1. Tidak ada waktu yang lebih menyenangkan selain senja yang dihabiskan bersamamu. Sampai-sampai, aku ingin menumbuhkan senja di sepanjang hari dalam hidupku. Hingga saat kita bertemu selalu di dalam senja.
     
  2. 19:22 12th Sep 2014

    Notes: 4

    Tags: prosa

    Hotel Tua

    Cerita pendek yang sublim ini adalah karya Budi DarmaTerbit di Kompas, 7 September 2014. Benar-benar… 

    Rapat berlarut-larut sampai malam, tidak mungkin saya pulang ke Surabaya. Kebetulan di pekarangan gedung rapat ada sopir taksi berwajah kocak, berlagak seolah-olah sedang khusus menunggu saya. ”Tadi banyak yang akan naik taksi saya, tapi saya tolak,” katanya.

    Lebih kurang setengah jam kemudian, taksi masuk ke pekarangan sebuah hotel tua dan kumuh.

    Sopir taksi berkata, ”Hotel baru, dibikin seperti tua. Klasik. Kumuh tampaknya, tapi bersih.”

    Seorang pegawai berpakaian badut buru-buru menjemput saya, mengarahkan saya ke resepsionis. Dengan mata tajam resepsionis memandang saya, lalu dengan senyum tersembunyi mempersilakan saya mengisi daftar tamu, lalu berkata, ”Bos memberi titah, tamu terhormat tidak perlu membayar. Nginap, makan, cuci, tilpun ditanggung hotel.”

    Lift menuju ke kamar saya di tingkat lima berjalan sangat lamban, berguncang-guncang, dan mengeluarkan bunyi gaduh. Rasanya hampir jatuh berantakan. Lampunya redup, baunya apek.

    Ternyata kamarnya bagus, lapang, dan bersih. Ada panci dan wajan penggorengan, tapi tidak ada dapurnya. Ada palu, tapi tidak ada pakunya. Ada penumbuk padi, tapi tidak ada lesungnya. Ada senapan angin, tapi kosong. Dan ada macam-macam lagi yang tampaknya bisa membuat gaduh.

    Di laci meja tersembul tulisan kabur pada kertas tipis: ”Penggunaan semua alat dalam kamar di luar tanggung jawab hotel”.

    Tidak lama kemudian dua pegawai hotel mengetuk pintu, mengajak saya bertemu bosnya di lantai 10. Seperti tadi, lift bergerak lamban, bergoyang-goyang, berbunyi gaduh, rasanya akan segera jatuh. Lampunya redup, baunya apek.

    Bos mereka duduk di kursi roda dan begitu melihat saya, dia berseru, ”Selamat datang, Burhan.”

    Dia memperkenalkan diri dengan nama Wibowo, nama Indonesia, dan dia menamakan diri Pedro di Filipina, Prangsang di Thailand, Nikimura di Jepang, dan Sagan di Perancis. Tergantung di negara mana dia berada. Lalu dia pamer, dia menguasai banyak bahasa.

    ”Mungkin kamu tidak kenal saya. Beberapa tahun setelah kamu lulus sebagai doktor filsafat dari Indiana University, saya masuk.”

    Dia memencet laptop dan terpampanglah data mengenai saya lengkap dengan gambar yang sebagian kusam dan sebagian meyakinkan. Ada juga video agak gelap ketika saya menolong anjing di Sungai Jordan.

    ”Wajah kamu tampak tenang ketika kamu berhadapan dengan perempuan-perempuan telanjang,” katanya, bergantian menuding-nuding saya dan gambar di layar dinding.

    Memang, ketika saya menjadi mahasiswa, beberapa kali saya diminta oleh biro iklan untuk ikut memilih model, tapi saya tidak menduga semua gerak-gerik saya ditangkap oleh kamera foto dan video.

    ”Kalau kamu ingin tahu nama saya yang sebenarnya, saya Johny, Johny Gallagher. Karena dalam tubuh saya mengalir berbagai darah, saya tidak pernah tahu siapa saya sebenarnya. Darah Perancis ada, darah Jerman ada, darah Ukraina ada, dan darah-darah lain. Kamu pasti tahu, di Ngagel Surabaya dulu ada pabrik tekstil. Tidak jauh dari makam. Di pojok perempatan. Pemiliknya pernah menjadi serdadu Perang Dunia I. Dia salah seorang nenek moyang saya.”

    Setelah memandangi saya agak lama dia berkata, ”Mengapa kamu diam, Burhan?”

    ”Saya tertarik cerita kamu. Rasa-rasanya saya mengenal kamu.”

    Dia diam sebentar, kemudian meluncurkan kursi rodanya menuju ke piano. Dia mainkan lagu Madonna, ”Don’t Cry for Me Argentina”, dari film Evita Peron. Evita lahir dalam keluarga melarat, pernah menjadi pelacur murahan untuk mempertahankan hidupnya. Karena pribadinya kuat dan otaknya cerdas, dia diperistri oleh Juan Peron, Presiden Argentina yang mampu bertahan dengan tangan besi sampai tiga masa jabatan. Di bawah pengaruh Evita, Argentina menjadi makmur. Dalam lagu ”Don’t Cry for Me Argentia” Madonna mampu menghayati pahit getirnya kehidupan Evita dan rakyat Argentina, dan laki-laki di kursi roda itu juga mampu menghayati jiwa Evita melalui permainan pianonya.

    Setelah usai memainkan piano, dia kembali ke laptopnya, kemudian memutar cuplikan film, dan berkata, ”Tengok! Salah seorang di antara kerumunan orang itu adalah saya. Itu dia, yang menyanyi dengan suara lirih. Mengiringi suara menyayat hati Madonna.”

    ”Kamu hebat, Johny,” kata saya.

    Wajahnya biasa-biasa saja, lalu berkata, ”Kamu lebih hebat, Burhan. Saya tahu kamu pengagum ayah kamu, seorang pedagang keliling. Kamu diajari cara tepat untuk menembak burung terbang dengan senapan angin. Dalam tujuh kali tembakan, tujuh burung rontok satu-satu, seolah-olah jatuh dari surga ke neraka. Ingat, saya punya banyak data mengenai kamu.”

    Diam sebentar. Kemudian dengan kursi rodanya dia meluncur ke sebuah almari, mengambil sebuah buku, lalu meluncur kembali ke arah saya, lalu meletakkan buku itu di meja.

