1. Aku adalah sungai. Padamu aku bermuara.
     
  2. 03:43 25th Jul 2014

    Notes: 12

    Anonymous said: Bang akhyar JIL ya?

    alahmak. kemarin kemarin dituduh kader PKS. sekarang dibilang JIL. tolong kalau mencurigai itu yah yang membanggakan gitu. misal: bang Akhyar ini sebenarnya mata mata CIA ya? atau bang Akhyar ini jangan jangan anggota iluminati internasional yang ditugaskan di Indonesia yah? lah ini masak disangkakan menjadi bagian kelompok remeh temeh macam PKS sama JIL.
    perlu saya tegaskan di sini, pandangan saya itu melampaui JIL. saya tersinggung kalau dimasukkan ke “himpunan anggota” mereka. kalau dibilang perspektif saya liberal, bolehlah saya terima :)) nah jika ini dijadikan pegangan anda akan paham mengapa saya tersinggung dihubung hubungkan dengan JIL. lah iya. masak liberal tetapi berjaringan. namanya berjejaring yah pasti ada norma kelompok yang harus diikuti. “liberal”nya yah udah gak poll pollan lagi dong. lagi, liberal kok dibatasi di dalam konsep Islam. liberal, tapi kok terperangkap ngurusin agama doang, jiaahhh…
    ini yang saya maksud melampaui. kalau saya sih yang ditanya, perspektif saya yah liberal, tetapi liberal yang islami, liberal yang menjunjung tinggi nilai nilai perdamaian, jiaahhh jadi panjang deh :))

     
  3. 19:55 23rd Jul 2014

    Notes: 14

    Tags: Religius

    #fatwakhyar jilid 29

    156. Kita begitu merindukan keadilan manifestasi Al Hakim, namun yang bisa kita capai hanyalah putusan hukum dari seorang hakim.

    157. Pada R kita merasa mendekat kepada tuhan, padahal tiada yang jauh dariNya, padaNya tak pantas disandingkan konsep jarak.

    158. Malam ganjil kita mungkin beda, tetapi Tuhan kita tetap sama. Lailatul Qadr bukan perkara organisasi, tetapi kualitas hati.

    159. Sesuai sunnah nabi, iktikaf itu di masjid. Jika ada yang meminta izin ingin iktikaf di hatimu, tanyalah ia, siapa nabinya.

    160. Rakyat tak terlalu peduli kalian minta KPU menunda pengumuman, tetapi akan marah jika kalian usulkan penundaan Maghrib atau THR.

    161. Kita mulai memasuki hari-hari ketika kita sadar betapa besarnya masjid dan betapa kecilnya mall dan jalan kita.

    162. Pada Rtiada yang lebih kita takutkan daripada hasrat yang masih menggelegak atas hal-hal duniawi.

    163. Jika hari-hari akhir Ryang semestinya lebih banyak senyap, pagelaran konsumerisme malah meruap. Kita layak meratap.

    164. Lepas Rtiada yang lebih debar selain saat kita sadar hati kita yang hitam seperti arang menjadi permata berpendar.

    165. Bagaimana bisa kita menyebut rindu saat Rpergi, sementara saat di dalamnya kita tak mencintainya dengan serius.

     

     
  4. 19:43

    Notes: 4

    Tags: prosa

    Menunda-nunda Mati

    Cerita pendek yang cantik ini adalah karya Gde Aryantha Soethama.Terbit di Kompas, 20 Juli 2014. Meskipun berlatar mitis yang sangat lokal, cerita ini tak kehilangan pesan universalnya: cinta. Bagi pembaca Bobo di tahun 2000-an mungkin masih ingat dengan Cerita Bersambung 20 episode “Sawung”. Membaca cerita ini, membuat saya teringat masa-masa ketika masih membaca majalah itu.

    Kutiran telentang di ranjang, menggenggam jemari istri yang duduk duka di tepi dipan. ”Boleh bersedih, tapi jangan menangis!” pintanya sembari merapatkan jari-jemari itu di atas dadanya yang berdetak lemah, dengan jantung nyaris tak berdegup.

    Lepas remang petang Kutiran meminta istri menemani berbaring di bale dangin yang terbuka. Sejak muda ia bercita-cita menikmati napas terakhir di bale adat itu, tempat berbaring terakhir sebelum diantar ke kuburan. ”Kalau aku bisa mati di bale dangin, orang tak repot menggotong jasadku ke bale ini,” ujar Kutiran berulang-ulang kepada kerabat dan sanak saudara.

