kelam, suram, dan padam tidak seperti biasa. Bukan karena gelap dan dingin malam, tetapi karena wajahnya tertunduk lesu, pucat pasi dengan tangan terikat dan lolongan anjing-anjing yang begitu memaki selalu meneriaki.

    Laki-laki paruh baya itu mendatangi gedung itu. Tentu tidak sendiri, beserta para penjaga yang memborgol kedua tangannya. Mendatangi gedung itu berarti mendatangi sebuah masa depan yang lebih buruk. Masa depan di jeruji besi. Bisa dikatakan begitu.

    Kemudian para wartawan berdatangan di bawah sinar bulan mencari kepastian berita. Mencari bau-bau busuk yang bisa mereka tulis dan laporkan di koran-koran dan televisi mereka. Dengan cahaya yang sedikit temaram mereka menghampiri gedung itu. Mencoba untuk masuk. Kata-kata memaksa membuat satpam penjaga itu mengizinkan. Di lobi saja katanya…

    Gila, aku memang bersalah Tuhan. Ampuni aku. Aku akan mencoba untuk melawan. Tidak mau aku diperlakukan seperti ini. Aku adalah seorang yang paling mulia. Mereka menyebutku Yang Mulia. Tidak mungkin aku diperlakukan terhina seperti ini. Aku akan melawan demi membela kesombonganku.

    Suara mikrofon itu terdengar. Kamera-kamera telah siap menatap dengan tajam sosok yang akan berbicara di meja itu. Seorang juru bicara yang setiap saat menjadi penyambung lidah keingintahuan akan keadilan. ”…malam ini telah tertangkap tangan seorang pejabat negara…diduga karena menerima suap untuk meloloskan gugatan Pilkada…”

    Esok kemudian mereka membacanya di koran kota, di halaman pertama. Mereka juga menonton di televisi-televisi mereka. Menjadi berita utama dan terus berulang-ulang disaksikan. Ada seorang yang telah rela menggadaikan masa depannya. Menggadaikan bangsanya. Menggadaikan keluarganya, anak-anaknya, dan mendustai sumpah jabatannya. Akan tetapi, ia tidak menangis entah mengapa. Ia juga masih merasa tidak bersalah entah mengapa. Dan ia juga tidak meminta maaf entah mengapa terhadap semua hal yang dikhianatinya.

    Semakin lama semakin ramai mereka membicarakannya. Seakan-akan masih tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi. Memang, uang, kekuasaan dan kekuatan akan terasa panas di tangan jika tidak berada di tangan orang-orang yang benar. Begitu aku sering mendengar.

    Rumah kediamannya dihampiri oleh para pencari berita, mereka mencoba mencari tahu dan menerka-nerka berapa sebenarnya harta kekayaannya. Dari kota hingga desa. Dari yang biasa disinggahi sampai rumah-rumah di kampung halaman. Tidak ketinggalan pula semua usaha-usahanya diliput, dicari tahu sumber dananya dan berapa penghasilan sebenarnya. Dan dari semua itu hanya ada satu kalimat. Sangat tidak wajar dengan penghasilan yang didapat.

    Berita pun semakin memanas karena ditemukan pula dua buah linting narkoba jenis baru yang sangat jarang beredar berada di ruang kerjanya. Punya siapakah itu? Semua orang jelas ingin tahu. Jangan-jangan Yang Mulia Yang Terhormat ini sedang teler ketika memimpin sidang.

    Saya dijebak Tuan Penyidik. Uang itu bukan milik saya. Ada orang yang membawakannya. Sungguh saya tidak bersalah. Saya dijebak. Saya dijebak. Saya dijebak. Ada yang ingin menghancurkan nama baik saya. Ini adalah sebuah konspirasi besar. Saya akan membuktikan bahwa saya tidak bersalah.

    Hari itu. Kita berangkat bersama. Melalui pesawat yang sama. Singapura tujuan kita. Bukan karena kebetulan kita berada di pesawat yang sama. Bukan juga karena kebetulan kita berada di hotel yang sama. Bertemu kamu hari itu. Hari digadaikan martabat sebuah pengadilan dengan sekarung janji dan uang. Tentu bukan untuk hari yang pertama kali. Lewat kawan lama, semua negosiasi menjadi mudah. Hati kecil ini menolak dengan tegas. Akan tetapi perlahan dengan pasti janji manis mengalahkan semuanya. Uang memang bisa membeli segala-galanya.