    ”Saya tahu, sesudah kamu lulus dari Indiana University di Bloomington, sudah beberapa kali kamu balik ke Bloomington.”

    ”Saya punya banyak mata dan saya punya banyak kuping di Bloomington. Dan saya bisa membayangkan, ada seorang mahasiswa cerdas, mampu membuat onar. Pada suatu malam di bulan Desember, ketika musim salju sedang mencapai puncaknya dan salju sedang berguguran dengan amat lebatnya, segerombolan mahasiswa laki-laki telanjang menggedor-gedor pintu asrama mahasiswa perempuan, pura-pura takut dikejar gerombolan serigala. Pintu dibuka, beberapa mahasiswa perempuan pingsan. Ketika polisi dilapori, mereka malah tertawa terbahak-bahak. Saya bisa membayangkan, komandan gerombolan mahasiswa telanjang itu pasti cerdas.”

    Sesudah itu, seolah-olah terkena sihir, saya kurang tahu apa yang saya lakukan. Saya merasa berjalan dalam mimpi, diikuti dua pegawai hotel dengan sembunyi-sembunyi. Dan saya juga merasa ternyata jumlah tamu hotel cukup banyak. Di setiap lantai saya melihat banyak tamu keluar masuk kamar mereka.

    Begitu masuk kamar, rasa kantuk saya hilang dan pikiran melayang ke peristiwa dalam lift. Semua lift itu merek Otis. Saya buka laptop, lalu saya ketik Otis dan bermunculanlah begitu banyak data mengenai Elisha Otis, pencipta lift pertama di dunia. Lift pertama ciptaan Otis selalu lambat, bergoyang-goyang, dan suaranya gaduh. Dan sekarang banyak orang ingin memakai lift Otis yang aman, tapi lambat, bergoyang-goyang, terasa akan jatuh, dan gaduh. Banyak orang, terutama yang kaya, tidak bisa membebaskan diri dari kerinduan masa lampau.

    Tidak lama kemudian, tiga pegawai hotel mengetuk pintu, menyampaikan permohonan maaf karena bos mereka lupa memberikan buku di meja tadi. Buku ditulis oleh Johny Gallagher, judul Psycho-Revenge: The Imperative Human Needs, didedikasikan kepada Burhan, penulis buku New Paradigm of Psycho-Revenge. Balas dendam, demikianlah bunyi sebagian kalimat dalam buku itu, tidak bisa dinafikan dalam naluri manusia. Ada pula kutipan kisah mengenai surat yang dicuri, saduran cerpen Edgar Allan Poe, ”The Purloined Letter”, tentang persaingan cinta dan dendam, sampai akhirnya membuahkan kematian. Demikianlah kisahnya.

    1. Menteri sedang berdiskusi dengan Ratu, lalu dengan mendadak dan tanpa diduga, Raja datang. Raja tahu bahwa Ratu berusaha agar Raja tidak mengetahui surat di tangan Ratu, namun Ratu tidak dapat menyembunyikannya. Ketika perhatian Raja dan Ratu sedang tidak berada pada surat itu, Menteri mengganti surat itu dengan surat lain yang mirip dari sakunya.

    2. Ratu kemudian sadar bahwa surat di tangannya tadi telah hilang dan dia langsung mencurigai Menteri. Begitu Menteri pergi, Ratu memberi titah kepada Kepala Polisi dan anak-buahnya untuk menggeledah tempat-tinggal Menteri. Kepala Polisi beserta anak-buahnya dengan segala daya dan cara berusaha untuk menemukan surat itu, namun, ternyata, mereka tidak dapat menemukan apa-apa.

    3. Karena putus asa, Ratu minta tolong Dupin. Menurut kesimpulan Dupin, tidak mungkin surat itu disembunyikan di rumah Menteri. Kalau memang disembunyikan, surat itu pasti akan ditemukan. Karena tidak ditemukan, maka pasti surat itu tidak disembunyikan. Akhirnya memang dia menemukan surat itu, lalu surat itu diletakkan sedemikian rupa sehingga nanti kalau dia kembali lagi ke rumah Menteri, dia dapat mengganti surat itu dengan surat serupa.

    4. Dupin datang lagi, lalu mengganti surat itu dengan surat palsu yang serupa. Oleh Dupin surat dikembalikan ke Ratu dan sadarlah Menteri kemudian bahwa dia akan segera jatuh. Sebuah catatan dalam surat palsu tersebut menyatakan bahwa tindakan Dupin terhadap Menteri adalah sebuah balas dendam. Dulu, ketika Dupin dan Menteri masih sama-sama muda, mereka rebutan pacar dan dengan akal bulus Menteri dapat mengalahkan Dupin.

    Kantuk menyerang lagi. Beberapa saat sebelum tertidur saya masih sempat bertanya-tanya mengapa wajah Johny Gallagher tampak kosong ketika saya bercerita mengenai gerombolan mahasiswa telanjang. Seolah-olah dia tidak merasa bahwa saya berbicara mengenai dia.

    Sekonyong-konyong saya terlempar dan tahu-tahu sudah berdiri dekat meja, memegang kertas dengan tulisan kabur, ”Penggunaan semua alat dalam kamar ini di luar tanggung jawab hotel”. Hotel terasa bergetar oleh teriakan-
    teriakan kasar, suara saling beradu, dan benda-benda keras dibentur-benturkan ke tembok dan entah ke mana lagi.

    Apa yang pernah saya bayangkan menjadi kenyataan. Johny Gallagher dulu menjadi pemimpin asrama Beta Kapa Kapa dan dia mempunyai resep jitu untuk meredam rasa tertekan mahasiswa. Salah satunya dengan cara mengirim gerombolan mahasiswa telanjang. Dia mengatasnamakan mahasiswa, tapi sebetulnya untuk kepentingannya sendiri. Dia bermasalah, dan atas nama mahasiswa, dia memperalat mahasiswa. Lalu, pada malam-malam tertentu dia memerintah teman-
    temannya untuk berteriak keras-keras, memaki-maki, memukul-mukul dengan apa pun dan kepada siapa pun, selama sepuluh menit. Juga untuk meredam rasa tertekan. Itu dulu. Sekarang dia pasti lebih licin.