    Kematian bisa menjemput Kutiran setiap saat. Ia meminta istri terus menatap matanya yang lemah, dengan kelopak berkedip perlahan. ”Jika kelopak mataku tertutup tapi terus bergerak, itu pertanda aku masih hidup, belum sepenuhnya terkalahkan,” jelas Kutiran.

    Rupini cuma bisa mengangguk berkali-kali meyakinkan suaminya. Batinnya terus-menerus menyesali niat Kutiran sok jadi pahlawan menggelar perang tanding melawan Gradug, lelaki sakti ditakuti seisi desa yang sedang memburu ilmu tertinggi pencabut nyawa.

    Lebih seabad silam di desa itu hidup Ki Tampias, manusia sakti yang menguasai aji Tuwah Aukud, ilmu yang tak bisa digandakan, hanya dikuasai satu orang. Pemiliknya pun menjadi satu-satunya, manusia esa. Ki Tampias menggenggam erat ilmu itu setelah mencabut tujuh jiwa dalam perang tanding sukma di Gelagah Puun, tegal alang-alang tepi desa yang dikitari parit berair jernih.

    Ia ditakuti karena dua bola matanya seperti bisa menjulurkan batang api, membuat petani yang ditatap lama menjadi gemetar, sakit kebingungan, lalu linglung sebelum mati pelan-pelan. Warga desa yang bersua manusia sakti itu di jalan, di warung, di rumah warga yang sedang melangsungkan upacara adat, atau jika ada persembahyangan di tempat suci, akan merunduk terus. Petani-petani yang tak ingin menjadi korban menyerahkan sebagian hasil panen, dan lambat laun menjadi hamba sahaya Ki Tampias.

    Gradug ingin menguasai Tuwah Aukud. Ia butuh mencabut satu nyawa lagi, tapi Kutiran menghadang. Ketika tilem, bulan mati, bertepatan dengan hari kajeng kliwon, malam pekat padat gelap gulita, Gradug menyambut tantangan Kutiran. Roh mereka bertarung di tegal Gelagah Puun tepat tengah malam, sementara raga mereka terbujur pulas di rumah masing-masing. Beberapa orang desa memberanikan diri ke tegal itu, menonton dua bola api terkam-menerkam.

    Angin sekencang badai melingkar merobohkan alang-alang, disertai gemuruh seperti puluhan ekor kuda berlari kencang, ketika bola api Kutiran melesat berputar-putar, terpelanting melabrak deretan pohon turi, sebelum terjerembab di bibir parit. Di rumahnya, Kutiran terbangun menahan dada perih dan tenggorokan kering tercekik. Gradug terjaga dengan enteng, langsung duduk, telapak tangan mengusap-usap wajahnya yang berseri-seri. Sebagai pemenang, Gradug bergegas menemui Kutiran di gubuk sawah selepas siang.

    ”Kapan aku bisa merayakan kemenangan, Ran?”

    Kutiran merunduk, lama sekali ia bisu, bingung memilih waktu. Terbayang istri dan putri satu-satunya yang sedang ranum dan siap dipetik taruna desa. Bagaimana mungkin ia meninggalkan mereka setelah menjadi pecundang dalam perang jiwa tadi malam?

    ”Pekan depan saat baik dan nyaman untuk mati. Kamu bisa memilih salah satu hari.”

    ”Beri aku waktu,” pinta Kutiran memelas.

    ”Sampai kapan?”

    ”Kamu bisa menagih setelah anakku menikah.”

    Gradug tersenyum dan mengangguk-angguk. Ia gembira tak terperi karena ia akan menjadi legenda pemilik ilmu Tuwah Aukud. Tak apa ia harus bersabar, toh kemegahan sudah dalam genggaman. Tak lama lagi Ki Tampias akan lahir kembali.

    Tiga bulan berlalu, Gradug datang menagih janji, Kutiran menunda dengan alasan putrinya belum menikah. Setahun, dua tahun, tiga, empat, Gradug terus-menerus menagih karena ia berhasrat segera menjadi legenda tokoh sakti, sosok yang esa. Tapi, Kutiran selalu mengulur waktu, sampai ia sadar semua penundaan itu kehabisan batas tatkala putrinya berulang-ulang mengutarakan niat menikah. Kutiran menghadapi dua desakan: dari Gradug dengan nafsu besar mencabut nyawa, dan dari putri yang ia kasihi, siap membangun kebahagiaan rumah tangga. Dua permintaan tertinggi yang berujung pada satu impitan: betapa ia tak lagi punya banyak waktu untuk menunda-nunda mati.

