1. 19:17 19th Apr 2014

    Notes: 1

    Tags: prosa

    Syukuran

    Cerita pendek yang realis ini adalah karya Sori Siregar. Terbit di Kompas, 13 April 2014. Bang Sori memberi kita peringatan yang cukup jelas: carilah teman yang menguatkan!

    Setelah aku baca, undangan itu kulemparkan ke meja di depanku. Tanpa berpikir panjang aku langsung mengambil keputusan, tidak akan memenuhi undangan itu. Ini tak dapat ditawar karena merupakan keputusan final. Tidak akan.

    Tidak ada yang salah sebenarnya jika untuk memasuki rumah baru Dilan mengadakan upacara selamatan atau syukuran. Tapi mengaitkannya dengan pembebasan Darmola terlalu mengada-ada. Aku mengenal Dilan selama dua puluh tahun. Sebagai pegawai negeri sipil, kejujurannya mengagumkanku. Ia menabung bertahun-tahun untuk membayar sebagian uang muka rumah jenis T-70. Pembayaran cicilan juga akan dilakukannya bertahun-tahun.

    Mengapa Darmola menumpang gratis kepada si jujur Dilan untuk membuktikan dirinya bersih. Tidakkah putusan pengadilan yang menyakitkan hati itu tidak cukup untuk membersihkan namanya? Mengapa Dilan begitu mudah ditumpangi Darmola? Mengapa ia begitu naif dan  tidak sadar  bahwa Darmola menumpang menang pada nama baiknya?

    Satu minggu  setelah selamatan itu atas permintaannya aku bertemu dengan Dilan, di  warung kopi di halaman kantornya. Setelah mengucapkan selamat karena ia mulai menghuni rumah yang dibeli dengan KPR itu, aku minta maaf karena tidak dapat menghadiri selamatan itu.

    ”Tidak apa-apa. Aku memang tidak dapat menolak.”

    ”Maksudmu?”

    ”Aku tahu mengapa kau tidak datang.”

    Aku diam. Dia masih seorang pembaca yang baik. Tanpa harus diberi penjelasan ia sudah dapat menangkap i syarat yang aku berikan.

    ”Dia mampu membeli 100 rumah seperti rumahku, kalau dia mau. Kekayaannya memang mengejutkan semua orang. Tapi, dia saudara sepupuku yang dulu  membayar semua biaya operasi jantung ibuku.”

    Aku membiarkan Dilan  menuturkan segalanya yang dianggapnya perlu kuketahui agar  aku tidak serta-merta menyalahkannya. Wajahnya yang memohon pengertian itu memanggil rasa ibaku.

    ”Bukan hanya kau. Aku juga merasa ia memiliki semua kekayaan itu dengan cara yang tidak benar. Beberapa tahun ia aman, tetapi dua tahun lalu ia tidak dapat lari dari jerat hukum. Ia mendekam di balik jeruji, walaupun hanya untuk dua tahun. Hukuman dua tahun itu membuat semua media ribut. Tidak adil, kata mereka. Mestinya dia dihukum 20 tahun, kalau perlu seumur hidup.”

    Dari warung kopi, yang kalau tidak salah disebut coffee shop dalam bahasa Inggris itu, Dilan menatap ke jalan raya yang mulai macet. Tidak lama lagi mobil-mobil di jalan itu akan merangkak beringsut-ingsut. Pemandangan yang hadir setiap hari di depan mata. Dialogku dengan Dilan masih berlangsung satu arah.

    ”Ketika Darmola tahu aku akan mengadakan selamatan untuk memasuki rumah baru itu, ia memintaku untuk mengizinkannya menggunakan kesempatan itu sekaligus sebagai acara  syukuran karena kembalinya ia ke dunia bebas. Berhari-hari aku tidak dapat menjawab. Darmola tidak bodoh. Ia mengulangi keinginannya itu  kepada ibuku.”

    Dilan menggeleng. Berkali-kali. Kemudian dengan suara lirih ia mengatakan:

    ”Memang tidak enak jadi orang miskin. Kalau tidak karena kemiskinan aku tidak akan menerima bantuan Darmola ketika ibuku menjalani operasi jantung itu. Karena merasa berutang budi itu pula ibuku memintaku mengabulkan permintaan Darmola itu.”

    Dilan menarik napas. Dia seakan baru menurunkan beban berat dari pundaknya. Pembicaraan satu arah ini aku sambut dengan suara lirih pula.

    ”Kau tidak miskin, Dilan. Jutaan orang lain kondisinya jauh lebih sengsara dan parah daripada kau.”

    ”Mungkin kata miskin itu kurang tepat. Yang lebih sesuai barangkali, aku kurang mampu. Aku memang memiliki kartu Askes, begitu juga istriku dan kedua anakku. Tapi kartu itu tidak berlaku untuk ibuku. Ketika keadaan kritis karena operasi harus dilakukan  segera datanglah uluran tangan Darmola sebagai juru selamat. Saat itu aku benar-benar merasa betapa mulianya hati saudara sepupuku itu. Ia datang ketika tidak seorang pun  dapat menolongku.”

    Kami saling bertatapan. Tampaknya ia merasa belum berhasil meyakinkanku. Ia mungkin merasa seperti itu karena ia tahu bahwa aku  bukanlah orang yang mudah diyakinkan tentang apa saja. Sebelum ia melanjutkan penjelasannya, aku segera mendahuluinya.

    ”Seandainya aku dalam posisi  seperti itu, mungkin aku juga akan segera menerima uluran tangan  itu, bahkan mungkin memintanya sebelum tangan itu diulurkan.”

    Dilan merasa tidak seorang diri. Ada teman yang dapat memahaminya dan mendukung sikapnya yang permisif. Baginya itu  sudah cukup, walaupun di lubuk hatinya  ia merasa bersalah karena–walaupun dalam keadaan terpaksa–ia bersyukur atas pembebasan Darmola.  

    ”Kata prasejahtera, sejahtera I, sejahtera II atau sejahtera lain untuk mengaburkan makna kata miskin memang sangat manipulatif,” ujarku.

    Kata-kata itu dipopulerkan sebuah rezim untuk bersembunyi di balik ketidakmampuannya memberantas kemiskinan. Karena itu orang tidak merasa dirinya miskin, tetapi  sejahtera. Malangnya, begitu mereka membutuhkan bantuan, mereka tiba-tiba merasa miskin dan jika ada orang yang mengulurkan tangan memberikan pertolongan, mereka menganggap orang itu sebagai juru selamat yang harus dihormati bahkan dimuliakan.