    Dengan memencet tombol dan menimbulkan dering memukau di seluruh bagian hotel, Johny Gallagher menyihir semua tamu untuk berteriak keras-keras, memaki-maki, kalau perlu sesama tamu saling gebuk. Semua alat untuk menggebuk sudah tersedia di kamar. Maka mereka pun saling tinju, saling pukul, kalau perlu saling hantam kepala dengan palu. Dan mereka dipersilakan keluar kamar untuk mengejar tamu-tamu lain.

     
  3. 19:11

    Notes: 3

    Tags: Cerita

    Memelihara

    Tulisan ini adalah karya Samuel Mulia. Terbit di Kompas, 7 September 2014. Mari memelihara…

    Di suatu hari Minggu, satu minggu yang lalu, saya membuka koleksi foto-foto yang saya abadikan dari masa lalu sampai sekarang ini. Sebuah perjalanan yang membuat saya tertawa, tersenyum, dan juga terharu. Perjalanan pertemanan dengan latar belakang yang beragam.

    Sampai akhir menutup mata

    Setelah puas melihatnya, saya kemudian berbicara dengan diri sendiri. Aahh, alangkah senangnya mengetahui bahwa ada manusia di dunia ini yang mau berteman dengan saya, apa pun alasannya.

    Ketika mereka memutuskan menjadikan saya teman mereka, maka sebetulnya di saat itulah kewajiban saya dimulai untuk menghormati dan memelihara keputusan mereka itu. Semua pemikiran di atas timbul gara-gara sebuah pesan yang datang dari seorang teman dekat.

    Begini pesannya. ”Mas, apa pun yang terjadi, we have to stick together, ya. Sampai akhir menutup mata.” Pesan itu memampukan mata saya berkaca-kaca dan tak ingat kalau kalimat itu mengandung sebuah pekerjaan rumah yang lumayan berat.

    Kalimat ”apa pun yang terjadi” dalam pesan itu mengingatkan saya akan sebuah situasi yang tak selamanya mulus dan bebas hambatan. Dan pekerjaan rumah yang harus saya lakukan adalah mempertahankan kekuatan ikatan (stick together) agar tidak kendor sehingga tujuan sampai akhir menutup mata bisa tercapai. Nah, memelihara sesuatu itu sebuah tugas yang sungguh berat, apalagi kalau dibandingkan dengan mendapatkan sesuatu.

    Setiap saat saya dibelikan ibu atau ayah mainan di masa kecil dahulu, mereka akan selalu mengingatkan untuk memeliharanya dengan baik. Apalagi mengingat bahwa kami datang dari keluarga yang sungguh biasa-biasa saja.

    Tetapi nasihat itu hanya bertahan sebentar saja dan dipercepat hilangnya dengan datangnya pemberian barang-barang berikutnya. Pemeliharaan akan hadiah yang pertama saya lupakan dan berkonsentrasi kepada hadiah yang baru. Demikian seterusnya, sampai sekarang ini.

    Memelihara itu membutuhkan dua senjata ampuh, yang sejak awal saya ketahui, tetapi alamak susahnya dijalankan. Senjata pertama adalah berupa kekuatan untuk bertahan dan senjata yang kedua adalah ketegasan sikap untuk melindungi hal buruk yang akan mengganggu aktivitas pemeliharaan itu.

    Kekuatan. Sebuah senjata yang dibutuhkan ketika melintasi sebuah situasi bernama ”apa pun yang terjadi”. Mau gempa, mau hujan, mau terang benderang, mau dollar naik, mau indeks turun, mau mood teman saya lagi turun atau sedang naik, saya harus mampu bertahan agar pemeliharaan itu tidak putus di tengah jalan.

    Flirting dalam urusan asmara atau memiliki rekan bisnis yang bersemangat di awal dan raib entah ke mana di tengah perjalanan, bahkan mengundurkan diri, itu sebuah contoh nyata bahwa senjata yang pertama ini sungguh tidak ampuh, bahkan mandul.

    Kemenangan

    Ketegasan. Hal ini diperlukan untuk mencegah terjadinya hal-hal buruk yang akan memengaruhi sebuah aktivitas memelihara. Dalam sebuah perusahaan, seorang pemimpin harus memiliki ketegasan kalau ada anggotanya yang mulai berpolitik, mulai mencari jalan untuk menjatuhkan, mulai menunjukkan tabiat menjilat, mulai memecah belah.

    Ketegasan ini diperlukan agar tujuan perusahaan tidak melenceng dari apa yang sudah ditentukan dan dapat mencapai tujuan seperti yang diharapkan serta memelihara rasa aman dalam perusahaan. Ketegasan itu diperlukan agar bisa mencapai tujuan, yaitu sampai akhir menutup mata.

    Contoh lain. Teman dekat saya itu sudah diperingati teman-temannya untuk tidak bergaul dengan saya. Kata mereka, mulut dan tabiat saya itu jahat. Demikian juga yang terjadi kepada salah satu karyawan dalam perusahaan saya. Ia bahkan diperingati sebelum mengirimkan lamaran kerja.

    Tetapi baik teman maupun karyawan saya itu menyikapi peringatan itu dengan ketegasan. Maka keduanya sampai sekarang masih bersama dengan saya. Visi yang jelas dan bisa dilihat dengan jernih oleh mata dan hati hanya bisa terjadi kalau seseorang berani tegas dalam sikap. Tidak tegas itu memburamkan visi.

    Maka kalau sekarang ini Anda memiliki teman yang setia, Anda dapat bekerja dalam sebuah perusahaan yang baik dan sehat, Anda memiliki hubungan asmara yang naik dan turun tetapi masih membuat Anda bahagia, maka seyogianyalah Anda memeliharanya dengan kekuatan dan ketegasan agar yang Anda cintai dan mereka yang memutuskan untuk mencintai Anda tak akan merasa disia-siakan.

    Kalau sekarang Anda merasa bahwa semua hal di atas didapati tanpa memelihara, saya hanya dapat menceritakan bahwa hidup yang sudah saya lakoni selama setengah abad mengajarkan bahwa keberhasilan untuk mencapai tujuan itu tak akan pernah mendatangi mereka yang enggan memelihara apa yang dimilikinya.

    Jangan sampai di suatu saat nanti, Anda kecewa dan mulai bernyanyi sebuah lagu berjudul ”Seandainya”. ”Seandainyaaaa… saja, aku tu dulu gak gini, aku tu gak gitu….” Percaya saya, memelihara itu mendatangkan kemenangan. Dan kemenangan itu bukan karena tidak hadirnya problema, melainkan karena tidak hadirnya kekecewaan!