    Dan inilah malam janji itu harus dipenuhi, empat puluh dua hari setelah Kutiran menikahkan putrinya. Disaksikan Rupini, istri yang dibungkus duka, Kutiran akan melepas jiwa. Sukmanya pergi ke tegal Gelagah Puun, lunglai melewati dua pohon enau, menelusuri jalan setapak, sebelum mendaki ke rimbunan alang-alang. Dari ketinggian ini Kutiran bisa menyaksikan kelap-kelip lampu sunyi di desanya. Duduk bersila di atas rumput, ia menajamkan pendengaran untuk menangkap gemerisik bunyi melintas, pertanda sukma Gradug hadir sebagai jagal.

    Di pembaringan bale dangin, Rupini menatap kelopak mata Kutiran yang terus bergerak-gerak. Ketika kelopak itu berkerjap-kerjap teratur, Rupini beranjak mengganti pakaian dengan kebaya dan kain hitam, mengacak-acak rambutnya yang sepinggang agar tergerai.

    Ia turun ke tengah pekarangan, berdiri tegak, mencakupkan tangan, mengangkat tegak lurus kencang ke atas ubun-ubun menuding langit. Ia hirup lengkap zat malam, mengalirkannya ke seluruh raga dan jiwa menjadi kesejukan, penyerahan dan keberanian, untuk membangun aji Lanus Iying yang ia warisi dari neneknya. Dengan ilmu itu tubuh Rupini akan melenggang seringan selembar daun waru kering, tak berisik, tanpa aroma, sehingga anjing tak kuasa mengendus, unggas tak menyadari kehadirannya.

    Sekuat perasaan disertai keyakinan penuh, Rupini meninggalkan Kutiran terbaring sendiri. Ia butuh tak lebih sepuluh menit menuju rumah Gradug dengan pagar tak berpintu di timur desa. Kendati jalan ke rumah Gradug berkelok-kelok menanjak, dengan aji Lanus Iying, Rupini melangkah seperti lurus-lurus saja, dan cepat sampai.

    Sepasang angsa peliharaan Gradug tetap pulas di kandangnya, dan seekor anjing mendengkur di bawah jendela ketika Rupini menuju bangunan di barat laut pekarangan. Ia tahu, orang-orang yang gemar bertarung jiwa punya bangunan suci khusus buat melepas roh. Di malam berangkat perang mereka merasa seperti prajurit sejati, tidur telentang dengan jendela dan pintu kamar terbuka, agar dalam tepekur, sebelum kelopak mata mengatup, bisa menatap angkasa raya.

    Para petarung itu berbaring dengan kepala tanpa alas. Bantal untuk alas lengan di samping kiri, bagai memegang tameng. Tangan kanan terkepal seperti memegang tombak atau pedang. Kadang jemari mengepal-ngepal halus bagai sedang meninju-ninju sesuatu. Mereka merapal mantra aji Ninggal Gumi, agar sukma bisa berkelana ke tempat keramat, menjadi saksi perang tanding dalam balutan bola api. Jika pesohor berlaga, tempat angker itu riuh oleh banyak bola api yang terayun-ayun. Orang-orang desa menyebut pertempuran itu siat peteng, perang tengah malam yang seru, indah, dan menyeramkan.

    Sulit dan rumit untuk menguasai aji Ninggal Gumi. Mereka yang berbakat dan berpengalaman cuma butuh beberapa menit untuk meninggalkan raga. Tapi, para pemula yang belum lengkap menguasai mantra itu harus waspada karena usai asyik berkelana bisa tersesat kesiangan tak menemukan jalan pulang. Jiwanya tak pernah kembali, ia akan terbujur meninggal dalam tidur di kamar suci.

    Tatkala Rupini masuk kamar suci Gradug, tengkuknya berdesir. Ia menatap sebilah keris tergantung di atas pintu, bersarung kulit macan, untuk menyerang penelusup. Tapi keris itu kini cuma seonggok metal, tuahnya lenyap, takluk pada aji Lanus Iying.

    Gradug terbaring tengadah tanpa baju. Bagi petarung sukma, kulit adalah perisai, seperti baju besi. Pakaian justru menghalangi kekuatan yang bisa diserap dari alam. Kelopak mata Gradug terus berkedip, napas tipis, degup jantung teratur perlahan. Sukmanya riang gembira ke tegal Gelagah Puun hendak mencabut nyawa Kutiran.

    Rupini menggeser lengan Gradug, mengambil bantal, mengangkatnya ke depan dada. Setenang mungkin ia membekap wajah Gradug dengan bantal bersarung putih itu. Kurang dari lima menit Gradug meregang, hanya sesaat menggelinjang, otot pinggul dan betisnya tegang, tangannya menggapai-gapai, kemudian terbenam dalam diam.