    Orang-orang yang diharuskan oleh hukum untuk berdiam sementara di bui, paham betul akan hal itu. Para penjahat ini sadar  bahwa orang-orang miskin yang disebut sejahtera itu menunggu pembebasan mereka dengan penuh harap. Apalagi sebelum mendekam di balik jeruji, para gangster tersebut terkenal pemurah dan sering memberikan sumbangan kepada masyarakat termasuk rumah-rumah ibadah.

    Karena itu sering, bahkan sangat sering, para pencoleng yang nirmalu itu disambut dengan hangat oleh masyarakat di sekitarnya ketika mereka telah selesai menjalani hukuman. Mereka dianggap tidak bersalah, korban fitnah, jauh dari perbuatan aib dan menjadi mangsa peradilan sesat. Tidak jarang pula mereka diperlakukan sebagai pahlawan.

    Darmola adalah salah seorang dari gangster yang kebal dari rasa malu itu.  Tidak mengherankan jika pada hari pertama  setelah dibebaskan dari kerangkeng, ia  berteriak dengan membusungkan dada mengatakan dirinya menjadi mangsa peradilan sesat. Itu pula sebabnya berbagai doa sebagai ungkapan rasa syukur dilakukan di rumahnya dan di sejumlah rumah keluarga besarnya.

    Yang terakhir adalah  doa yang dilakukan di rumah Dilan itu. Mengapa Dilan harus dilibatkan? Tidakkah Darmola tahu bahwa pegawai negeri sipil yang satu  ini terkenal jujur sampai ke ubun-ubun?

    Yang dapat menjawabnya hanyalah Darmola, karena tidak mungkin ia tidak tahu  bahwa Dilan sangat tersiksa karena melaksanakan doa syukur di rumahnya untuk seorang bandit yang juga sepupunya. Darmola juga pasti tahu bahwa Dilan pasti akan menolak permintaannya jika ibu Dilan tidak turun tangan.

    ”Darmola itu  orang baik. Dia sering bersedekah ke panti asuhan. Beberapa orang anak orang tidak mampu diangkatnya menjadi anak asuh agar mereka dapat bersekolah, sumbangan tetapnya untuk mesjid  tak terhitung lagi. Sekolah dasar di Rengas sana, dapat dibangun karena sebagian besar biayanya ditanggung Darmola. Ibu tidak pernah mendengar celaan orang terhadap dirinya. Karena itu ketika dia ditangkap, banyak yang mengatakan ia korban fitnah  dan sengaja dijebak untuk dijerumuskan.”

    Ketika ibunya berkata demikian sebelum membujuknya untuk mengabulkan permintaan Darmola, Dilan mulai merasakan sesuatu yang sangat tidak diinginkannya. Ia tidak ingin ibunya telah dibeli oleh Darmola dengan setumpuk uang  dan lembaran-lembaran kertas haram itu telah membutakan mata hati ibunya. Ia tidak ingin  itu yang telah terjadi, walaupun kemungkinannya sangat besar memang begitulah keadaan sebenarnya.

    Dilan menyadari bahwa mata Darmola cukup jeli membaca situasi. Syukuran memasuki rumah Dilan adalah saat yang paling tepat untuk mengembalikan pamornya  sebagai orang baik. Dilan dipandang sebagai simbol di kalangan orang-orang jujur yang mengenalnya, yang jumlahnya tidak sedikit. Sebagai pegawai negeri sipil, Dilan memegang jabatan cukup menentukan yang sebenarnya dapat membuatnya menjadi orang kaya jika ia mau. Tetapi ia selalu menghindar dari peluang itu.

    Jika orang sejujur Dilan mengucapkan doa syukur  karena  seseorang dibebaskan setelah menjalani  hukuman, pastilah pembebasan orang itu  patut disyukuri. Darmola telah membaca itu sejak awal. Dia hanya memanfaatkan peluang yang terbuka.

    Pada mulanya Dilan ingin menutup peluang itu, tetapi ibunya membuka peluang itu lebar-lebar hanya karena uluran tangan di masa lampau yang menyelamatkan dirinya. Karena itu, agak mengejutkan bagiku ketika Dilan dengan yakin mengatakan:

    ”Orang tidak akan semudah itu menganggapku  telah menjual diri kepada seorang perampok. Terutama teman-teman dekatku yang telah memberikan pinjaman agar aku dapat membayar seluruh uang panjar pembelian rumahku. Termasuk kau. Hari ini aku memintamu datang ke warung kopi ini dalam hubungan itu. Aku tidak dapat membayar utangku  dalam waktu dekat. Belum tahu kapan. Mohon pengertianmu.”

    Aku tersenyum. Bangga.

     
  2. 19:08

    Notes: 4

    Tags: Cerita

    Rajin, Pandai, Cikampek, Puncak

    Tulisan ini adalah karya Samuel Mulia. Terbit di Kompas, 13 April 2014. Kamu?

    Diberitakan seorang wanita berusia enam puluh tahun, menikahi pria muda berusia dua puluh delapan tahun. Kalau tidak salah, peristiwa ini terjadi di negeri Tiongkok. Berita itu masuk di grup Whatsapp saya.

    Salah satu anggota grup berucap begini. ”Gila ya, uda enam puluh tahun, badannya masih langsing dan cantik pula. Pengen deh kayak gitu.”

    ”Pengen doang”

    Komentar itu memancing kepala saya untuk berpikir macam-macam. Pertama, seperti komentar teman saya itu, tak dipungkiri bahwa saya acapakali berpikir hal yang sama.Pengen deh kayak gitu.

    Melihat kecantikan atau kekayaan serta keterkenalan bahkan kerendahan hati orang lain, selalu saja memancing komentar semacam itu. Kenyataannya, mulut ini cuma pengen doang. Kalau pun ada usaha untuk mewujudkannya, usaha itu acapkali kandas setelah menjalaninya beberapa bulan, bahkan dalam kasus saya, hanya beberapa minggu saja.

    ”Yaah…sudahlah kita terima nasib saja. Orang itu kan nasibnya beda-beda.” Seperti saya tuliskan minggu lalu, alasan positif itu selalu saja dicari untuk menutupi keputusasaan dan kemalasan untuk berjuang.

    Kedua, saya acapkali berusaha pengen deh kayak gitu kemudian berusaha setengah mati dan tidak kandas, tapi tak berpikir panjang. Menjadi langsing bisa jadi dilakukan semua orang, meski kadang bertahan hanya beberapa saat saja. Tetapi cantik yang alami dan bukan buatan dokter bedah plastik, adalah sebuah anugerah.

    Nah, karena anugerah, berarti diberikan oleh Yang Maha Kuasa. Kalau begitu ceritanya, maka hal itu tak dapat dicari dan dimiliki, kecuali yaa…itu tadi, lewat kehebatan dokter bedah plastik. Katanya dalam hidup ini, kalau tak bisa dapat yang alami, yaa….yang buatan saja. Katanya.