     
  4. 10:38 3rd Sep 2014

    Notes: 47

    Reblogged from thelandofmaps

    image: Download

    thelandofmaps:

Updated Abortion Laws Around the World (Wikipedia with legend added by /u/murtimuz) [1830x928]CLICK HERE FOR MORE MAPS!thelandofmaps.tumblr.com

data yang menarik. lebih-lebih terkait isu ini belakangan.

    thelandofmaps:

    Updated Abortion Laws Around the World (Wikipedia with legend added by /u/murtimuz) [1830x928]
    CLICK HERE FOR MORE MAPS!
    thelandofmaps.tumblr.com

    data yang menarik. lebih-lebih terkait isu ini belakangan.

     
  5. 19:22 1st Sep 2014

    Notes: 9

    Tags: prosa

    Pohon Kakek

    Cerita pendek yang indah ini adalah karya I Putu Agus Phebi RosadiTerbit di Kompas, 31 Agustus 2014. Begitu sehari-hari, namun tetap menyentuh hati. 

    Sejak seminggu kakek terbaring lemas di ranjang. Dia selalu merintih sembari memegang dadanya.

    Tidak apa-apa, nanti juga sembuh,” katanya.Seminggu ini kami begitu cemas merawat kakek. Terlebih ibuku, setiap pagi ia pergi ke hutan kecil di belakang rumah. Mencari daun semak untuk ditumbuk dan ditabur di atas dada kakek sebagai obat luar.  Kadang ibu menyeduhkan kakek teh dari daun sirsak. 

    ”Ini rahasia dari nenek, akan meredam racun getah tembakau,” kata ibuku.

    Berbagai cara telah ditempuh ibu untuk menyelamatkan satu-satunya orangtuanya yang tersisa. Rasa gamang pada kehilangan. Aku paham mata ibu, sorot kecemasan bakal kehilangan kakek. Matanya begitu sayu, tak bergairah. Ah, semoga tak lekas, semoga tak bergegas.

    ♦♦♦

    Hari ini hujan mulai deras. Aku duduk di tubir jenjang. Memandang  sebuah pohon yang tegak, menjulang dan rindang seperti sebuah payung yang besar. Kutaksir usianya sudah seratus lebih. Tak ada yang tahu jelas waktu penanamannya. Pohon itu ditanam di hari kelahiran kakek. Kebiasaan orang-orang di desa kami memang seperti itu. Setiap orang yang lahir akan ditandai dengan menanam sebuah pohon di pekarangan rumah. Ah, tidak hanya di hari kelahiran. Banyak tumbuh pohon di pekarangan rumah kami. Setiap pohon memiliki riwayatnya sendiri. Setiap pohon memiliki hak penanda tersendiri.

    Pohon besar itu kunamai pohon kakek. Pohon yang paling rindang di halaman. Pohon yang ketika malam seolah melambai memanggil sejuk angin timur, biar lelap kami tertidur. Entah sebab apa. Serangga-serangga begitu betah membangun rumah di pohon itu. Serangga yang dulunya migrasi dari pohon lain. Kini telah membangun mukim baru yang tenteram. Serangga-serangga itu memamah sari remah kulit kayu. Hanya itu yang mereka isap selama ini. Burung-burung hinggap menebar suara riang. Begitu yang kuperhatikan. Sungguh hanya riang, tak sekali pun pernah kulihat ada bencana kecil di pohon itu. Pohon itu seperti kakek yang selalu riang walau usia mengisap seperti serangga yang menggerayang.

    ♦♦♦

    Biasanya setiap sore, aku dan kakek mengobrol di tubir ini. Aku sering memandang matanya yang teduh. Mata yang seolah bercerita dengan riang. Mata yang membuat aku percaya bahwa dia seorang kakek yang tabah. Aku belum pernah melihat lelaki tua yang penuh cinta dan gairah. Kulit tuanya yang keriput  menjadi segar meliuk ketika ia menggerakkan badannya. Suaranya yang berat seperti magnet yang menarik genderang telingaku, begitu lirih. Kakek cerdas dan luar biasa bila ia bercerita, lebih ekspresif, dan aku dibuat terpukau. Sorot matanya tajam, gerak tubuhnya seperti seorang aktor andal. Seolah tak satu pun ketuaan tertoreh di setiap hempasan napasnya.

    Kakek banyak bercerita tentang hidupnya dan pohon itu. Katanya, dalam lubang bawah pohon itu dimasukkan ari-ari kakek.

     ”Pohon itu adalah kakak saya,” katanya.

    Aku tak bertanya perihal pernyataan kakek.  Karena jelas pohon itu  ”lahir” lebih dahulu sebelum kakek lahir. Hanya ia dipindahkan ke lubang itu pada saat kakek lahir. Lalu sejak itu mereka tumbuh bersama hingga sekarang ini.

    Suatu sore, kakek pernah bertuah: kita dilahirkan dan berpindah-pindah dari satu badan ke badan yang lain, tanpa jaminan tentang jenis badan mana yang akan kita terima pada penjelmaan kita yang akan datang. Pohon pun demikian, menerima badan berulang kali. Pohon kecil meninggalkan badannya  dan menerima badan pohon yang lebih besar. Pohon yang besar meninggalkan badannya untuk menerima badan  yang sudah tua. Karena itu, sewajarnya kita mengerti pohon meninggalkan badannya yang sudah tua, dia akan terpaksa menerima badan lain lagi. Sekali lagi dia akan menerima badan sebagai bayi. Aku terpukau.

    ”Kek….” Aku menepuk bahunya.

    ”Iya….”

    ”Apa perbedaan manusia dengan pohon?”

    ”Perbedaan antara kita dan pohon ialah pohon tidak terhingga, sedangkan kita yang berbatas.  Kita mesti mencari cinta kasih yang kekal, tanpa hukum-hukum material yang menyebabkannya terputus. Kita harus dapat melampaui keadaan putus tersebut.” Jawaban kakek begitu lugas.