    Istriku, aku sudah selesai berobat di Singapura. Sopirku yang menemaniku di sana. Dia memang sangat setia kepadaku. Selalu menemaniku. Tentu saja sebagai orang kepercayaanku dia yang kujadikan orang pertama untuk menerima uang-uang itu. Sedangkan aku, hanya duduk diam dan manis saja menikmati semua yang kudapat dengan cara kotor itu. Istriku. Andai kau tahu ini. Mungkin saja kau akan pergi meninggalkanku. Maafkan aku istriku.

    Hari ini sudah kukabulkan permintaan kalian. Persidangan sudah aku tutup. Sekarang nikmati kemenangan kalian. Tapi ingatlah, kemenangan kalian berkat jasaku. Jangan lupakan itu. Camkan. Aku tunggu semua yang kalian janjikan. Dan ingat hanya kita dan Tuhan yang mengetahui semua ini.

    Satu per satu keluarganya datang. Istri, anak dan saudara-saudara yang lain. Mereka menjenguk ke dalam teralis besi itu. Raut-raut wajah kecewa menyelimuti mereka. Ingin memaki tetapi ayah sendiri. Ingin memaki tetapi suami sendiri. Ingin memaki tetapi keluarga sendiri. Tetapi mereka tidak ingin memaki seorang yang sudah tepat berada di depan mereka. Karena mereka sadar, bukan makian yang ia butuhkan. Hanya sedikit rasa iba, belas kasihan dan sedikit kepercayaan untuk menemaninya di jeruji besi itu. Selain itu, karena mereka sadar bahwa sosok yang selama ini menjadi kebanggaan mereka sudah setiap hari dicaci dan dimaki akibat peristiwa memalukan dan memilukan ini. 

    Istriku, ingin rasanya kuseka air matamu. Kuhapuskan kepedihanmu. Anakku. Ingin rasanya kukatakan bahwa aku tetap ayahmu. Dan buat kau bangga memiliki ayah seperti aku. Tapi aku malu melakukannya. Aku malu mengatakannya. Diriku telah menjadi aib bagi kalian. Tak pantas aku rasanya meminta maaf karena kesalahanku yang begitu besar.

    Mereka hanya terdiam. Tanpa kata. Hati mereka menangis. Tatapan mereka kosong. Ada kata yang tak terucap, ada sedih yang tak terungkap, ada benci dan amarah yang tak mungkin terluap. Seakan-akan terjebak dalam sebuah lubang yang dalam. Mereka berusaha keluar dari suasana ini tetapi mereka tidak mampu memulai dari mana untuk mencairkan suasana.

    Sebuah kamera menatapnya dengan tajam, wartawan itu bertanya-tanya dengan nada yang tegas dengan tujuan mendapatkan sebuah jawaban. Tetapi laki-laki paruh baya itu tidak menjawab. Malah ia marah. Mukanya memerah. Marah karena tak mau menjawab, sangat terusik dengan pertanyaan wartawan atau marah karena malu terhadap dirinya sendiri. Lalu, laki-laki itu mendorong kamera itu. Merusak kameranya dan menampar wartawan itu. Lagi-lagi ada cerita baru yang akan dibahas di koran dan televisi tentang Yang Mulia Terhormat ini.

    Lalu, pengacara laki-laki paruh baya itu menjadi perantara. Sering muncul di televisi-televisi dan berita di koran-koran kota. Berusaha meluruskan cerita. Berusaha menjadi perantara laki-laki Yang Mulia Terhormat ini. Pengacara itu berkata seperti hari-hari sebelumnya. Kliennya tidak bersalah. Ia juga berkata bahwa kliennya dijebak. Tak luput ia juga meminta maaf kepada wartawan yang ditampar oleh kliennya. Semua pembicaraannya dan bantahannya menolak dengan tegas semua tuduhan yang dituduhkan kepada kliennya.

    Sekarang, laki-laki paruh baya itu sudah mengundurkan diri. Mengundurkan diri sebelum ia diberhentikan dengan tidak hormat. Berusaha berbuat bijak untuk mengurangi rasa malu. Padahal seharusnya berbuat bijaklah ia untuk tidak menerima sesuatu bentuk apapun dari orang-orang yang terlibat atau berperkara dengannya di meja persidangan.

    Satu-per satu yang terlibat dengan peristiwa ini diperiksa oleh penyidik. Beberapa menjadi saksi, dan beberapa pula ada yang ikut ditangkap juga untuk menemani di jeruji besi. Satu-per satu pula kroni-kroni dan antek-antek mafia peradilan ini yang berusaha menghalalkan segala cara untuk menguasai dan memenangi segala bentuk sengketa pemilu muncul di media massa. Terliput mobil-mobil mewah mereka. Entah datangnya dari mana. Mungkin dari korupsi di daerah yang telah mereka kuasai. Bukan mungkin akan tetapi pasti dari sana. Karena korupsi mereka kaya dan semakin kaya.