    Kondisi seperti itu, mengingatkan saya pada ungkapan rajin pangkal pandai yang telah dicekoki di kepala saya sejak kecil, dan menjadi kesal karena saya sudah rajin tapi tingkat intelektualitas yang gitu deh itu, membuat saya murid pandai.

    Saya kemudian berpikir begini. Moga-moga benar pikiran saya. Rajin adalah aktivitas fisik, didasari oleh kemauan, dan dipengaruhi oleh banyak faktor. Pandai adalah anugerah dan bukan sebuah aktivitas fisik. Mau hujan atau mau gempa, pandai ya pandai. Titik. Tak ada manusia yang berkata: ”Ah…lagi malas nih jadi pandai. Besok aja. Sekarang pengen bodoh.”

    Seperti saya katakan, saya ini termasuk murid dan mahasiswa yang rajin, bahkan rajin sekali. Tetapi karena tingkat kepandaian saya, yaaa…cuma gitu deh, maka hasilnya pangkal pandai saja tidak. Saya ini juara tiga puluh, dari tiga puluh mahasiswa yang ada.

    Rajin pangkal pandai itu macam dua cara yang bisa dilakukan untuk pergi ke Bandung dari Jakarta. Yang satu lewat Puncak, yang satu lewat Cikampek. Kedua jalur itu tak pernah bertemu. Meski keduanya mengantar kita sampai ke kota sejuta makanan enak.

    Rajin mengantar saya naik kelas, pandai mengantar mereka naik kelas. Saya juara tiga puluh, mereka juara satu, dua dan tiga. Saya tak pernah ’bertemu’ dengan mereka.

    Mewujudkan ”pengen”

    Ketiga, perbedaan umur dari pasangan di atas membuat saya bertanya, bagaimana mereka bisa menjamin bahwa hubungan itu akan langgeng? Saya belajar dengan melihat pengalaman orang, bahwa katanya bibit, bebet, dan bobot itu, adalah tiga hal yang penting yang perlu dipikirkan sebelum memutuskan untuk memiliki hubungan yang serius.

    Tetapi kemudian saya bertanya, apakah tiga hal itu memiliki jaminan bahwa hubungan itu tak berantakan di tengah jalan? Atau hal itu adalah sebuah tindakan preventif agar kalaupun berantakan, tak akan sampai luluh-lantak?

    Saya juga memiliki teman seperti dalam kasus di atas. Bukan saja berbeda usia, tetapi juga latar belakang dan kekayaan. Hal yang membuat saya terpesona adalah mereka menggunakan kekuatan cinta untuk menjalani dan menanggung risikonya. Dan saya adalah bukti yang melihat mereka menanggung risiko.

    Perbedaan yang mencolok itu telah membuat salah satu pasangan tak bisa diterima dalam lingkungan pertemanan. Bahkan yang paling memuakkan, arogansi dalam pertemanan itu telah mampu mewujudkan ’permusuhan’ yang sangat halus, tapi begitu nyata dan dapat dirasakan.

    Melihat kejadian di depan mata itu, saya seperti disetrum. Saya ini sering kali kehilangan banyak momen indah, karena lebih membela orang lain supaya saya bisa diterima, dan melupakan orang yang saya kasihi dan mengasihi saya, yang membuat saya tidak bisa diterima dalam sebuah lingkungan sosial.

    Saya terlalu banyak membela orang lain yang belum tentu akan membela saya di suatu hari kalau perjalanan hidup saya berantakan. Kalaupun mereka akan membela, pembelaan mereka adalah untuk kebahagiaan mereka, dan bukan untuk saya.

    Mungkin, untuk mewujudkan pengen deh kayak gitu, kadang saya perlu memakai kacamata kuda. Sebuah cara memperjuangkan kebahagiaan dan kacamata ini memberi kemampuan saya untuk mengutamakan suara nurani ketimbang suara yang lain.

    Hidup dengan kacamata kuda itu memerlukan keberanian di atas rata-rata, sehingga dapatlah saya menyebut bahwa hebat itu kalau bisa berbeda, dan bukan kalau bisa sama.

     
  3. 19:08 17th Apr 2014

    Notes: 18

    Tags: Religius

    Islam, Laku dan Waktu: Ikhtiar Meretas Identitas

    Identitas pada awalnya adalah usaha instingtif manusia untuk menciptakan ikatan imajiner sehingga kelompoknya bisa terus berkumpul dan saling melindungi dari sesuatu yang ada di luar mereka. Identitas tercipta sedemikian dari adanya potensi negatif di luar sana. Ada semacam ketakutan dan kekhawatiran yang mendasarinya. Meminjam Isaiah Berlin, identitas bisa dikatakan adalah alat “freedom from” yang lain.

    Nah, kita perlu juga bertanya, apakah keberadaan identitas pada seseorang secara langsung membuat seseorang tersebut akan menunjukkan perilaku yang sesuai dengan identitasnya itu. Apakah jika seorang laki-laki memiliki marga suka Batak, ia akan menampilkan perilaku “ideal” seorang laki-laki Batak. Apakah seorang mahasiswa Ekonomi bisa dipastika selalu berperilaku sebagaimana layaknya mahasiswa Ekonomi. Singkatnya, apakah identitas pada seseorang akan selalu membuat seseorang itu berperilaku sesuai archetype yang dimiliki oleh orang-orang dengan identitas itu.

    Kita tentu sepakat bahwa jawabannya “tidak”. Kita, dari amatan yang sederhana, dapat menduga mengapa hal ini terjadi karena orang-orang yang memiliki identitas tertentu tak hidup secara bersama dalam suatu area lagi. Sekarang, kita hidup di suatu keadaan yang begitu beragam secara identitas. Hampir bisa kita katakan tidak ada lagi suatu komunitas yang homogen dewasa ini.

    Namun demikian, saya kira, kita bolehlah membayangkan bahwa identitas itu semacam bakat atau energi potensial. Orang-orang yang memiliki identitas tertentu akan memiliki kecenderungan untuk melakukan sesuatu perilaku yang sesuai archetype-nya jika kita melakukan nudge pada identitas itu. Secara sederhana, seseorang akan melakukan perilaku sesuai archetype identitasnya jika kita “menyadarkan” orang tersebut pada identitasnya. Dalam ranah psikologi hal ini biasa disebut priming. Sebagai contoh, seorang mahasiswa Ekonomi akan cenderung mengeluarkan “perilaku kompetitif” jika “disadarkan” identitasnya sebagai mahasiswa Ekonomi pada suatu “permainan bisnis” dibandingkan jika “tidak disadarkan”.

