1. 15:51 24th May 2013

    Notes: 2

    Tags: olahraga

    Impian Seorang James Bond

    Tulisan ini adalah karya Sindhunata. Terbit di Kompas, 24 Mei 2013. Sebagai seorang penyuka sepak bola dan pro ekonomi sosialis (paling tidak untuk sementara), dalam hal ini saya nyatakan dengan tegas, saya berada di pihak Klopp. Titik.

    Invasi Jerman ke Inggris. Inilah pernyataan kapitulasi bahwa kekuasaan sudah jatuh di tangan Jerman. Deutschland über alles. Puncak pertandingan Bundesliga di Stadion Wembley. Sepak bola Inggris harus belajar banyak dari Jerman. Begitulah lebih kurang pernyataan- pernyataan media di Inggris menyongsong laga FC Bayern Muenchen lawan Borussia Dortmund dalam final Liga Champions, Minggu dini hari nanti.

    Sepak bola Jerman kelihatan sedang naik daun. ”Di musim ini Dortmund dan Bayern sungguh mengagumkan. Keduanya tim kuat, dengan pemain-pemain yang luar biasa pula. Organisasi mereka juga hebat dan sehat. Sepak bola Jerman memang sedang spektakuler,” puji pelatih kesebelasan nasional Inggris, Roy Hodgson.

    Menurut Hodgson, permainan Bayern dan Dortmund tidak berbeda dari permainan kesebelasan top lain di Eropa. Namun, fisik pemain Bayern dan Dortmund sangat perkasa, mereka mampu menunjukkan kerja keras di lapangan, bermain dengan semangat berapi-api dan penuh energi. Itulah yang membuat mereka ”satu langkah di depan tim top Eropa lainnya”.

    Bayern dan Dortmund punya banyak kesamaan. Keduanya memiliki pelatih hebat. Baik Jupp Heynckes maupun Juergen Klopp adalah pelatih yang sangat dihormati pemain asuhannya. Karena itu, ajaran dan otoritas mereka dapat dijelmakan menjadi permainan di lapangan.

    Bagi kedua pelatih itu, tidak cukup jika pemain hanya bisa bermain dengan indah secara individual. Lebih dari itu, mereka harus kuat dan kekuatan itu secara kolektif harus bisa menjadi tekanan serta beban bagi lawannya. Dalam hal ini, baik Heynckes maupun Klopp disebut sebagai pelatih yang berhasil menjelmakan ”keutamaan Jerman”, yakni ketekunan, disiplin, dan kerja keras, ke dalam sepak bola modern.

    Jika demikian, siapakah favorit juaranya? Tak pelak lagi, banyak orang akan berkata: Bayern! Betapa tidak? Di Bundesliga, mereka meninggalkan Dortmund dengan 25 poin. Dan, mereka menekuk tim terbaik dunia, Barcelona, di Allianz Arena, 4-0. Lalu, dilumatnya kembali Barcelona di kandangnya, Nou Camp, yang angker buat kesebelasan lawan itu, dengan 3-0. Hasil-hasil ini adalah indikasi bahwa Bayern bakal juara.

    Karena prestasinya selama ini, pemain-pemain Bayern sangatlah optimistis bakal menjuarai Liga Champions tahun ini. Kata Direktur Olahraga Bayern Matthias Sammer, mereka akan bermain dengan ringan dan lega, lalu perlahan-lahan membangun ketegangan, dan lalu meledak. Teknik inilah yang membuat Barcelona kelabakan, sampai Gerard Pique panik dan melakukan gol bunuh diri.

    ”Bayern memang favorit. Mereka bermain dengan makin lapar dan kelaparan mereka seperti tak mau dipuaskan,” kata Ottmar Hitzfeld. Hitzfeld adalah pelatih yang berhasil membawa baik Dortmund maupun Bayern jadi juara Liga Champions, masing-masing tahun 1997 dan 2001. ”Dua kesebelasan itu ada di hati saya. Saya netral. Yang penting, ini adalah momen impian bagi persepakbolaan Jerman,” tutur Hitzfeld.