    Perempuan berbusana hitam itu meraba leher Gradug, tak terasa denyut sedikit pun. Betapa mudah menghabisi orang yang sukmanya sedang pergi berperang. Di medan pertarungan roh itu luar biasa tangguh, berpendar menjadi bola api membangkitkan gemuruh, berkelebat ke segenap penjuru. Tapi di pembaringan, raga yang ditinggalkan amat rapuh, cuma dijaga oleh jimat di dinding atau diselipkan di bawah tikar. Raga bisa terbunuh hanya dengan beberapa sentuhan dan goyangan, setelah kekuatan jimat dibekukan.

    Rupini bergegas pulang setelah meletakkan bantal ke tempat semula. Tak akan ada jejak mencurigakan di kamar suci itu telah terjadi pembunuhan. Dokter yang memeriksa jasad akan menjelaskan, Gradug meninggal karena serangan jantung. Tapi orang-orang desa sangat yakin Gradug tewas dalam siat peteng.

    Di tegal Gelagah Puun, sukma Kutiran berdebar-debar menunggu Gradug tak kunjung datang. Waktu terus berpacu, malam akan berlalu, dan sebentar lagi dini hari. Kutiran menebak-nebak, apakah Gradug lupa janji? Dalam kebingungan, Kutiran memutuskan beranjak pulang. Jika dini hari semakin dekat, sukma itu akan tersesat, tak bersua jalan untuk kembali. Ia akan lenyap redup perlahan karena melewati batas waktu yang direstui bumi.

    Beberapa orang desa yang berani datang ke tegal alang-alang itu sangat kecewa. Dengan hati tetap dag-dig-dug, mereka urung menyaksikan tontonan bola api jiwa yang dicabut melesat ke angkasa, pecah berpendar tercerai berai indah seperti kembang api melukis langit malam.

    Tiba di bale dangin, Rupini bergegas duduk di tepi dipan, menggenggam erat jemari suami. Ia menatap kelopak mata Kutiran yang berkerjap-kerjap cepat, semakin cepat ketika kokok ayam menyambut dini hari mulai terdengar dari belakang rumah.

    Tiba-tiba mata Kutiran terbuka, terbelalak, pupilnya benderang, tercengang terheran-heran, seakan ia berada di tempat yang sama sekali tidak dikenalnya.

    ”Dia tidak datang, Pin! Mengapa Gradug tidak datang?”

    Rupini memeluk ketat Kutiran, meremas-remas rambutnya, mencium pipi dan lehernya berulang-ulang, mengulum bibirnya berkali-kali. Duka yang tadi mendesak-desak kini menjadi letupan-letupan gairah. Kutiran menyambut gelegak berahi dini hari itu dengan menepuk-nepuk pinggul Rupini, seperti yang biasa ia lakukan sebelum mereka bercinta.

     
  5. 19:33

    Notes: 6

    Tags: Cerita

    Alamat Tepat

    Tulisan ini adalah karya Samuel Mulia. Terbit di Kompas, 20 Juli 2014. Mari curhat…

    Malu bertanya sesat di jalan. Benarkah karena malu seseorang tersesat? Saya lebih percaya, kalau seseorang itu tersesat karena salah alamat bertanya. Bukan karena perasaan malu. Itu pendapat saya.

    ”Gue bisa bayangin kok”

    Saya terinspirasi menulis hal ini, setelah mulai memperhatikan bagaimana saya menceritakan problem pribadi, keluarga, spiritual, atau profesional kepada orang-orang yang awalnya saya pikir merupakan alamat tepat untuk didatangi dan dapat memberikan jalan keluar.

    Acapkali saya malah makin sengsara karena setiap kali saya menanyakan sesuatu kepada mereka, saya kok merasa pendapat yang diutarakan itu seperti jawaban dari sebuah simulasi problema.

    Tampaknya mereka memiliki prinsip, kalau ada yang bertanya, maka saya harus bisa menjawab. Bahkan, ketika mungkin, mereka sendiri tahu bahwa mereka tak bisa memberi jalan keluar.

    Karena sesungguhnya mereka belum pernah mengalami apa yang saya alami. Sehingga kalimat macam ”Gue bisa bayangin kok” itu selalu muncul dalam percakapan. Bagaimana mereka bisa membayangkan persoalan saya? La wong mereka tak pernah merasakan pengalaman mau mati di meja operasi?

    Bagaimana mereka bisa merasakan yang namanya kebebasan berpikir, la wong orangtua saya sudah mengajarkan hal itu sejak masih muda dahulu, sementara mereka harus berpura-pura setuju dengan pendapat orang tua, sementara hati mereka memberontak?