    Merujuk pada hal-hal di atas saya kira kita bisa sedikit punya landasan berpikir pada suatu pertanyaan yang hari-hari ini makin santer terdengar “mengapa Indonesia yang mayoritasnya beragama Islam bahkan terbanyak di muka bumi tetapi perilaku mulai dari elit hingga wong cilik tak menggambarkan apa yang diajarkan agamanya”. Tentu, hal ini terjadi karena Islam pada kita, rakyat Indonesia adalah identitas. Sesuatu yang tak dicari-cari. Terberi. Islam, dewasa ini kita lihat selalu muncul pada ikhtiar “freedom for” dari kelompok agama lain atau sekte internal yang dianggap sesat. Jika dahulu identitas adalah benteng pertahanan, belakangan benteng itu tampaknya jadi portabel. Alat perang yang efektif dan efisien untuk menggerakkan massa.

    Kita lagi-lagi bertanya, apakah benar agama itu adalah identitas. Apakah hanya sekadar itu. Sampai saat ini, saya berkeyakinan bahwa agama yang baik harusnya melampaui itu. Menurut saya agama yang baik, Islam tentu saja termasuk, haruslah mampu menjelaskan asal-muasal manusia dan hendak ke mana ia menuju. Tak sampai di situ, agama yang baik juga memberi petunjuk yang jelas untuk menuju titik itu. Kita menyebut jalan itu sebagai nilai moral dalam menjalani kehidupan. Karena hanya kehidupan saat ini, sejauh yang kita sadari, yang bisa kita akses dan kita ikhtiarkan. Pada pengertian ini agama tak lagi sekadar alat “freedom for” tetapi “freedom to” melakukan hal-hal yang disebut perilaku sesuai nilai moral tadi untuk mengisi kehidupan saat ini, sebagai satu-satunya cara menuju kehidupan yang di sana.

    Dalam ikhtiar menarik inspirasi dalam Islam untuk mencari nilai-nilai moral yang bisa kita terapkan dalam kehidupan, Abul A’la Maududi dalam “The Foundation of Islam” layak dicermati. Beliau melihat bahwa selama ini lima hal yang biasa disebut sebagai Rukun Islam itu hanyalah sebagai ritual belaka. Tanpa makna. Padahal menurutnya, syahadat, salat, shaum, zakat, hingga ibadah haji adalah semacam pelatihan yang diberikan Tuhan kepada umat Islam agar bisa menginternalisasi suatu nilai moral tertentu. Nilai moral ini secara singkat bisa diperhatikan bahwa di tiap-tiap rukun selalu adalah hal-hal yang sifatnya spiritual ketuhanan tetapi selalu ada pula nilai-nilai humanistik, kepedulian kepada manusia lain. Tentu saja selain itu, merujuk cara berpikir yang telah dikemukakan di atas, ritual-ritual ini adalah bagian dari nudge Tuhan kepada kita, “kamu orang Islam loh”.Tak berhenti di sana, selepas pelatihan untuk menginternalisasi nilai moral sekaligus pemberian priming berkelanjutan tadi, umat Islam haruslah menjalankan dua hal lagi. Dua hal inilah yang menurut beliau justru akan membuat kaum muslimin bisa mengubah lanskap dunia. Dalam bahasa saya sebelumnya, bisa dikatakan dua hal ini adalah alat “freedom to”umat Islam dalam menjalankan nilai moral yang didapat dari Rukun Islam tadi. Dua hal ini adalah dakwah dan jihad.

    Tentu saja dalam konteks kekinian, dakwah dan jihad tak lagi tentang ceramah-ceramah dan perang berdarah-darah. Lebih jauh, dakwah adalah usaha kita menjalankan laku dalam kehidupan sesuai moral yang kita maknai dari ritual Rukun Islam. Sementara itu jihad adalah ikhtiar sungguh-sungguh kita sepanjang waktu dalam melakukan laku “dakwah” tadi. Kata kuncinya moralitas tadi harus berbentu laku di sepanjang waktu. Persisten. Inilah mungkin yang dimaksudkan Imam Syafi’i ketika berkata bahwa Al ‘Asr sudah mencukupi untuk umat Islam jika dimengerti maknanya. Dan para sahabat Nabi pun tak pernah lepas membaca surat ini jika mereka akan berpisah setelah berbincang. Saya kira, jika hal ini yang akan kita lakukan, tak sekadar melampui identitas, Islam akan kita jadikan bagian dari our-story tak lagi sebagai his-tory-nya Muhammad saja. Islam yang kita cecap hari ini, bukan masa lalu yang kita harap-harap tiba-tiba terjadi lagi.

    Disampaikan pada Pertemuan Ikatan Mahasiswa Muslim Medan Universitas Indonesia, 17 April 2014

     
  4. 19:43 6th Apr 2014

    Notes: 6

    Reblogged from salsabilaa

    Tags: SBMatahari

    ayo kakak kakak yang berada di tim Hijau dan Merah ikut bercerita juga :)

    salsabilaa:

    Setelah sukses dengan trip kakak guru @sbmatahari yang pertama ke puncak awal tahun kemarin, kita pun ketagihan untuk bikin trip bareng lagi sebagai sarana refreshing sekaligus teambuilding :)

    Berdasarkan pertimbangan waktu, biaya, dan tingkat kepadatan kalau pergi ke kota/tempat wisata, akhirnya pilihan trip kali ini pun jatuh ke jelajah memburu matahari di ibukota :)

    19 orang kakak guru kemudian dibagi ke dalam tiga tim: merah, hijau, dan biru. Nama tim menentukan warna baju yang harus dipakai serta tempat-tempat yang akan dijelajahi.
    Tim merah: Museum sejarah Jakarta - Toko Merah - Jembatan Merah - Rumah akar - Menara Syahbandar di pelabuhan Sunda KelapaTim hijau: Museum nasional - Museum gajah - Museum arca - Ragusa
    Tim biru: Kawasan ekowisata mangrove - Yayasan Buda Tzu Chi - Taman wisata alam

    Diantara tiga tim, rute tim biru (ai dkk.) lah yang paling jauh dari pusat ibukota -__- tapi worth it kok :D

    Perjalanan diawali dengan berkumpul di stasiun UI pukul 14.00 dan berangkat dengan kereta menuju stasiun kota pukul 14.30. Sesampainya di stasiun kota, kita pun shalat ashar terlebih dahulu baru kemudian berpencar menuju rute masing-masing.