    Karena itu, kendati memfavoritkan Bayern, Hitzfeld tak mau menyepelekan Dortmund. ”Ini duel dalam tingkat tertinggi. Bisa saja Dortmund membuat keajaiban. Saya sendiri punya pengalaman itu bersama Dortmund di final Liga Champions 1997. Waktu itu, Dortmund bukan favorit, tetapi kami berhasil mengalahkan Juventus, 3-1. Dalam permainan macam ini, yang menentukan bukan hanya prestasi selama satu musim, melainkan kondisi hari ini, kekuatan saraf, dan inisiatif untuk memimpin pertandingan,” paparnya.

    Kali ini Dortmund juga bukan favorit. ”Itu justru menguntungkan kami. Kami tidak akan kehilangan apa-apa,” kata Bendahara Dortmund Hans-Joachim Watzke di hadapan wartawan. Watzke mengingatkan wartawan bahwa tahun 2005 Dortmund nyaris bangkrut. ”Delapan tahun lalu, di ruang ini tak ada wartawan, yang ada adalah orang-orang yang percaya,” katanya. Dengan kepercayaan itu pula Dortmund bersemboyan: dari nol menuju Wembley.

    Pelatih Dortmund Juergen Klopp tak menampakkan kekhawatiran sedikit pun. Klopp malah mengimbau publik bola yang netral agar mendukung Dortmund. ”Jika Anda suka sejarah yang baru dan istimewa, Anda harus di sisi Dortmund. Dalam dunia bola, ini saatnya Anda mendukung sejarah baru itu,” kata Klopp.

    Menurut Klopp, Dortmund adalah perkumpulan istimewa, perkumpulan pekerja. Dortmund harus dipandang sebagai proyek sepak bola yang amat menarik. ”Kami sungguh sebuah perkumpulan, bukan sebuah perusahaan,” kata Klopp. Dengan pernyataan ini, Klopp hendak menyindir Muenchen, ”FC Hollywood”, yang di Jerman dikenal sebagai klub paling kapitalis.

    Klopp memang dikenal sebagai pengkritik keserakahan kapitalis di dunia bola. Ia menangis ketika menceritakan nasib Shinji Kagawa, yang dibeli Manchester United lalu ditelantarkan menjadi pemain sampingan belaka. ”Padahal, Kagawa salah seorang pemain terbaik dunia,” kata Klopp. Ia mengaku seperti terkena ”serangan jantung” ketika mendengar Mario Götze hengkang ke Bayern karena iming-iming uang.

    Maka, Klopp mengimbau, orang harus berpihak kepada Dortmund untuk melawan keserakahan itu. Klopp menggambarkan Dortmund sebagai James Bond yang harus menumbangkan persekongkolan busuk. Namun, itu adalah impian dalam film. Kenyataan di Wembley nanti, persekongkolan yang harus dihadapi Dortmund adalah klub bola yang bukan main kuatnya: Bayern Muenchen.

    Mungkinkah impian itu terwujud? Entahlah, yang jelas di Wembley nanti berlaku perhitungan ini: Bayern harus menang dan Dortmund bisa menang.

     
  2. 20:38 23rd May 2013

    Notes: 7

    Reblogged from rkholil

    rkholil:

    Sejak November 2012 PT KAI terus menggusur paksa kios2 di sekitar stasiun, walaupun ia sebenarnya tidak memiliki wewenang untuk itu (hanya Pemda dan Pengadilan yg punya wewenang eksekusi lahan). 

    Malahan, ia langgar berbagai prosedur operasi standar: menggusur sepihak, menggusur saat hujan, saat malam, tanpa dialog sebelumnya, bahkan gunakan aparat brimob, marinir, PKD bayaran, dan preman. Gusur paksa sudah makan banyak korban: luka ringan sedang hingga berat, bahkan tertembak aparat.