    Sejujurnya, saya ini ingin mendapat jalan keluar, bukan karena itu di dasari dari apa yang pernah mereka alami dalam hidup mereka, bukan berdasarkan pendidikan yang mereka terima, bukan karena nilai-nilai yang mereka anggap benar.

    Saya ingin mendapat jawaban seperti menanyakan kepada seseorang yang bepergian ke sebuah kota yang ia temui sendiri melalui ketersesatan, dan bukan karena sudah membaca buku petunjuk sebelumnya. Karena menurut saya ketersesatan memberikan mereka pengalaman berbeda, sementara yang dari buku petunjuk memberikan mereka pengalaman yang seperti seragam anak SMA.

    Maka di hari libur ini, saya akan berbagi pengalaman mencari alamat tepat, agar Anda jangan seperti saya, dengan mudah menyalahkan orang karena Anda merasa mereka tidak mengerti Anda. Kalau Anda tak merasa perlu memercayai apa yang saya bagikan, itu hak Anda sepenuhnya.

    Mencari yang terbuka

    Hal pertama adalah menanamkan sebuah pemikiran bahwa mencari alamat untuk curhat itu tak perlu kepada mereka yang memiliki pengalaman yang sama atau mirip, dan yang memiliki jam terbang yang tinggi.

    Yang utama adalah mendatangi seseorang yang berpikiran terbuka. Orang yang memiliki pemikiran terbuka itu jarang sekali menghakimi, mereka tak memiliki cara pandang yang ekstrem, yang emosional, yang menganggap dirinya benar, apalagi kalau sudah sampai pada hal-hal yang berbau spiritual.

    Orang yang memiliki pemikiran terbuka, akan mampu memberi rasa nyaman. Rasa itu diperlukan kalau orang sedang mengalami problema. Mereka mampu melihat persoalan dengan tenang, karena mereka tidak melibatkan perjalanan pribadi mereka.

    Mereka tidak melibatkan pendidikan mereka. Mereka adalah manusia yang mampu melihat persoalan Anda, seperti seseorang yang menemukan tempat baru yang indah karena tersesat bukan karena membaca buku petunjuk.

    Orang yang tersesat pernah merasa takut, meski akhirnya menemukan jalan keluar yang melegakan. Itu yang menyebabkan orang yang berpikiran terbuka akan mengerti kesesatan Anda, akan mengerti bagaimana ketakutan Anda, dan mereka akan juga mengerti kelegaan setelah tersesat.

    Mereka yang berpikiran terbuka tak akan melibatkan kata tidak setuju atau setuju dengan persoalan Anda. Mereka akan membantu memberikan pencerahan dan terutama memberikan konsep berpikir untuk memecahkan masalah, bukan menjawab satu per satu masalah Anda dan berakhir dengan diskusi panjang yang tak berujung.

    Mereka yang hidup berdasarkan buku petunjuk, akan susah mengerti persoalan Anda. Mereka akan menerapkan SOP mereka untuk Anda. Dan kalau di dalam SOP tak ada jawaban untuk pengalaman yang Anda hadapi, karena mereka belum pernah mengalaminya, mereka kemudian tak tahu memberi jawaban.

    Dan hasil dari ketidaktahuan itu biasanya berakhir dalam bentuk menghakimi, bahkan sebelum Anda selesai menuntaskan cerita. Mereka tidak mengajarkan Anda berpikir soal konsep pemecahan masalah, mereka mengajarkan SOP mereka untuk Anda.

    Kedua, cari manusia yang masuk ke dalam kategori a good listener. Tetapi itu tidak cukup. Karena pendengar yang baik, belum tentu menyimak dengan baik. Saya sarankan, jangan pernah Anda bercerita kepada mereka yang senangnya bermain social media seperti tak ada hari esok.

    Pengalaman saya mengajarkan, mereka akan tetap berkonsentrasi dengan gadgetmereka, bahkan saat Anda lagi curhat. Mendengar dan menyimak itu, berbedanya seperti rasa air tawar dan air laut.

    Singkatnya, kalau Anda tak mau tersesat, alamat yang paling tepat untuk didatangi adalah mereka yang pernah merasakan apa yang disebut tersesat dan kemudian menemukan jalan keluar dari ketersesatan itu. Jangan mendatangi yang masih tersesat!

     
  6. 19:22

    Notes: 5

    Tags: politik luar negeri

    Dunia Belajar dari Kegagalan Traktat Versailles

    Ditulis oleh Simon Saragih. Terbit di Kompas, 20 Juli 2014. Yang mazhab ekonominya Keyneysian, acung tangan. 

    Perang Dunia I mengubah perekonomian dunia begitu dahsyat walau dengan jalan yang sempat memilukan nurani kemanusiaan.