    Hari ini mahkamah itu rusuh, sekelompok orang sudah tidak percaya dengan pengadilan yang dinamakan gerbang terakhir konstitusi atau penjaga terakhir konstitusi. Peristiwa ini, baru pertama kali terjadi. Entah mereka sengaja, terencana atau tidak. Mereka merusak meja-meja itu, mereka teriak-teriak meminta keadilan di gedung itu. Merusak berbagai properti di ruangan itu. Pengeras suara dibanting, dihancurkan dan polisi-polisi hanya melihat bingung harus berbuat apa.    

    Ada amarah di mata mereka, amarah yang mungkin saja tertuju kepada seorang yang telah membunuh keadilan di penjaga konstitusi. Hak-hak mereka merasa dicabut, kemenangan mereka serasa dirampas. Rasa keadilan sudah tidak mereka rasakan di negeri ini.  

    Di balik itu semua, ada segerombolan anak kecil di sudut-sudut kota, mereka tidur tanpa alas, mereka tidur tanpa memiliki atap, mereka meminta-minta di jalan-jalan kota. Mereka sedang tidak mengerti dengan yang terjadi di negeri ini. Mereka juga tidak perduli. Mereka hanya memikirkan rasa lapar yang terus berlomba-lomba di dalam perut mereka. Silih berganti.

    Di sudut kota yang lain, ada pedagang-pedagang yang mencari rezeki dengan halal karena sudah tidak adanya lapangan pekerjaan untuk mereka. Mereka berusaha sendiri, dengan modal dari dengkul dan lutut mereka. Berjualan pun mereka harus berlari-lari dikejar-kejar oleh para petugas pamong praja. Para petugas itu membawa pentungan, dan berteriak dengan keras. Sangat keras. Seperti menghadapi pencuri yang sedang mencuri nasi. Akan tetapi tidak terlihat teriakan petugas pamong praja itu saat menghadapi terpidana korupsi yang masih bisa menyunggingkan senyum-senyum mereka dan melambaikan tangan-tangan mereka kepada para wartawan dan kamera yang sedang berada di depannya.

    Di sudut gemerlap remang-remang kota, ada waria yang menjajakan dirinya. Entah terpaksa atau tidak karena himpitan ekonomi atau karena kebutuhan seksual mereka. Dan sekarang di desa, ada pak tani yang terlilit rentenir untuk menghidupi keluarganya dengan harapan bisa dibayar saat panen. Hidup mereka berputar di situ-situ saja. Tanpa impian dan khayalan-khayalan yang terlalu muluk. Pak tani hanya ingin membahagiakan keluarganya.

    Laki-laki itu lupa atau pura-pura lupa. Laki-laki itu tuli atau pura-pura tuli laki-laki paruh baya Yang Mulia Terhormat. Apakah ia tidak melihat di sekitarnya. Tidak melihat di sekelilingnya. Tidak bisa merasakan kesusahan dan jerih payah yang dirasakan oleh masyarakat yang kurang beruntung di negeri ini. Masih banyak kegundahan-kegundahan lain di negeri ini di bangsa ini.

    Tabik, aku lelah menceritakan tentang seorang yang membunuh keadilan di gerbang konstitusi. Ingatlah cerita ini bukan tentang seseorang, melainkan seorang. Semoga kalian tahu perbedaannya. Tuhan berikanlah cahaya-Mu di negeri ini.

     
  8. 19:08

    Notes: 5

    Tags: Cerita

    Hikmah

    Tulisan ini adalah karya Samuel Mulia. Terbit di Kompas, 30 Maret 2014. Nah, kamu memilih yang mana?

    ”Loss has been part of my journey. But it has also shown me what is precious. So has love for which I can only be grateful.” Kalimat penutup dalam film Message in a Bottle itu membuat saya berpikir, mengapa saya selalu mencari rasionalisasi untuk semua kekecewaan yang saya terima dalam hidup ini.

    Lara

    Waktu ayah saya meninggal, seorang kerabat mengatakan kalau saya tak perlu bersedih terlalu lama, karena ayah sudah berada bersama Tuhan. Saya tahu pasti, kalimat itu memiliki tujuan untuk memberi penghiburan. Apakah penghiburan itu datang dari lubuk hatinya, atau sekadar bibirnya bergerak, saya juga tidak tahu.

    Yang jelas, penghiburan itu malah menjengkelkan saya. Pertama, saya berhak merasakan kesedihan tanpa butuh dihibur. Saya perlu merasakan kekesalan yang dalam karena saya tak menerima ayah meninggal.