    Rekomendasi lembaga2 negara (Ombudsman, Komnas HAM, Komnas Perempuan, dll.) untuk hentikan dulu penggusuran, diabaikan pula!

    Ada apa sebenarnya di balik proyek ‘penataan’ stasiun se-Jabodetabek berdasar Perpres 83/2011 yang ditafsirkan sewenang-wenang oleh PT KAI sebagai ‘penggusuran paksa’? Apakah benar dalih yang selama ini diajukan berganti-gantian: demi keselamatan, kenyamanan penumpang, ketertiban, pemanjangan dan pelebaran peron, dan parkiran motor, demi target peningkatan jumlah penumpang? Apakah untuk itu perlu PT KAI hingga mengadu domba pedagang dengan warga sekitar dan tukang2 ojek? Hingga membuat kereta tidak berhenti di stasiun UI karena dianggap ‘tidak steril’? Benarkah sekadar demi ‘otomatisasi e-ticketing’, yang ternyata memang dicabut PT KAI sendiri beberpa waktu yang lalu?

    Apakah stasiun dan perkerataapian itu urusan dagang belaka, ada tawar ada minta? Ataukah ia adalah ejawantah pelayanan dan fasilitas publik, yang berkaitan dengan Hak Atas Kota, sebagai wilayah yang memiliki selain fungsi bisnis tapi juga fungsi sosial, interaksi antar masyarakat di sekitarnya?

    Menggusur sewenang-wenang, dengan kekerasan, bahkan hingga mensweeping mahasiswa yang mendampingi pedagang, dan mendiamkan kekerasan yang dilakukan oknum PKD/Petugas Keamanan Dalam dan Polsuska/Polisi Khusus Kereta, sebenarnya ada apa sampai Brimob dan Marinir terlibat, bersenjata lengkap? Apakah belum bisa disebut sebagai kekerasan oleh negara, pelanggaran HAM Sipil?

    Masa bodoh dengan nasib pedagang, mengaku-ngaku memiliki lahan (padahal PTKAI hanya punya hak mengelola sedangkan lahan tetap dikuasai negara, dimiliki oleh rakyat secara luas. Apalagi Indonesia menganut sistem horizontal sleeding, yaitu hak guna lahan dan hak milik bangunan adalah terpisah. Mengingat mayoritas kios pedagang dibangun atau dibeli oleh pedagang sendiri, bukan menyewa dari PTKAI) dan melempar masa depan mata pencaharian pedagang, sebagai bukan urusan PTKAI, belumkah bisa disebut sebagai pelanggaran HAM Ekonomi-Sosial?

    ——————————————————————————————————————————

    Sepekan lagi, giliran kios-kios di stasiun UI. Tanggal 29 akan digusur. Sejauh mana solidaritas mahasiswa terhadap lingkungan terdekatnya? Masih hidupkah Tridharma, Pengabdian Masyarakat? Ataukah UI, rektoratnya, dosen-dosennya, dan mahasiswa-mahasiswanya, sudah benar-benar menjadi menara gading yang masa bodoh dengan apa yang terjadi bahkan di halaman kampusnya sendiri? Apa kabar slogan “UI Kampus Perjuangan Rakyat”? Saat ketidakadilan dan penindasan dilakukan di depan mata sendiri, apakah nilai-nilai moral dan intelektual para civitas akademika masih bisa terlukai dan terlecehkan? Apa kabar BEM? Masih adakah bidang SOSPOL?

    Silakan anda jawab sendiri.

    -FTR/FORUM TRANSPORTASI RAKYAT-

    Contact Persons: Bpk Hamzah (PERPUSTABEK/Persatuan Pegiat Usaha Stasiun Se-Jabodetabek) : 085335253671 - Yudhi (BEM UI) : 081806042845

    http://bit.ly/beritastasiun01 - http://bit.ly/suarapedagangstasiun -http://PenggiatUsahaStasiun.wordpress.com/

    @LBH_Jakarta - @BEMUI_Change - @PedagangStasiun

    BACA DAN SEBARKAN! Berita Stasiun #01 — Media Publik Untuk Menyuarakan Kepentingan Publik -> http://bit.ly/beritastasiun01

     
  3. 20:27

    Notes: 69500

    Reblogged from the-absolute-best-posts

    iso iso aeee…

    the-absolute-best-posts:

    ippinka:

    Try out a cool way to separate egg yolks from egg whites!