    Pemicu perang adalah kematian Franz Ferdinand, calon pemimpin Kekaisaran Austria-Hongaria, di Sarajevo, Serbia. Kematian Ferdinand membuat Austria-Hongaria, yang dulu menguasai banyak negara, menyerang Serbia.

    Kekaisaran Rusia tak bisa menerima serangan itu karena ingin melindungi etnis Slavia. Ini menyeret negara-negara di bawah Austria-Hongaria dan musuhnya dalam perang global.

    Jerman yang menjadi sekutu Kekaisaran Austria-Hongaria menjadi andalan karena kekuatan terbesar saat itu. Perang Dunia I pun menyeret masuk Amerika Serikat (AS).

    PD I berakhir pada 1918 dengan kekalahan Jerman dan disegel lewat perjanjian damai bernama Traktat Versailles.. Traktat itu dibahas dan diteken di Versailles, Perancis, oleh Presiden AS Woodrow Wilson, Perdana Menteri (PM) Inggris David Lloyd George, dan PM Perancis Georges Clemenceau pada 1919.

    Jerman tak hadir karena tidak diundang, tetapi terpaksa meneken, seperti dituturkan HW Brands, sejarawan Universitas Texas, AS, di situs kanal televisi The History Channel.

    Traktat Versailles kemudian melahirkan malapetaka lanjutan. ”Faktanya, Traktat Versailles malah memicu benih Perang Dunia II,” kata Robert J Dalessandro, Direktur US Army Center of Military History. Hal serupa dikatakan sejarawan militer David Silbey.

    Apa pasal? Di Traktat Versailles ada 14 poin yang ditekankan Presiden Wilson. Poin ke-9 meminta Jerman membayar ganti rugi ke negara yang rusak karena diserang. Semua pihak menerima saja poin-poin itu, termasuk perlucutan wilayah di bawah kekuasaan Kekaisaran Austria-Hongaria.

    Peringatan Keynes

    Namun, dalam salah satu sesi pembahasan Traktat Versailles pada 1919, PM Inggris membawa ekonom muda yang sangat brilian, John Maynard Keynes, dari Universitas Cambridge. Dia adalah ekonom yang wajib diketahui setiap orang yang belajar ekonomi. Lewat PM Inggris, Keynes mengingatkan Sekutu bahwa traktat itu akan menghancurkan perekonomian Eropa meski perang telah usai.

    Keynes mengusulkan rencana agar Sekutu lebih dulu memberi Jerman bantuan pembangunan kembali ekonomi, bukan meminta negara itu membayar
    biaya rehabilitasi perang. Ini agar ekonomi Jerman bangkit dan setelah itu baru diminta membayar denda.

    PM Lloyd George setuju dengan usulan Keynes, tetapi Presiden Wilson menolaknya. PM Perancis memengaruhi Presiden Wilson untuk balas dendam kepada Jerman.

    Kepada seorang teman,
    Keynes menulis surat dan menuduh Presiden Wilson sebagai ”pemeras terbesar di dunia”. Presiden Wilson punya argumentasi bahwa Kongres AS pasti tak setuju dengan usulan
    Keynes.

    Politik adalah politik, tetapi ekonomi adalah ekonomi.
    Keynes mengatakan, jika Eropa ingin dibangun kembali, Traktat Versailles harus diubah. Karena usulannya gagal, Keynes menyatakan mundur dari jajaran staf pemerintahan Inggris pada 1919.

    Berdampak buruk

    Sekutu tetap melanjutkan sanksi. Bahkan, kawasan pertambangan Ruhr di Jerman diinvasi Perancis dan Belgia karena Jerman tak mampu bayar denda. Jerman pun ibarat sudah tak mampu lagi membeli sepotong roti akibat ekonomi yang semakin kacau. Pada akhirnya, perekonomian Inggris terkena dampak buruk, demikian pula AS. Muncullah Malaise atau depresi terbesar sepanjang masa pada 1929.

    Di Jerman, derita rakyat secara ekonomi memunculkan perlawanan terhadap para politisinya yang dinilai telah menggadaikan Jerman lewat Traktat Versailles. Benih nasionalisme ekstrem pun muncul.

    Partai Nazi kemudian mencuat dan pamor Adolf Hitler melejit. Meski sempat diredam, rakyat menaruh simpati besar kepada partai itu. Inilah bibit PD II saat Jerman lewat Nazi memobilisasi massa demi perang.

    Kekhawatiran Keynes pun menjadi kenyataan. Dalam pandangan Keynes, dunia kala itu sudah saling terkait secara ekonomi. Itu sebabnya kehancuran ekonomi Jerman akan memukul balik ekonomi seluruh dunia.