    Setelah selesai bercerita, kakek biasanya menyalakan rokok. Rokok yang dibuatnya sendiri dari lintingan kulit jagung setengah kering dan tembakaunya dicampur dengan bunga kopi. Aromanya wangi. Dari balik asap rokok kulihat pohon-pohon berjejer seperti di balik kabut hujan. Kami selalu seperti itu, selalu mengumbar tanya pada segala yang ada di sekitar. Walau di halaman cuma ada berbatang-batang pohon. Bagi kami, tanya tak bakal habis meski digali dari sebatang pohon.

    ♦♦♦

    Aku masih duduk di tubir jenjang dengan segelas teh dari daun alpukat. Hujan telah lebat, selebat kecemasanku kepada kakek. Sebab tak biasanya kakek sakit hingga seminggu. Sebelumnya, sehari atau paling lambat tiga hari, kakek sudah sembuh. Hal itu menjadi biasa karena kakek perokok berat. Aku pikir itulah musabab kakek sering merasa sakit di dadanya. Paru-parunya telah diserang getah tembakau, belum lagi campuran tembakaunya adalah bunga kopi, tentu  menambah banyak kadar nikotin.

    Kami merawat kakek seadanya. Tidak mengajaknya ke puskesmas karena jaraknya kurang lebih lima kilometer dari sini. Tak ada kendaraan, hanya berjalan kakilah satu-satunya yang dapat kami lakukan untuk mencapai puskesmas itu. Tapi hal itu tidak memungkinkan. Jangankan untuk berjalan sejauh itu, untuk bangun dari ranjang saja kakek sudah tak mampu. Kami tak punya pilihan, selain merawat kakek dengan cara sendiri.

    ♦♦♦

    Aku mencoba menghilangkan kecemasan perihal sakitnya kakek. Aku menggali-gali kenangan yang sempat ditanam dalam hidupku. Sewaktu kecil, kakek gemar mengajakku ke hutan jauh di belakang rumah.

    Subuh kami berangkat menembus gelap. Dingin dan remang seperti dibunuh gema suara binatang hutan. Sambung-menyambung, timpal-menimpal. Benar-benar lengking yang lantang. Begitulah cara hutan menyambut pagi. Kabut tebal masih menyingkap. Kami berjalan menyisir semak. Sekali waktu kakek membungkukkan badan, dengan parang di tangan ia retas semak kecil untuk membangun jalan baru. Kami terus berjalan menyisir tanpa bicara sepatah kata. 

    Hingga lama. Kabut mulai menipis. Tubuhku mematung. Di kejauhan, sebuah pohon besar mengikhlaskan diri. Burung pelatuk menabuh tubuhnya. Pelatuk jengger merah, dengan paruhnya yang bontok. Suaranya mirip kerdam, sekali waktu mirip suara kentungan kayu. 

    ”Cepat, kita masih jauh,” kakek menghampiri dan menyeret tanganku.

    Kami kian bergegas menebas udara dingin. Kaki tua kakek tanpa sandal, sudah hafal membaca arah. Sudah terbiasa ditimpali duri semak. Sudah terbiasa terluka. Kakek sering membiarkan rasa nyeri isapan lintah hutan menggerogoti kakinya, seolah itu terapi pelemasan otot.

    Jalanan sedikit mendaki, kami ranggas. Sepanjang jalan kami masih tanpa kata. Mataku sigap pada perangkap jerat yang kakek pasang beberapa hari lalu. Nampak semuanya kosong melompong. Tak satu pun hewan liar masuk dalam perangkap.

    Karena sudah semua kami awasi dan kosong, kami memutuskan beristirahat di pangkal pohon yang besar. Pohon yang di ranting-rantingnya tumbuh akar lebat menghujam tanah seperti hujan. Tiba-tiba  kakek menghempaskan parang ke arah akar yang bergelayut serupa hujan itu. Akar mengucurkan air. Deras. Aku yang masih kecil terkagum-kagum.

    ”Akar menyimpan air lebih baik dari tanah. Ia memiliki daya saring yang bagus. Minumlah.” Kakek menyodorkan akar yang telah dipotong itu ke wajahku. Aku meminum airnya. Sangat segar.

    Siang itu kami kembali ke rumah tanpa satu pun hewan buruan. Di tengah jalan kakek menyempatkan diri untuk memanjat pohon pinang merah yang buahnya merekah. Kakek begitu cekatan. Oleh-oleh untuk nenek, katanya. Kenangan bersama kakek saat itu seperti cairan penenang yang disuntikkan ke dalam tubuhku. 

    ♦♦♦

    Hujan semakin lebat. Kali ini bertambah angin. Kencang berpusar di pohon kakek, lalu melaju menerpa kesedihanku, retak jadi puing. Pohon besar itu rubuh. Hujan deras telah melemahkan pelukan tanah, tak kuat lagi menopang beban pohon besar itu. Seperti usia kakek yang sudah tua dan rapuh, tak kuat lagi memanggul keinginannya untuk hidup. Tapi aku paham. Pohon itu tidak pernah mati. Dia hanya tumbang lalu nampak seperti mati.

    Tiba-tiba ibu berteriak dari dalam. Kubayangkan napas kakek tersengal. Dan di tempat lain, seseorang telah menggali lubang. Bersiap menanam air-ari dan sebatang pohon.

    I Putu Agus Phebi Rosadi

    Lahir di Sangkar Agung, Jembrana, Bali. Sekarang melanjutkan studi di Undiksha, Singaraja

     
  6. 19:11

    Notes: 9

    Tags: Cerita

    Peta

    Tulisan ini adalah karya Samuel Mulia. Terbit di Kompas, 31 Agustus 2014. Duh, menua itu…

    Entah kenapa, belakangan ini kesehatan saya seperti gempa yang meluluhlantakkan. Setelah kena prostatitis yang tak berkesudahan, serangan alergi pendingin ruangan yang membuat hidung mampet dan susah bernapas datang menghampiri. Jangka waktu terjadinya kedua penyakit itu tak membutuhkan waktu lama. Sampai saya kelelahan.

    Terseok

    Beberapa hari lalu, saya bersama lima teman berjalan-jalan ke Kebun Binatang Ragunan dalam rangka ulang tahun salah satu sahabat kami. Tak lama setelah semangat saya yang berapi-api menyala karena sudah lama sekali tak mengunjungi area seluas sekian hektar itu, saya mulai kelelahan berjalan dan napas saya seperti habis mengikuti lomba lari sekian kilometer.