    Stasiun kota - Kawasan Wisata Alam Mangrove

    Perjalanan menuju kawasan wisata ini luar biasa sodara-sodara! Ya lamanya, ya macetnya, ya salah jurusannya..
    Diawali dengan naik bus kota lanjut naik angkot yang ternyata jurusannya berbeda (supir angkotnya baru dan kurang tahu jalan). Alhasil kita harus turun dan jalan cukup jauh untuk naik angkot lain dengan rute yang benar. Sesampainya di kawasan wisata, ternyata kita harus menerima kenyataan kalau kawasannya udah tutup T.T (tutup pukul 17.00 sementara kita baru sampai pukul 17.15). Karena sayang udah pergi jauh-jauh tapi nggak bisa masuk, akhirnya kita minta Karin dan Fadel untuk bujukin pak satpam supaya ngasih izin kita masuk sebentar. Ternyata bujukannya berhasil dan kita diizinkan untuk foto-foto sebentar :D
    *psst, kalau mau foto di sini pakai kamera hp / digicam aja. Kalau mau bawa kamera SLR, harus bayar 150ribu

    Misi: "Melakukan pose ‘jangan galau nanti mati’ di jembatan kayu (minimal 2 orang)"

    image

    (yang jadi ‘korban’ ki-ka: Fadel dan Abe)

    Foto-foto lain yang diambil di sini..

    image

    image

    image

    Kawasan Wisata Alam Mangrove - Yayasan Buda Tzu Chi

    Lokasi kedua letaknya tidak terlalu jauh dari lokasi pertama. Cukup berjalan kaki sebentar + naik angkot, lalu sampailah di gedung yayasan Buda Tzu Chi yang terletak di kawasan perumahan Pantai Indah Kapuk. Sampai di sana, kita pada amaze gitu karena gedungnya besar banget dan berasa lagi di China. Hihihi..

    Ini dia gedung yayasan Buda Tzu Chi X)

    image

    Misi: "Melompat di depan Tzu Chi Primary School (semua)"

    image

    Foto lainnya..

    image

    image

    image

    Yayasan Buda Tzu Chi - Taman Wisata Alam

    Lokasi ketiga terletak persis di belakang area yayasan Buda Tzu Chi. Tapi karena sudah maghrib dan tempatnya sudah tutup, jadinya kita nggak sempat untuk menjalankan misi berikutnya (padahal misinya seru, “berfoto di atas kano” X)). Kita hanya menumpang untuk shalat maghrib dan isya aja di sana. Masjidnya bagus loh! Bangunannya terbuat dari kayu dan berada di atas danau :D (belum nyimpan fotonya)

    'Perjuangan' kita ternyata tidak hanya di awal perjalanan aja, tapi juga hingga akhir perjalanan X)
    Merasakan gelap-gelapan sebentar di masjid (karena mati lampu), menunggu busway yang datang hingga 30 menit, menunggu pak supir busway makan malam dulu, bersabar dengan perut kelaparan (kita nggak mau makan di PIK karena takut nyampe Depok terlalu larut), kereta di st.kota yang datang terlambat, dan diakhiri dengan makan mie aceh pukul 11.30 malam! (karena kita baru nyampe Depok jam segitu).

    Trip ini sebenarnya belum berakhir. Masih dilanjutkan dengan permainan2 lain keesokan harinya. Tapi karena ai nggak punya fotonya, ai nggak cerita deh. Pokoknya mah seruuuuu XD

     
  5. 19:34

    Notes: 4

    Reblogged from upikid

    intifada!

    upikid:

    Saya terbangun lagi dari mimpi ini, mimpi membunuh ataupun terbunuh. Benci sekali merasakan sensasi yang didapat saat termegap-megap kalut sambil menghitung angka satu, dua, tiga, empat, lima, sampai sepuluh. Meraup kesadaran, memilinnya padu, menyaringnya jadi jernih, ini jasad ada dimana: alam baka, alam mimpi, ataukah alam fana.

    Jam berdetak, seirama dengan degub jantung yang kembali normal memompa darah keseluruh tubuh. Semua kini terlihat jelas, hari sudah berganti, sekarang pukul satu lewat sekian. Saya meminum secangkir air mineral, cuci muka, lalu menghambur ke luar kamar. Cari angin, ataupun berjalan tanpa tujuan menyusurin tepian jalan raya.

    ***

    Jalanan ini tak pernah ada sepi-sepinya, 24 jam kendaraan bermotor melintas dengan pongah, pejalan kaki harus sabar jikalau ingin menyebrang. Jika tidak, mudah-mudahan menambah daftar panjang manusia yang meregang nyawa di kerasnya aspal jalanan. Saya boleh berpendapat pejalan kaki adalah strata paling jelata dalam kelas sosial di rimba jalan raya. Boleh dilindas, diserempet, ditabrak, ataupun dimaki-maki tak punya otak.

    Saya duduk termangu-mangu di pangkalan ojek, tepat di persimpangan jalan besar dengan jalan gang yang juga cukup lebar. Tak ada seorang pun di sini, sepi. Langit pun tampak sunyi. Tak ada bintang, tiada rembulan, hanya awan kusam yang bergumul-gumul entah apa maunya. Dari kejauhan sayup-sayup terdengar bunyi gerombolan anjing yang mengais-mengais tempat sampah. Adalah pertanda, maka saya memutuskan untuk segera pulang.

    ***

    Dengan tampang yang tak cocok dicurigai sebagai maling, saya berjalan pelan-pelan. Memperhatikan lekat-lekat bentuk pagar rumah warga, mencemooh sampah yang tak pernah beres dibersihkan, mengomentari dalam hati jalanan baru yang diperlicin menjelang pemilu, bersungut merasai desir angin yang menghantam tengkuk dengan semena-mena. Ini kegiatan rutin orang-orang yang hampir pesong. Sebab Rutinitas yang membuat hidup jadi waras.

    Sayangnya rutinitas juga membuat orang jadi sinting.

    ***

    Saya mendengar serak suara knalpot, saya menoleh ke belakang lantas menepi. Melintas dua remaja berpenis bertampang pribumi menunggangi motor buatan jepang yang telah butut dengan kencang. Yang membonceng pura-pura melepaskan tangan, yang dibonceng serta merta memeluk pinggang yang membonceng, nakal sekaligus mesra, ia mengumpat nanti batu yang digenggamnya jatuh. Jagoan.

    Beberapa puluh meter tiba-tiba itu motor melambat, dan buk! Batu yang dipegang salah satu jagoan menghantam sebuah sasaran: anjing yang sedang mengais-ngais sampah.

    Motor melaju kencang, dua jagoan terkekeh-terkeh, anjing mengaing-ngaing kesakitan, dari kejauhan terburu-buru saya berlari.

    ***

    Lihatlah ini anjing dengan seksama. Kurus kering, mungkin tak bertuan, keluar malam-malam, mengais-ngais sampah mencari makan: Ia terus mengaing-ngaing sambil menggelinjang, dari kepalanya mengucur darah, mungkin tengkorakknya remuk atau retak. Oh, makhluk tuhan yang malang.