    Jauh sebelum Malaise dan jauh sebelum meletusnya PD II, Keynes menuliskan dampak buruk Traktat Versailles lewat buku berjudul The Economic Consequences of the Peaceyang diterbitkan Desember 1919.

    Mengubah strategi

    Keynes melihat dendam politik tak berkorelasi positif dengan niat pembangunan kembali Jerman. Keynes wafat pada 1946. Akan tetapi, teorinya soal pembangunan kembali ekonomi seusai perang akhirnya diterapkan. Seusai PD II, AS dan Sekutu mengubah taktik dan strategi pembangunan ekonomi pasca perang.

    Lewat Marshall Plan, AS mengubah arah dan membantu reparasi ekonomi Jerman dan sejumlah negara Eropa lewat bantuan dana pembangunan ekonomi. Marshall Plan mengambil nama Menlu AS saat itu, George Marshall.

    Presiden AS Harry Truman mengubah pendekatan yang dilakukan Wilson seusai PD I. Hasilnya adalah booming perekonomian dunia yang melejitkan perekonomian AS, Jerman, Jepang, dan seantero Eropa. Ini juga efektif meredam ekspansi komunisme Uni Soviet.

    Dunia belajar dari cara
    Keynes memandang pola pembangunan kembali ekonomi, yakni bangun dulu perekonomian sehingga semua orang puas, bahagia, dan punya uang untuk membayar utang. Pengaruh tulisan Keynes lewat bukunya itu turut menguatkan opini publik AS soal perubahan strategi rehabilitasi Eropa.

    Keynes juga termasuk otak pendirian lembaga dunia Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia. Intinya, kolaborasi akbar dunia diperlukan dalam pembangunan di segala bidang untuk membangkitkan ekonomi dunia dari kehancuran.

    Keynes juga menorehkan keyakinan kuat bagi para perencana pembangunan ekonomi bahwa pemerintah harus tampil sebagai penyelamat ekonomi. Perang pemerintah itu dilengkapi dengan liberalisasi perdagangan dan meninggalkan
    mazhab merkantilisme saat negara-negara hanya ingin mengekspor, tetapi menekan impor. Keynes menginginkan kolaborasi dagang di antara negara-negara dengan mengandalkan daya saing dan inovasi.

    Warisan pemikiran Keynes ini dipakai di banyak negara dan stimulus dana pemerintah adalah salah satu cara paling efektif membangkitkan perekonomian yang rusak, seperti ditulis
    Keynes di buku The General Theory of Employment, Interest and Money. Ide seperti ini belum terbayangkan banyak teknokrat saat itu.

    Ini adalah juga teori pembangunan ekonomi yang diterapkan di Indonesia pada awal Orde Baru. Indonesia diberikan bantuan dana dan investasi asal AS, Eropa, dan Jepang. Sejak itu ekonomi RI pun melejit terus hingga sekarang. Terbukti bahwa sebuah negara bisa berkembang dari ketiadaan uang, yakni dengan utang yang dijamin pembayarannya oleh pemerintah.

    Hugh Rockoff, ekonom AS dari The National Bureau of Economic Research (NBER), di situs NBER mengatakan, PD I mengubah cara pandang tentang peran pemerintah dalam pembangunan ekonomi.

    Uni Soviet mendaulat postulat Keynes ini sebagai penguat dasar pemikiran ekonomi ideologi komunis bahwa pemerintah benar-benar harus tampil sebagai penggerak ekonomi. Bedanya, Keynes tak menginginkan pemandulan peran swasta seperti yang dilakukan komunis.

    Dunia telah belajar dari kegagalan Traktat Versailles.

     
  7. 19:11

    Notes: 8

    Tags: Politik

    Cerita dari ”Sono”

    Terbit di Kompas, 20 Juli 2014. Tulisan ini membantu kita untuk mempertahankan harapan pada politik.

    Seorang kawan pernah bercerita tentang permusuhan serta persahabatan antara Abraham Lincoln (1609-1865), presiden ke-16 AS (Maret 1861-April 1865), dan Edwin McMasters Stanton (1814-1869), seorang pengacara sekaligus politisi. Lincoln, di mata Stanton, tidak ada yang baik.

    Ketika Lincoln menjadi kandidat presiden AS pada 1860, Stanton sangat gencar mengkritiknya. Kritiknya begitu tajam, bahkan cenderung kelewat batas. Segala pendapat, wawasan, sikap, tindak tanduk, bahkan penampilan fisik Lincoln, tak luput dari serangan dan kritik Stanton. Orang-orang pintar menyebutnya sebagai destructive campaign, kampanye yang menghancurkan dengan segala cara.