    Kedua, alangkah tidak tepatnya menghibur orang yang sedang tak membutuhkan penghiburan. Kemampuan mendiamkan mulut agar tak bersuara itu, memang perlu kepekaan yang tinggi.

    Ketiga, dari mana ia tahu bahwa bapak saya sudah bersama Tuhan? Kalaupun kerabat saya itu memiliki iman yang luar biasa, bukankah keputusan masuk surga atau tidak ada di tangan Tuhan?

    Kejadiannya selalu demikian. Penghiburan dijadikan solusi kesedihan. Pengalaman berharga dijadikan antidot kehilangan. Kegagalan selalu dikatakan sebagai keberhasilan yang tertunda.

    Mengapa saya tak pernah berani mengatakan perjalanan hidup saya memang tak pernah berhasil tanpa embel-embel mencari hal yang positif di baliknya? Dan pernyataan klise yang sering kali saya dengar dan sungguh membosankan, adalah ”pasti ada hikmahnya.”

    Ada seorang teman yang selalu mengatakan kalimat ampuhnya, kamu pasti sembuh, kalau ia melihat seseorang sedang sakit. Kesembuhan sudah menjadi milikmu, katanya suatu hari. Singkat cerita, teman yang sakit itu meninggal dunia.

    Kemudian ia mengatakan begini. Meninggal itu sebuah kesembuhan. Kesembuhan tak selalu bersifat fisik, pembebasan rasa sakit adalah kesembuhan. Semua ada hikmahnya. Komentarnya itu sungguh membuat saya naik pitam.

    Selalu saja diusahakan mendapatkan alasan dari sebuah kejadian buruk, selalu diusahakan mencari pembenaran untuk sebuah masalah. Kemudian saya bertanya, mengapa harus demikian?

    Pelipur lara

    Loss has been part of my journey. Loss itu enggak enak. Titik. Apa pentingnya kalimat itu dilanjutkan dengan: it has also shown me what is precious? Kemudian saya berpikir, jangan-jangan setiap kali saya mencoba melihat hikmah di balik kegagalan atau kekecewaan, itu hanya karena saya takut menerima dan mengalami kenyataan yang pahit.

    Karena pahit saya mencari alat pelipur lara yang super bijaksana yang sangat bisa diterima akal sehat. Bisa jadi yang saya lihat dalam sebuah hikmah hanyalah sebuah fatamorgana. Tetapi sejauh fatamorgana itu bersifat melipur lara, yaa…mengapa tidak?

    Pada saat ayah meninggal dan saya begitu kesalnya sampai beberapa minggu lamanya, teman saya berkata begini. ”Kalau elo marah dan kesal terus, emang babe lo idup lagi? Enggak kan?”

    Saya tahu bapak saya tak akan hidup lagi, tapi permasalahannya mengapa orang selalu menganjurkan saya untuk tidak meluapkan rasa kekesalan dengan menerima. Kenapa harus demikian? Mengapa mereka tak membiarkan saya menerima rasa kesal dan menyalurkannya dalam bentuk amarah meski itu tak membuat ayah saya hidup lagi?

    Bahwa pada akhirnya, saya bisa melihat bahwa kejadian itu memberi hikmah dan bernilai, itu hal nomor dua. Lama-lama saya jadi berpikir, keseringan mencoba mencari hikmah malah membuat saya semakin terlihat sebagai seorang loser.

    Kalau mengambil contoh film lawas di atas itu, saya akan bersyukur bahwa saya memiliki cinta, tetapi kalau saya sampai mengatakan bahwa loss has been part of my journey, mengapa saya harus bersyukur menjadi loser setiap saat?

    Dan mengapa harus dilanjutkan dengan kalimat macam but it has also shown me what is precious? Atau kemudian pada keadaan yang lain, saya menyalurkan rasa cinta yang besar itu pada sebuah aktivitas sosial, misalnya.

    Aktivitas sosial tidak saya lakukan dalam bentuk pelarian. Saya harus membiasakan untuk memberanikan diri menerima rasa pahit, rasa kehilangan. Menerima bahwa saya memang gagal, dan kegagalan yang saya hadapi itu bukan sebuah keberhasilan yang tertunda.

    Saya gagal memang karena saya tidak pandai. Ada yang pandai berhitung, ada yang tidak pandai berhitung. Ada yang memiliki kepekaan keenam, saya kedua saja tak punya. Saya memang gagal dan tidak berhasil. Titik.

    Hikmah tidak untuk dicari dengan akal, tetapi dirasakan terjadi secara alamiah saat keadaan buruk dihadapi. Dengan demikian, hikmah akan menjadi sebuah pencerahan bukan sebuah pelipur lara yang masuk akal.