    Durjana! Apa yang dipikirkan dua keparat ini? Mengganggap diri seolah bocah Palestina yang menimpuki tank tentara Israel dengan batu, atau menyamakan diri seperti jemaah haji yang melempari setan dengan krikil saat melempar jumroh? 

    Saya mengedarkan pandangan, tak jauh dari situ tergeletak sebongkah batu. Masih ada samar-samar bercak darah. Saya kutip dan saya timang-timang. Cukup berat, keras, bergerigi, dan seukuran genggaman tangan.

    Saya memandang ke dalam mata si anjing, begitu jauh, begitu gelap, begitu dingin. Ada kekosongan yang pekat di dalam sana. Sayup-sayup saya mendengar sesuatu, kepala saya berputar-putar, pandangan mengabur dengan cepat. Rasa-rasanya berhenti menjadi ada.

    Dan setelah itu, tak yakin betul apa yang terjadi. Yang saya ingat samar-samar: saya menghantam kepala anjing itu berkali-kali, darah menciprat ke muka, tangan yang perih, dan nafas yang terengah-engah.

     
  6. 19:26

    Notes: 3

    Tags: prosa

    Bidadari Serayu

    Cerita pendek yang cantik ini adalah karya Sungging Raga. Terbit di Kompas, 6 April 2014. Duh, indahnya…

    Di sungai Serayu, pada suatu pagi tahun 1886, ditemukan sesosok mayat lelaki mengambang, tubuhnya tersangkut di salah satu besi penyangga bendungan. Lelaki itu adalah Salimen, yang sejak malam sebelumnya dinyatakan menghilang dari rumah.

    Alkisah, beberapa saat setelah kejadian tersebut, warga mulai berkumpul…

    ”Ini sudah mayat keempat belas di Serayu.”

    ”Mengerikan.”

    ”Bahkan Salimen yang tidak pernah macam-macam pun ikut jadi korban!”

    Tak seperti penemuan mayat-mayat sebelumnya di mana warga segera mengangkat mayat itu dari sungai, kini mereka hanya berdiri di tepian, melihat dengan raut yang ketakutan.

    ”Jelas ini bukan kematian biasa.”

    ”Jadi benar yang dikatakan Kyai Subale? Salimen mati karena mengintip bidadari yang sedang mandi, seperti yang terjadi pada orang-orang sebelumnya?”

    Begitulah kabar yang beredar di desa tepi Serayu, seorang kyai kharismatik bernama Kyai Subale memberi penjelasan perihal kematian misterius yang terjadi selama beberapa hari terakhir.

    ”Kalau kalian mengintip para bidadari yang sedang mandi di sungai Serayu, apalagi mencuri selendangnya, kalian akan dibawa ke langit, dan hanya badan saja yang akan kembali ke bumi, sementara jiwa kalian menjadi tawanan. Percayalah dan ikuti nasihat saya.”

    Awalnya warga tak begitu percaya dengan ucapan Kyai Subale, tapi kematian demi kematian yang berurutan membuat penjelasan Kyai Subale terdengar masuk akal. Warga pun mulai bertanya-tanya, sejak kapan para bidadari suka mandi di Serayu?

    Sungai Serayu yang permukaannya berwarna hijau, luas, dan cantik, memang sangat cocok jika disandingkan dengan sosok bidadari. Bahkan berdasarkan salah satu riwayat yang dituturkan secara turun-temurun oleh sesepuh desa, nama Serayu berasal dari Sirah Ayu atau Kepala Cantik.

    Menurut riwayat tersebut, dahulu Sunan Kalijaga pernah menyeberangi sebuah sungai besar di daerah Banyumas, Jawa Tengah, dan beliau terkejut melihat seorang gadis sedang mandi di tengah sungai. Gadis itu hanya tampak kepala dan wajahnya yang ternyata sangat cantik. Tentu saja, sebagai bentuk penghargaan tertinggi kepada Sunan Kalijaga dan kepada riwayat ini, kita tak perlu bertanya mengapa tak dipastikan dulu tubuh gadis itu seperti apa. Sebab di zaman ketika dongeng menyerupai kenyataan, banyak gadis-gadis yang berkepala manusia tapi bentuk tubuhnya ternyata menyerupai makhluk lain.

    Kabar itu dengan cepat menyebar ke seantero desa, ”Kyai Subale juga bilang, biasanya bidadari mandi menjelang matahari tenggelam, jadi jangan ada yang berani datang ke dekat Serayu menjelang matahari terbenam. Jika ada keperluan, tunda sampai setelah isya’. Sebab bisa jadi kita awalnya tidak ingin mengintip, tapi kalau mendengar suara kecipak air dan suara tawa bidadari, maka kita pun tergoda.”

    Sejak itulah, sungai Serayu yang sedianya menyajikan pemandangan indah, barisan pohon pinus, suara ricik air, anak-anak kecil menyeberangi jembatan bambu, juga perahu-perahu yang ditambatkan, sekarang berbalik sangat mencekam.

    Dari sore sampai isya’, tak terlihat aktivitas warga, jalan kampung yang menuju jembatan Serayu menjadi lengang. Namun mereka tahu bahwa ini tidak menuntaskan seluruh masalah. Warga sepanjang tepi sungai Serayu lalu mengadakan pertemuan di balai desa untuk menemukan jalan keluar yang konkret. Kepala desa dan semua tokoh masyarakat ikut berkumpul. Mereka berunding cukup alot.

    ”Ini konyol, pembunuhan oleh bidadari itu jelas sebuah konspirasi dunia gaib. Mana ada bidadari yang seharusnya cantik jelita dan baik, justru menyandera bahkan membunuh? Ini melawan teori.”

    ”Apa Anda yakin bidadari itu pembunuhnya?”

    ”Siapa lagi? Bukankah Kyai Subale bilang sendiri?”

    ”Kyai Subale hanya bilang warga kita diangkat ke langit dan dibunuh, tapi kyai tidak memastikan bidadari itu pembunuhnya.”

    ”Hm. Begitu, ya. Jadi maksudmu, mungkin saja bidadari hanya umpan, sengaja turun ke Serayu, lalu penduduk kita diangkat ke langit, akhirnya dibantai oleh makhluk lain di sana?”

    Mendengar kata ”dibantai”, beberapa peserta rapat tampak terkejut dan berbisik satu sama lain.

    ”Jadi, mari kita urun rembuk solusi, kita tidak bisa diam, kita harus melawan. Masing-masing silakan menawarkan ide.”

    Perundingan semakin alot, satu per satu usul bermunculan, ibu-ibu sibuk menyiapkan kopi dan pisang goreng bagi peserta rapat.