    Melihat kondisi itu, sahabat kami yang berulang tahun menyarankan saya untuk beristirahat saja. ”Mas, kamu tujalannya sudah terseok-seok, istirahat aja, jangan dipaksain.” Saya kemudian mengikuti sarannya untuk beristirahat. Duduk di bawah sebuah pohon yang rindang meski udara sore itu panasnya seperti berdiri di depan kompor.

    Terseok-seok. Itu ungkapan yang merindingkan bulu roma, terutama buat saya yang tak pernah mencicipi rasanya terseok itu. Sekarang, selain terseok berjalan, saya juga tak kuat lagi berdiri dari posisi jongkok.

    Saya harus memegang sesuatu atau mencari bantuan untuk berdiri kembali. Menaiki tangga bahkan yang tak terlalu tinggi saja, saya juga sudah kelelahan. Tentu saya memutuskan memeriksakannya ke dokter meski ada di antaranya yang salah mendiagnosis.

    Ketika saya menyaksikan teman-teman saya berjalan tanpa henti di kebun binatang itu, sambil ditimpali tawa tergelak, yang tak membersitkan kelelahan sedikit pun, tebersit di hati saya perasaan rindu yang sangat akan kekuatan yang dahulu pernah saya
    miliki di masa semuda mereka.

    Kalau dimisalkan siklus hidup sebuah produk, kondisi kesehatan saya telah mencapai puncak dan akan datang masanya untuk menuruninya. Kalau dalam sebuah produk, maka akan ada teknik-teknik agar produk itu diharapkan akan selalu tetap di puncak.

    Seandainya saya sebuah produk, saya akan me-re-branding atau me-re-positioning diri. Sayang saya ini bukan produk. Usaha untuk dapat bertahan di puncak adalah dengan pergi ke dokter, menjaga asupan, berolahraga, dan berdoa. Tetapi usaha itu telah membuat seorang dokter mengatakan, ”Kenapa ya kamu ini. Jantungnya bagus, tekanan darahnya bagus. Kok, bisa kayak gini.”

    Menang

    Beberapa hari setelah berjalan-jalan di kebun binatang itu, saya kembali ke dokter. Singkat cerita, saya terkenahydronephrosis. Gempa yang tadinya sudah terasa meluluhlantakkan, sekarang seperti gempa yang lebih dari tektonik rasanya.

    Di dalam mobil teman yang membawa saya pulang ke rumah, saya terdiam, tak bisa berpikir apa pun. Melihat Jakarta dalam malam, seperti tak melihat apa-apa. Bahkan teman yang membawa saya pulang seperti terasa tak berada di dalam mobil.

    Kemudian beberapa hari setelah itu, saya membaca buku. Dituliskan bahwa untuk sukses, untuk dapat meraih masa yang gemilang, seseorang harus memiliki peta. Dan, peta yang digunakan harus up-to-date. Kita tak bisa meraih kesuksesan hari ini dengan peta buatan tahun 1997.

    Sejak saya diizinkan lahir di dunia ini, saya tak pernah membuat peta kesehatan. Gobloknya, saya ini berpikir kalau saya bisa sehat senantiasa. Saya itu tak pernah tahu kalau ginjal saya tumbuh di bawah pusar.

    Sayangnya, beberapa penyakit lebih memilih diam sejuta bahasa, yang tak mau ”berbicara” di stadium dini, di stadium tanpa gejala, di stadium seorang dokter bisa jadi mengatakan tak ada apa-apa, dan yang menyebabkan seseorang berpikir bahwa ia sehat-sehat saja. Penyakit yang menyesatkan sebuah peta.

    Maka terlintas di kepala, apakah ketika saya membuat sebuah peta, seyogianya diselaraskan dengan peta buatan Yang Maha Kuasa untuk saya? Jadi, hasilnya bukan dua buah peta yang berbeda. Saya membuat peta ke kiri, Tuhan memilihkan peta untuk saya ke kanan.

    Dua puluh empat jam sebelum saya mengirimkan tulisan ini ke meja redaksi, saya memutuskan membuat peta 2014 yang tak akan memiliki masa kedaluwarsa, yang akan bisa digunakan di sepanjang masa.

    Saya tak memutuskan untuk menyelaraskan peta saya dengan peta yang Tuhan buat untuk saya. Saya meniadakan peta saya dan hanya mengikuti peta Yang Maha Kuasa untuk saya saja. Dari manakah saya tahu bahwa itu peta untuk saya?

    Anda tahu ungkapan tak kenal maka tak sayang, bukan? Nah, syarat pertamanya, harus sayang dengan yang Maha Kuasa. Sayang yang saya maksud adalah memahami dengan sepenuh hati bahwa Yang Maha Kuasa itu berhak untuk memberi dan Ia berhak untuk mengambilnya kembali dengan cara apa pun.

    Pemahaman membuahkan sebuah kemenangan dalam perjalanan yang penuh dengan gempa, tanpa meluluhlantakkan jiwa.
    Sekarang, saya bisa melihat Jakarta dalam malam seperti yang sesungguhnya.

     
  7. 18:23 18th Aug 2014

    Notes: 19

    Reblogged from majalah-katajiwa

    Tags: sastra

    Kota adalah resultan seluruh daya cipta kemanusiaan kita. Kepadatannya membuat kita terbiasa penuh sesak dengan emosi. Sedetik yang lalu tangis, beberapa saat kemudian tawa. Hal yang sedemikian kita temukan begitu saja. Pada pokoknya kota adalah wajah kita dewasa ini. Ada ironi sekaligus puisi…

    silahkan :)

     
  8. 19:22 12th Aug 2014

    Notes: 14

    Tags: prosa

    Jalan Asu

    Cerita pendek yang begitu indah ini adalah karya Joko PinurboTerbit di Kompas, 10 Agustus 2014. Inilah puisi yang masuk ke ranah prosa. Muncullah makhluk bernama prosa puitik. Cerpenis “normal” bisa-bisa kalang kabut dan melontarkan “asu iki Jokpin” dengan nada iri yang begitu dalam.

    Hari ini adalah Hari Rindu. Hari untuk pulang. Hari untuk bertemu.

    Setelah mandi dan menunaikan ibadah puisi, saya bersiap pergi mengunjungi Ayah di atas bukit. Sudah lama saya tidak pulang ke Ayah.