    Dari sisi wajah, Lincoln bisa dikatakan tidak tampan. Wajahnya tirus dengan tulang pipi menonjol, hidung begitu mancung dan besar, serta telinga besar. Semua itu menjadi bahan ledekan Stanton. Namun, ternyata orang yang tak tampan itu tercatat sebagai presiden besar dan hebat dalam sejarah AS. Lincoln-lah yang membuat rumusan bahwa demokrasi itu adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

    Stanton tak menduga bahwa orang yang di matanya tidak bermutu itu ternyata begitu hebat. Ketika pada 1860 Stanton diangkat menjadi jaksa agung oleh Presiden James Buchanan dari Demokrat (sebenarnya saat itu Buchanan adalah presiden bebek pincang atau lame duck karena presiden baru sudah terpilih, yakni Lincoln, dan hanya menunggu pelantikannya), ketidaksukaannya terhadap Lincoln menjadi-jadi.

    Setelah Lincoln dilantik sebagai presiden, dalam suratnya kepada Buchanan pada 1861, Stanton menulis, ”Kesintingan pemerintah ini memuncak dalam malapetaka dan kemalangan serta aib nasional tak dapat ditebus kembali… sebagai hasil dari pemerintahan Lincoln dalam lima bulan ini.”

    Meski demikian, Lincoln tak lama kemudian mengangkat Stanton sebagai penasihat hukum dan kemudian menjadi Menteri Pertahanan pada saat yang sangat penting. Sebab, saat itu, AS dilanda perang saudara. Meski sudah masuk menjadi anggota kabinet, Stanton tetap mengkritik Lincoln.

    Suatu hari, Stanton mengatakan kepada seorang anggota Kongres bahwa Lincoln itu ”benar-benar bodoh”. Ketika anggota Kongres itu bercerita kepada Lincoln, Lincoln bertanya, ”Apa benar Stanton mengatakan saya bodoh?” Jawab anggota Kongres itu, ”Ya, Bapak Presiden, bahkan dia tidak hanya sekali mengatakan hal itu.” Dengan enteng Lincoln mengatakan, ”Kalau Stanton mengatakan saya benar-benar bodoh, memang demikianlah adanya, karena ia hampir selalu benar, dan biasanya ia mengatakan apa yang ada dalam hatinya.”

    Meski dibilang sangat bodoh, Lincoln tetap bisa bekerja baik dengan Stanton yang memang dikenal sebagai pekerja keras. Bahkan, setelah kematian Lincoln karena dibunuh, Stanton menjadi orang paling berkuasa di AS karena kehebatannya. Padahal, dia bukanlah seorang presiden.

    Lincoln telah mengubah musuh menjadi sahabat karibnya dan pekerja yang hebat. Padahal, sebelumnya, orang-orang di sekitar Lincoln—yang biasanya omongannya sangat beracun—mengatakan, Stanton bisa menusuk dari belakang. Namun, Lincoln mengatakan, demi kepentingan negara, Stanton-lah orang yang paling dipercaya dan tepat bekerja dengannya.

     
  8. 19:33 17th Jul 2014

    Notes: 16

    Tags: Religius

    #fatwakhyar jilid 28

    146. Judul poster itu “Jadwal Imsakiyah”, tetapi hal pertama yang kita lihat dan ingat kapan Maghrib tepatnya tiba.

    147. Saat Rsemua menjadi islami, dari pakaian bermerk luar negeri hingga rak toko buku, yang tidak hanya majalah dewasa.

    148. Demokrasi ini ramai karena orang yang tak paham benar beda sampel dan populasi pun diizinkan ikut lantang berbicara. 

    149. Setelah sibuk dengan satu atau dua, mari kita beranjak ke (sila) tiga: Persatuan Indonesia.

    150. Kita telah memilih presiden yang menurut kita paling baik, namun masih harus memilih serius atau tidak menjalani Rini.

    151. Duka pada derita masyarakat Palestina karena rasa kemanusiaan bukan rasa seagama, tak menjadikan duka itu lebih tinggi nilainya.

    152. Kita mesti bertanya apakah keriuhan dalam mempersoalkan hitung cepat pemilu membuat kita lalai menghitung cepat dosa dosa kita.

    153. Bani Israil yang diceritakan di dalam Al Quran dan Israel sebagai negara adalah entitas yang berbeda.

    154. Rditinggalkan hiburan pengiring sahur dan buka: Pilpres dan Piala Dunia, tanda kita harus fokus sebenarnya pada Tuhan.

    155. Kadang bukan bertaburannya pahala di Ryang kita rindukan, tetapi diri kita yang lain, yang begitu dekat dengan Tuhan.