     
  4. 20:16

    Notes: 98

    Reblogged from thelandofmaps

    image: Download

    nama nama macam Joko dan Ningsih belum punah kan di 2013nya Indonesia? ;)
thelandofmaps:

2012’s most popular baby names (by state) [960x640]CLICK HERE FOR MORE MAPS!thelandofmaps.tumblr.com

    nama nama macam Joko dan Ningsih belum punah kan di 2013nya Indonesia? ;)

    thelandofmaps:

    2012’s most popular baby names (by state) [960x640]
    CLICK HERE FOR MORE MAPS!
    thelandofmaps.tumblr.com

     
  5. 20:05

    Notes: 5

    Di seluruh dunia banjir itu diukur berdasarkan sentimeter dan meter. Hanya di Indonesia diukur berdasarkan matakaki, dengkul, pinggang, dan leher.
    — Cak Nun
     
  6. 19:54

    Notes: 7972

    Reblogged from nevver

     
  7. 19:43

    Notes: 4

    Kita Tentu Tak Akan Menyebut Mereka Pahlawan Kesiangan Bukan?

    Berita ini diturunkan oleh Kompas, 23 Mei 2013 dengan judul “Kepedulian Tiga Pelajar Itu Menggagalkan Pemerkosaan”. Bahagia. Itu saja.

    Abdurahman (13) sigap menunjukkan lokasi percobaan pemerkosaan di lembah, di antara pohon-pohon pinus yang berada di perbatasan perkebunan Tapos di Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (22/5). Di lokasi itu, ia bersama Azis (15) dan Ilham (13) menggagalkan percobaan pemerkosaan terhadap remaja putri, Senin lalu.

    Adul, begitu ia biasa dipanggil, dengan cepat berjalan turun di jalan setapak yang cukup terjal dari ketinggian 15 meter. Jalan setapak itu hanya berupa potongan tanah atau susunan batu alami dengan kemiringan lebih dari 45 derajat. Saat menyelamatkan Pu (14), siswi salah satu SMP di Caringin, dari upaya pemerkosaan oleh AH (16), seorang tukang ojek, ia, dan dua temannya setengah berlari menuruni jalan setapak itu.

    ”Untung waktu itu enggak tergelincir dan jatuh,” tutur siswa kelas II SMPN 3 Ciawi itu.

    Pada saat kejadian, Senin, Abdurahman sedang bersama Azis dan Ilham, teman sepermainannya di Kampung Pondok Menteng, Desa Cileungsi, Ciawi. Azis dan Ilham bersekolah di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Fathan Mubina. Saat melintas di jalan beraspal, mereka mendengar suara perempuan berteriak meminta tolong, sekaligus menangis dari arah lembah.

    ”Kami berhenti dan melihat ke arah bawah. Ada laki-laki sedang jongkok mendorong perempuan ke tanah,” tuturnya.

    Mereka langsung menuju lokasi itu untuk mencegah upaya pemerkosaan yang dilakukan AH. Saat itu, AH sempat berusaha kabur, tetapi dipegang ketiga remaja itu. Mereka juga berteriak meminta tolong pengendara yang melintas.

    ”Korbannya menangis terus. Dia juga takut sama kami. Waktu ditinggal, AH minta damai, menawari rokok. Kami bilang, enggak merokok,” tutur Abdurahman.

    Sebagian pakaian Pu sobek, serta ada bekas darah terlihat di sekitar pundak. Pu terluka karena AH membenturkan kepalanya ke tanah.