    Makam Ayah berada di salah satu sudut pekuburan yang bersih dan nyaman, ditandai dengan seonggok batu kali yang cukup besar. Pada batu itu tertera tulisan ”Sugeng Rawuh” yang artinya tentu saja ”Selamat Datang”.

    Ayah sendiri yang menginginkan batu kali sebagai nisannya. Keinginan itu muncul setelah Ayah membaca puisi berjudul ”Surat Batu” di koran. Puisi itu digubah oleh seorang pemain kata yang pada suatu malam penuh hujan secara tak terduga datang bertandang ke Ayah.

    Maaf, baru sekarang aku membalas surat yang kamu kirim tujuh tahun yang lalu.

    Waktu itu kamu memintaku merawat sebuah batu besar di halaman rumahmu sebelum nanti kamu pahat menjadi patung. Batu itu kamu ambil dari sungai di tengah hutan.

    Aku suka duduk membaca dan melamun di atas batumu dan bisa merasakan denyutnya. Kadang mimpiku tertinggal di atas batumu dan mungkin terserap ke dalam rahimnya.

    Hujan sangat mencintai batumu dan cinta hujan lebih besar dari cintamu. Aku senang melihat batumu megap-megap dicumbu hujanku.

    Akhirnya batumu hamil. Dari rahim batumu lahir air mancur kecil yang menggemaskan. Air mancur itu sekarang sudah besar, sudah bisa berbincang-bincang dengan hujan.

    Maaf, jangan ganggu air mancurku. Bahkan batumu mungkin sudah tidak mengenalmu.

    Ayah jatuh cinta pada batu dalam puisi itu. Ayah yang waktu itu sedang kerasukan puisi sempat berpesan kepada saya agar di atas makamnya nanti ditanam sebuah batu. Batu yang dibesarkan di sungai. Sungai yang mengalir di bawah bukit.

    Ketika kecil, ia sering diajak ayahnya bergadang di bawah pohon cemara di atas bukit. Berbekal senter, ayahnya senang sekali menggendongnya menyeberangi sungai yang jernih dan gemericik, menyusuri jalan setapak yang berkelok-kelok dan menanjak.

    Sampai di puncak, mereka memandang takjub ke seberang, menikmati gemerlap cahaya lampu kota. Sesekali mereka berbaring di tanah, melihat bintang-bintang. Bila dingin malam kian menyengat, mereka membuat unggun api, berdiang menghangatkan badan, menghangatkan sepi.

    Ia terpesona melihat kunang-kunang berpendaran.

    ”Kunang-kunang itu artinya apa, Yah?”

    ”Kunang-kunang itu artinya kenang-kenang.”

    Ia terbengong, tidak sadar bahwa ayahnya sedang mengajarinya bermain kata.

    Bila ia sudah terkantuk-kantuk, ayahnya segera mengajaknya pulang. Dan sebelum tiba di rumah, ia sudah terlelap di gendongan, terbungkus sarung ayahnya yang baunya sangat kenangan. Ayahnya lalu menelentangkannya pelan-pelan di atas ranjang.

    Sekian tahun kemudian, saat ia pamit untuk pergi merantau, ayahnya membekalinya dengan sarung kesayangannya sebagai kenang-kenang.

    ”Pakailah sarung ini saat kau sakit dan rasakanlah khasiatnya,” pesan ayahnya.

    Ketika suatu hari ia pulang, ayahnya menyambut girang: ”Hai, bagaimana sarungku? Enak, kan?” Ia peluk ayahnya yang sudah ringkih dan sakit-sakitan.

    ”Aku ingin ke bukit. Aku rindu pohon cemara itu,” ayahnya berkata. ”Maukah kau mengantarku ke sana?”

    Malam itu malam purnama. Ia menuntun ayahnya yang kurus dan ringkih menyusuri jalan setapak menuju pohon cemara di atas bukit.

    Di bawah pohon cemara ayahnya duduk bersila, melantunkan sebait tembang Asmaradana:

    Aja turu sore kaki

    Ana dewa nganglang jagad

    Nyangking bokor kencanane

    Isine donga tetulak

    Sandhang kalawan pangan

    Yaiku bageyanipun

    Wong melek sabar narima

    Dalam perjalanan pulang tembang itu terus mengiang.

    Ia tak tega melihat ayahnya berjalan goyah. Ingin sekali ia menggendongnya sampai rumah. Tapi ayahnya bilang, ”Di dalam tubuhku yang lemah terdapat jiwa yang kuat dan berat. Kau tak akan sanggup menggendongnya.”

    Dulu saya sering menemani Ayah menulis. Ayah betah menulis hingga menjelang dini hari. Suara mesin ketiknya terdengar sampai kamar mandi. Hanya siaran pertandingan sepak bola di televisi yang bisa menghentikan keasyikan menulis Ayah.

    Sesekali Ayah terlihat kesal, memukul-mukul mesin ketiknya dan mengumpat, ”Asu!” Dengan geram Ayah mencabut kertas dari mesin ketik, meremasnya, dan melemparkannya ke tempat sampah.

    Kali lain, saat menemukan puisi bagus di koran, Ayah tersenyum dan berseru, ”Asu!” Saat bertemu teman karibnya di jalan, Ayah dan temannya dengan tangkas bertukar ”asu”. Syukurlah, Ayah tak pernah mengucapkan ”asu” kepada saya. Demikian pun saya tak pernah meng-”asu”-kan Ayah.

    Pernah saya bertanya, ”Asu itu artinya apa, Yah?”

    ”Asu itu anjing yang baik hati,” jawab Ayah.

    Kemudian ganti saya ditanya, ”Coba, menurut kamu, asu itu apa?”

    ”Asu itu anjing yang suka minum susu,” timpal saya.

    Mendengar jawaban saya, Ayah langsung memeluk saya seraya berkata, ”Kamu sudah gila, anakku. Kembangkan bakat gilamu. Kamu akan menjadi penyair kesayangan langit dan bumi.”

    Ayah sering mengajak saya ke kantor pos, mengirim tulisan ke koran atau majalah. Ayah suka gelisah menunggu-nunggu tulisannya terbit. Ketika tulisannya dikembalikan dan tak bisa dimuat, Ayah termenung murung sambil tak henti-hentinya merokok. Tanpa ampun Ayah membakar berkas-berkas tulisannya di tempat pembuangan sampah.