    Sejenak kita tinggalkan warga di balai desa. Sambil menunggu perundingan itu selesai, saya—sebagai penulis cerita—akan menyajikan beberapa intermeso sebagai berikut:

    Alkisah, dalam sudut pandang lain, dalam platform cerita yang berbeda, para bidadari cantik dari dunia dongeng memang rajin berkunjung ke sungai Serayu untuk mandi.

    Setiap menjelang senja, para bidadari akan turun dari langit, mendarat lembut di tanah basah, meletakkan selendang di atas batu, melepas ikat kepala sehingga rambut mereka akan tergerai, lalu menceburkan diri ke sungai dan mandi sepuasnya sambil tertawa-tawa. Kadang mereka saling mencipratkan air satu sama lain, kadang sebagian dari mereka memanjat sebuah tebing yang cukup tinggi, dari puncak tebing itu mereka melompat ke dalam sungai dengan gerakan salto akrobatik menyerupai atlet lompat indah.

    Dan sungguh para bidadari tak pernah tahu perihal manusia yang selalu mengintip mereka, perihal laki-laki yang mengintip dan berharap mencuri selendang agar bisa mewariskan namanya dalam cerita dongeng.

    Juga satu hal yang penting, bidadari-bidadari itu ternyata tak pernah mempermasalahkan perihal hilangnya selendang, mereka punya banyak selendang di langit, kalau mereka tak mendapati selendang ketika selesai mandi, maka mereka akan tetap melesat ke langit, tubuh-tubuh mereka yang serupa cahaya itu akan sangat menyilaukan. Anatomi apakah yang bisa dilihat dalam cahaya selain cahaya?

    Jadi, sebenarnya bidadari-bidadari itu merasa tak punya hubungan apa-apa dengan kasus warga yang mencuri selendang lalu ditemukan mati mengapung di Serayu keesokan paginya. Mereka justru ikut bertanya-tanya, siapakah yang telah melakukan pembunuhan dan mencemarkan nama baik bangsa bidadari? Adakah makhluk di alam ini yang melakukannya karena cemburu pada kecantikan dan kesempurnaan mereka?

    Kembali ke cerita sebelumnya, malam sudah tiba di tepi Serayu, bintang-bintang adalah lampion waktu, cahaya purnama seperti memercik pada daun-daun pepohonan yang gemetar, seperti seremonial alam yang paling murni dan sabar.

    Rapat telah selesai setengah jam lalu, warga sudah bubar dan kembali ke rumah masing-masing, ada yang melanjutkan perbincangan di pos ronda atau warung kopi. Hasil perundingan itu menghasilkan keputusan yang kelak akan menjadi titik balik sejarah sungai Serayu:

    Warga memutuskan akan mengotori sungai itu, setidaknya sampai para bidadari tak betah mandi di sana lagi.

    ”Kita harus sering-sering membuang sampah atau melakukan apa saja sampai warna air sungai tidak lagi menjadi hijau, tapi coklat,” kata sang pemimpin rapat.

    Keputusan yang sebenarnya kontroversial itu langsung dijalankan keesokan harinya. Warga yang awalnya sangat mencintai sungai Serayu dan menjaga keelokannya, tiba-tiba menjadikannya tempat untuk melakukan sebagian aktivitas rumah tangga dan aktivitas tubuh manusia. Para ibu suka mencuci di sungai, warga desa membuat saluran pembuangan yang mengarah ke sungai itu, berbagai macam limbah desa mengalir ke sana.

    Waktu demi waktu berlalu, warna sungai pun mulai berubah, hijaunya perlahan memudar, berganti warna pekat. Dan mereka ternyata berhasil. Ketika air sungai telah berubah coklat, tak seorang bidadari pun mau mandi di sungai itu. Menurut kabar beberapa orang, para bidadari berpindah ke sungai Porong di Sidoarjo.

    Kyai Subale telah mengonfirmasi bahwa sungai Serayu kembali aman. Hari itu juga menjelang matahari terbenam, warga berkumpul di tepi sungai untuk merayakan keberhasilan mengusir bidadari, tak ada lagi rasa takut, anak-anak kecil bergembira, ibu-ibu sibuk menyiapkan pesta untuk seluruh desa…

    Namun satu bulan kemudian, masalah lain muncul. Sebuah masalah baru yang memaksa warga kembali melakukan rapat.

    ”Bidadari sudah pergi. Jadi, ada yang tahu bagaimana caranya membuat Serayu kembali berwarna hijau?” Tanya salah seorang warga. Mereka saling berbisik, seperti memikirkan sesuatu yang jauh lebih berat dari sebelumnya.

    ”Sejak bulan lalu kita sudah berhenti membuang sampah di sana, tapi airnya belum berubah juga. Apakah ini semacam kutukan dari bidadari?”

    ”Sudah, jangan bicara kutukan lagi!” Balas warga lainnya.

    ”Mana Kyai Subale, dalam keadaan begini dia justru tidak muncul!”

    ”Kalau Sunan Kalijaga masih hidup, ia pasti tidak mengenali Serayu yang sekarang.”

    ”Ayo, siapa yang waktu itu mengusulkan untuk mengotori sungai kita? Sekarang harus bertanggung jawab!”

    Suasana rapat berangsur ramai. Bahkan ada beberapa orang yang berdiri dari kursinya. Pemimpin rapat coba melerai mereka.

    ”Tenang. Tenang. Itu adalah keputusan bersama. Serayu akan tetap menjadi Serayu apapun warna airnya. Sekarang kita hanya perlu merawat apa yang masih ada. Pohon-pohon pinus, sawah-sawah yang hijau di sekitar bantaran sungai, itu tanggung jawab kita. Dan satu hal, sebaiknya jangan ceritakan pada keturunan kita, bahwa dulunya sungai ini berwarna hijau. Setuju?”

    Warga berpandangan, tak tahu harus setuju atau tidak. Namun begitulah akhir dari rapat kedua yang tampak tak begitu memuaskan. Orang-orang pulang dengan perasaan beragam. Sementara itu, sungai Serayu tetap mengalir dengan megahnya. Meski tak sehijau pada awalnya dan tak lagi menjadi tempat persinggahan bidadari, sungai itu tak hendak mengutuk siapa pun, ia membiarkan segala cerita hanyut bersama alirannya yang tetap tenang, begitu tenang, sampai ke Pantai Selatan….

     
  7. 19:17

    Notes: 3

    Tags: Cerita

    ”Ya, Ampun… Segitunya?”

    Tulisan ini adalah karya Samuel Mulia. Terbit di Kompas, 6 April 2014. Kamu masih suka kaget? 