    Abdurahman yang tinggi badannya sekitar 140 sentimeter (cm) itu mengaku sedikit takut menghadapi AH yang tingginya berkisar 165 cm. Namun, rasa kasihan ditambah jumlah yang lebih banyak, mereka akhirnya memberanikan diri.

    ”Apalagi ini kampung kami sendiri. Kami enggak mau ada pemerkosaan di sini,” tuturnya.

    Ilham juga sempat takut pelaku membawa senjata tajam, tapi ia nekat. ”Saya cuma mau nolong supaya enggak ada korban,” tutur siswa kelas I itu.

    Membanggakan

    Acep Ahmad, Wakil Kepala MTs Fathan Mubina, dan Asep Hendarman, Wakil Kepala SMPN 3 Ciawi, merasa bangga dengan keberanian siswa mereka.

    Hal ini menjadi bukti bahwa pelajar bisa membantu sesama yang butuh pertolongan. ”Jadi pelajar itu bukan hanya terkenal karena tawuran saja,” tutur Asep Hendarman.

    Menurut Kepala Kepolisian Sektor Ciawi Komisaris Sugianto, Pu baru Senin itu mengenal AH. Itu bermula dari pesan singkat dari Ev (16), yang dikenalnya beberapa pekan terakhir. Ev mengirim pesan bahwa AH, temannya yang tukang ojek, akan menjemput Pu.

    AH mengaku khilaf hendak memerkosa Pu, karena sehari sebelumnya menonton film porno. Selain itu, dia mengaku terpancing karena Pu berparas menarik. (Antony Lee)

     
  8. 19:33

    Notes: 2

    Tags: Politik

    Akuntabilitas Pejabat Publik

    Tulisan ini adalah karya Miftah ThohaGuru Besar Administrasi Publik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Terbit di Kompas, 23 Mei 2013. Memperkaya gagasan kita tentang moral, etika, dan demokrasi. Tulisan ini saya bayangkan semacam studium generale untuk para manusia yang akan berkecimpung sektor pelayanan dan pembuat kebjiakan publik.

    Di awal perkembangan ilmu administrasi publik, ilmu yang obyeknya tentang hal-ihwal tindakan pemerintahan, terjadi dua perdebatan yang hangat. Perdebatan itu tentang akuntabilitas dan etika dalam pemerintahan ini.

    Perdebatan pertama dilakukan Friedrich (1940) dan Finer (1941). Adapun debat yang kedua dilakukan antara Herbert Simon dan Dwight Waldo.

    Carl J Friedrich berpendapat, akuntabilitas di dalam pemerintahan tidak efektif dan tidak diperlukan karena sudah dilakukan administrator yang profesional melalui garis hierarki kepada pejabat internal. Pendapat itu disanggah Herbert Finer karena, meski dilakukan profesional, di dalam pemerintahan yang bersumber dari rakyat, secara etika pejabat harus bertanggung jawab kepada publik. Debat Simon dan Waldo sejalan dengan Friedrich dan Finer tersebut.

    Akuntabilitas dan demokrasi

    Di dalam pemerintahan yang demokratis, segala hal yang dikerjakan pemerintah harus bisa dipertanggungjawabkan kepada publik. Pemahaman publik ini wujudnya adalah seluruh komponen rakyat yang menjadi sumber terbentuknya pemerintahan yang demokratis itu. Gaya kepemerintahan seperti ini, menurut Stephen Goldsmith dan Willian Eggers dalam Governing by Networking (2004) dan David McNabb dalam New Face of Government (2009), menjadikan gaya kepemerintahan yang dilakukan institusi dan perilaku pejabat yang dekat dengan nasib rakyatnya. Itulah sebabnya ada kecenderungan, jika rakyatnya menyatakan kepemimpinan pejabat itu menyakiti amanat hati rakyat, moral etikanya pemimpin itu harus mundur dari jabatannya.

    Pejabat yang gaya kepemerintahan normatif tradisional bersikap bergantung kepada prosedur hierarki jabatan (Friedrich dan Simon). Pejabat yang diangkat dalam jabatannya itu oleh pejabat yang berwenang hanya merasa bertanggung jawab kepada atasannya itu. Itulah gaya kepemerintahan birokrasi Weberian yang banyak diperbaiki kedua buku tersebut.