    Sebaliknya, ketika tulisannya muncul di koran, Ayah seakan tak pernah kehabisan alasan untuk berbahagia. Hebatnya, Ayah tak pernah mau berbahagia sendirian. Ia mengajak saya makan enak di Warung Bu Ageng. Itu warung milik Om Butet, teman Ayah. Sebelum membuka usaha warung makan, Om Butet bekerja sebagai redaktur di sebuah koran lokal. Menurut Ayah, Om Butet sebenarnya tidak cocok menjadi redaktur karena beliau bukan jenis orang yang tahan mendekam di dalam ruangan.

    Ayah saya seorang pengarang yang kaya. Dompetnya selalu penuh. Penuh dengan semoga. Apa boleh buat, kadang Ayah harus berjauhan dengan uang pada saat yang tidak tepat. Ayah pun menemui Om Butet di kantornya, menyerahkan tulisan dan minta honornya dibayar kontan di muka.

    Yang menjengkelkan, Ayah suka menjadikan saya sebagai alasan. Mungkin karena wajah saya bernuansa memelas dan mudah menimbulkan rasa iba. Saya ingat bagaimana Ayah menyerahkan amplop berisi tulisan kepada Om Butet seraya meminta, ”Tolonglah, Bro. Sudah dua hari anakku kagak doyan makan, minta dibelikan celana yang sakunya enam.” Entah bagaimana ceritanya, tahu-tahu di saku baju Ayah sudah ada amplop yang isinya lumayan.

    Saya curiga, jangan-jangan dari Om Butet-lah Ayah belajar mengucapkan ”asu” dengan fasih. Om Butet, kan, pemain teater juga; ia piawai meluncurkan kata ”asu” dengan berbagai nada. Di kemudian hari Om Butet dikenal sebagai seorang bintang film terkenal, selain pengusaha rumah makan yang sejahtera.

    Pernah pada suatu sore, setelah seharian hanya terbengong-bengong di depan mesin ketik, Ayah membangunkan saya yang sedang tertidur di kamar: ”Ayo kita ke Warung Bu Ageng.” Saya bertanya-tanya dalam kepala. Saya tahu Ayah sedang tak punya uang. Kok berani-beraninya mau mentraktir saya.

    Sekali itu saya tak bisa berkonsentrasi makan karena sibuk memikirkan bagaimana Ayah mau bayar. Ayah tenang-tenang saja, makannya lahap pula.

    Ah, Ayah. Diam-diam ia sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Selesai makan, dengan cekatan Ayah menyusupkan sebuah amplop kecil ke saku baju Om Butet. Aneh, bayar makan saja pakai amplop, pikir saya. Om Butet segera mengambil amplop itu dari saku bajunya dan bersikeras mengembalikannya kepada Ayah sambil berkali-kali bilang ”gratis”. Ayah menolak dan minta agar Om Butet membuka amplop itu. Ternyata isinya secarik kertas bertuliskan sebuah syair yang entah kapan Ayah tulis:

    Yen atimu kepenak

    Manganmu yo enak

    Yen atimu seneng

    Ngombemu yo nyamleng

    Om Butet tampak terharu bercampur senang membaca tulisan tangan Ayah. Keunikan garis tulisan Ayah setara dengan keunikan garis tangannya. Saya terharu melihat Om Butet terharu. Saya menyesal telah makan dengan sedih.

    Sementara Om Butet terharu, Ayah menarik tangan saya, mengajak saya segera angkat kaki. Ayah dan saya cepat-cepat pergi dan seekor anjing menyoraki kami.

    Kisah Ayah membayar makan dengan puisi merupakan penyegar sempurna bagi rindu saya kepada Ayah. Saya suka tertawa sendiri mengenang peristiwa yang getir-getir sedap itu. Belakangan saya lihat syair gubahan Ayah sudah terpigura dan terpasang di dinding rumah makan Om Butet.

    Kini jalan ke bukit sudah lebih lapang dan nyaman. Dengan rindu yang sudah saya rapikan, saya berangkat menuju Ayah.

    Di tengah perjalanan saya bertemu dengan seekor anjing besar yang tiba-tiba muncul dari tikungan. Sosok anjing itu sungguh menakutkan. Gawat. Menurut kabar yang saya dengar, sebulan terakhir ini sudah ada beberapa orang menjadi korban gigit anjing gila. Mereka diserang demam berkepanjangan, bahkan ada yang kesurupan.

    Anjing itu menghadang saya persis di tengah jalan. Tatapan matanya yang liar dan nyalang membuat saya mundur beberapa jengkal. Saya deg-degan.

    Saya mencoba menyapanya baik-baik: ”Selamat sore, njing.”

    Ia malah tersinggung. Matanya tambah mendelik. Mungkin karena saya memanggil namanya tidak lengkap.

    Saya ulangi salam saya: ”Selamat sore, anjing.”

    Ia semakin marah. Menggeram. Mulutnya mangap, lidahnya terjulur. Saya gemetar. Saya memanggil Ayah dalam hati dan bertanya apa yang sebaiknya saya lakukan untuk menjinakkan anjing edan itu. Saya tidak mau sakit gila karena digigit anjing gila. Tanpa digigit anjing gila pun saya bisa gila sendiri.

    Saya menyapanya lagi dengan manis, ”Selamat sore, asu.”

    Ia terperanjat dan langsung mingkem. Sorot matanya berangsur normal.

    Saya ucapkan sekali lagi salam saya dengan tegas dan mantap: ”Selamat sore, su!”

    Ia merunduk, kemudian minggir dengan sopan, mempersilakan saya lanjut jalan.

    Sementara saya melanjutkan perjalanan, dari belakang sana terdengar teriakan, ”Tolong, tolong! Anjing, anjing!”

    Menjelang sampai di atas bukit, saya berpapasan dengan seorang lelaki tua berkacamata. Dialah Om Butet yang bintang film itu. Dia berjalan tergesa-gesa.

    ”Hai penyair, kamu sudah ditunggu-tunggu ayahmu,” Om Butet berseru.

    Saya balik menyapa, ”Mengapa Om kelihatan terburu-buru?”

    ”Aku ditinggal asuku. Apakah tadi kamu bertemu dengan asuku?”

    Saya terpana.

    Demi cinta saya yang tak berkesudahan kepada Ayah, jalan menuju kuburannya saya beri nama Jalan Asu.

    Yogyakarta, 2014