    Demikian teriakan kecil seorang teman lama, ketika ia mendengar jawaban mengapa saya sekarang sudah tidak aktif lagi di ranah sosial media. Setelah mendengar jawaban itu ia berkomentar lagi. ”Masak, sih, seorang kayak kamu enggak tahan banting?”

    Pengelompokan

    Beberapa waktu sebelum peristiwa di atas terjadi, saya mendapat undangan untuk menghadiri ulang tahun seorang pengusaha wanita yang juga socialite di Ibu Kota ini. Sejujurnya saya kaget menerima undangan itu karena selain saya sudah ”mengundurkan diri” dari jagat sosial media, saya juga sudah mengundurkan diri dari acara-acara macam pesta ulang tahun itu. Apalagi yang melibatkan sesuatu yang gemerlap.

    Setelah menerima undangan itu, saya mengirim pesan kepada salah satu teman saya yang juga diundang pada acara yang sama. Saya menjelaskan bahwa saya ini malas sekali untuk hadir karena saya tak terlalu mengenal para undangan lainnya.

    Teman saya itu membalas begini. ”Kayaknya orang-orang yang diundang beda, deh, enggak seperti biasanya. Acaranya sederhana, kok, cuma di rumah, ada misa dan acara berdoanya.” Saya membalas pesan itu begini.

    ”Waduh…, sekarang aku dimasukkan kelompok tamu yang beda dari biasanya, ya, kelompok tamu yang berdoa, bukan yang doyan pesta. Akhirnya aku dikelompokkan dalam grup yang tak doyan pesta.” Ia membalas pesan itu dengan singkat. ”Amin.”

    Setelah dua kejadian itu, saya membuat janji bertemu dengan seorang teman lama. Seorang pria yang sejak lama sudah saya kenal sebagai sosok suami, ayah, pria yang santun dan tidak neko-neko. Seandainya perjalanan hidupnya dapat diukur, tak ada satu pun yang keluar dari jalur. Semuanya baik dan sejahtera.

    Siang itu, ia menjelaskan bahwa perkawinannya dalam kondisi yang bergemuruh gara-gara ia berselingkuh. Kejadian itu diketahui istri dan anaknya yang sudah dewasa. Teman saya itu menjelaskan bahwa ia sempat terdiam ketika si anak bertanya begini. ”Aku tu gak nyangka, loh, orang kayak Papa, kok, bisa-bisanya berselingkuh. Kenapa Pa?”

    Pertanyaan kenapa atau mengapa selalu saja melahirkan sejuta jawaban yang bisa jadi diterima dengan baik oleh si penanya atau malah melahirkan debat yang hebat. Mengapa orang baik bisa berbuat tidak baik, mengapa orang tidak baik bisa menjadi baik, mengapa orang berubah, mengapa orang tak mau berubah?

    Namun buat saya, semua kejadian seperti di atas itu terjadi karena pelakunya memutuskan untuk memilih jalur yang berbeda, setelah cukup lama ada di jalur yang itu-itu saja yang mungkin tak lagi memberi faedah. Maka, keputusan itu juga memaparkan bahwa orang lain yang melihat, mulai mengelompokkan saya. Dari kelompok A ke kelompok B.

    ”Life is full of surprises”

    Hal yang menarik adalah perpindahan itu tidak terlalu mengagetkan si pelaku, tetapi justru menyetrum mereka yang melihat perubahan itu dan acap kali komentar yang klise terdengar di gendang telinga. ”Kok bisa sih.”

    Mungkin kok bisa sih dalam kasus saya dari kelompok pesta menjadi kelompok yang berdoa akan mengundang sedikit decak kagum. Itu mengapa teman saya membalas dengan jawaban amin.

    Komentar yang singkat dan padat itu, saya yakini juga menyiratkan sebuah perasaan sukacita kalau saya sekarang menjadi manusia yang lebih baik. Seperti menggambarkan anak yang hilang telah ditemukan kembali.

    Namun, berbeda masalahnya, ketika teman saya berkomentar ya ampun dalam cerita saya di atas. Ia tak menyangka bahwa saya yang selama ini dianggap kuat dan tegar, kok bisa KO dengan sebuah kejadian sehingga mengundurkan diri dari ranah sosial media.

    Sejujurnya, saya tak suka dengan pengelompokan karena cenderung pada akhirnya menjadi sebuah penghakiman. Mungkin saya tak terlalu terganggu dihakimi, saya lebih terganggu karena soal kekagetan yang terjadi ketika ada perubahan.

    Saya merasa kekagetan yang dicerminkan dengan kalimat kok bisa sih itu, sebuah kebiasaan saya sebagai manusia untuk tidak menerima orang itu bisa hidup di dua dunia. Dunia yang santun dan dunia yang tidak santun. Ia positif, tapi kadang ia bisa negatif.

    Entah mengapa, saya selalu berusaha memositifkan orang dan terkaget-kaget kalau sampai ia menjadi negatif. Padahal, saya yang seharusnya kaget terhadap diri sendiri, bukan terhadap perubahan orang lain.

    Seyogianya saya ini yang harusnya kaget, kok bisa-bisanya saya ini tak menyadari manusia itu sangat normal kalau hidup di dua dunia. Pengelompokan itu juga mencerminkan ketidakmampuan saya menerima kebebasan manusia untuk melakukan apa yang dianggapnya baik untuk dirinya sendiri, dan bukan untuk orang lain.

    Bertahun lamanya saya takut negatif itu tersirat, mungkin tepatnya saya takut kebenaran itu terungkap bahwa manusia itu bisa negatif meski selama ini ia dikenal baik. Atau sebaliknya, kok, dulu nakal sekarang jadi baik. Kok, dulu suka pesta dan pulang dalam keadaan setengah sadar atau tak sadar sama sekali, sekarang rajin beribadah. Umumnya kasus yang saya sebut terakhir ini akan mengundang komentar. ”Muna banget, ya.”

    Saya tahu pasti bahwa sebelum saya mati, maka kekagetan orang lain terhadap hidup saya akan selalu terjadi demikian juga sebaliknya. Semoga selain kaget, saya masih diberi kesempatan belajar untuk membiarkan manusia hidup di dua dunianya, jangan hanya tidak kaget kalau kodok bisa hidup di dua dunia. Kan, katanyalife is full of surprises, bukan?

     
  8. 19:08

    Notes: 68413

    Reblogged from gigitata

    rimadorable:

    elijah120607:

    Chris Pine, Josh Duhamel, Aaron Paul, Taylor Kitsch, Garrett Hedlund, Amie Hamer, James Marsden, James Franco, Chris Hemsworth, and Joseph Gordon-Levitt @Yu Tsai.

    Oh myyyyyyyy

    hahahaha….

    (Source: yutsai.com)