    Gaya kepemerintahan normatif prosedural birokrasi hierarki tersebut, kata Goldsmith dan Eggers, telah diubah menjadi gaya kepemimpinan muka baru yang disebut networking. Dengan demikian, pemberantasan korupsi, misalnya, secara normatif prosedural seharusnya bukan hanya tugas pokok KPK dan lembaga penegak hukum lainnya, melainkan secara networking juga melibatkan semua aktor, termasuk rakyat, partai politik, lembaga swadaya masyarakat, dan organisasi profit ataupun nonprofit. Dengan jalinan networking ini, semoga pemberantasan korupsi akan bisa segera menuai hasil yang memuaskan semua pihak. Bukan semata-mata menonjolkan kekuasaan yang luar biasa.

    Mundur dari jabatan

    Pertanggungjawaban kepemerintahan memang ada dua perspektif. Pertama, seperti disinggung di depan, dilakukan melalui jalur komando hierarki. Setiap pejabat yang diangkat oleh pejabat atasannya merasa bertanggung jawab kepada atasannya. Karena itu, seorang menteri yang diangkat oleh presiden, moral komando hierarkinya harus bertanggung jawab kepada presiden.

    Sistem aturan ini tidak akan hilang dan telah lama hidup dalam sistem birokrasi pemerintahan sejak zaman kuno dahulu. Sistem hierarki ini banyak dikritik para pemikir ilmu sosial dan politik karena sistem seperti ini merupakan perwujudan dari dominasi kekuasaan (Barry Hindess, 1966) dan mengekang kreativitas orang. Selain itu, yang amat penting, telah mengesampingkan suara rakyat dalam pemerintahan yang demokratis.

    Pertanggungjawaban kedua dalam kepemerintahan yang demokratis selalu dikaitkan dengan publik, yakni kepada rakyat yang membentuk pemerintahan ini. Tidak ada presiden di dalam pemerintahan demokratis jika tidak dipilih rakyat. Tidak ada seseorang yang bakal menjadi menteri kalau tidak dipilih presiden yang dipilih rakyat. Dengan demikian, menteri pun logikanya tidak bisa mengesampingkan suara rakyat.

    Bahkan, pertanggungjawaban kedua ini dikaitkan dengan moral dan etika kepemerintahan (Finer dan Waldo). Sanksinya bersifat moral. Dengan demikian, jika pejabat yang kebijakannya dan sikap tindakan manajerialnya membuat susahnya rakyat yang mengangkatnya, moral pejabat tersebut tidak etis. Supaya etis, pejabat itu diharuskan rela mundur sebelum diberhentikan oleh pejabat hierarki yang mengangkatnya. Pertanggungjawaban semacam ini amat didambakan dalam pemerintahan yang berwajah baru, suatu sikap manajerial pemerintahan yang demokratis.

    Akhir-akhir ini, banyak pejabat pemerintah yang kebijakan, tindakan, sikap, dan perilakunya bikin susah, sulit, bahkan mematikan rakyat, tetapi masih menunggu belas kasihan presiden untuk diberhentikan. Pejabat semacam itu sudah kehilangan etika dan moral akuntabilitas publik. Dahulu, di awal kemerdekaan dan pemerintahan yang demokratis, Bung Hatta memberi contoh mundur dari jabatan wakil presiden ketika tidak lagi cocok dengan kebijakan Bung Karno. Nama Bung Hatta tetap harum: pribadi dan sikap perilakunya prominen, terhormat, dan terpuji sampai akhir hayatnya.

    Mundur dari jabatan karena merasa bersalah bukanlah aib, melainkan satria. Barangkali, karena perkembangan pemerintahan yang demokratis di tempat kita belum sampai pada tataran menghitung etika, pejabat menunggu diganti oleh atasannya.