1. 18:23 18th Aug 2014

    Notes: 19

    Reblogged from majalah-katajiwa

    Tags: sastra

    Kota adalah resultan seluruh daya cipta kemanusiaan kita. Kepadatannya membuat kita terbiasa penuh sesak dengan emosi. Sedetik yang lalu tangis, beberapa saat kemudian tawa. Hal yang sedemikian kita temukan begitu saja. Pada pokoknya kota adalah wajah kita dewasa ini. Ada ironi sekaligus puisi…

    silahkan :)

     
  2. 19:22 12th Aug 2014

    Notes: 13

    Tags: prosa

    Jalan Asu

    Cerita pendek yang begitu indah ini adalah karya Joko PinurboTerbit di Kompas, 10 Agustus 2014. Inilah puisi yang masuk ke ranah prosa. Muncullah makhluk bernama prosa puitik. Cerpenis “normal” bisa-bisa kalang kabut dan melontarkan “asu iki Jokpin” dengan nada iri yang begitu dalam.

    Hari ini adalah Hari Rindu. Hari untuk pulang. Hari untuk bertemu.

    Setelah mandi dan menunaikan ibadah puisi, saya bersiap pergi mengunjungi Ayah di atas bukit. Sudah lama saya tidak pulang ke Ayah.

    Makam Ayah berada di salah satu sudut pekuburan yang bersih dan nyaman, ditandai dengan seonggok batu kali yang cukup besar. Pada batu itu tertera tulisan ”Sugeng Rawuh” yang artinya tentu saja ”Selamat Datang”.

    Ayah sendiri yang menginginkan batu kali sebagai nisannya. Keinginan itu muncul setelah Ayah membaca puisi berjudul ”Surat Batu” di koran. Puisi itu digubah oleh seorang pemain kata yang pada suatu malam penuh hujan secara tak terduga datang bertandang ke Ayah.

    Maaf, baru sekarang aku membalas surat yang kamu kirim tujuh tahun yang lalu.

    Waktu itu kamu memintaku merawat sebuah batu besar di halaman rumahmu sebelum nanti kamu pahat menjadi patung. Batu itu kamu ambil dari sungai di tengah hutan.

    Aku suka duduk membaca dan melamun di atas batumu dan bisa merasakan denyutnya. Kadang mimpiku tertinggal di atas batumu dan mungkin terserap ke dalam rahimnya.

    Hujan sangat mencintai batumu dan cinta hujan lebih besar dari cintamu. Aku senang melihat batumu megap-megap dicumbu hujanku.

    Akhirnya batumu hamil. Dari rahim batumu lahir air mancur kecil yang menggemaskan. Air mancur itu sekarang sudah besar, sudah bisa berbincang-bincang dengan hujan.

    Maaf, jangan ganggu air mancurku. Bahkan batumu mungkin sudah tidak mengenalmu.

    Ayah jatuh cinta pada batu dalam puisi itu. Ayah yang waktu itu sedang kerasukan puisi sempat berpesan kepada saya agar di atas makamnya nanti ditanam sebuah batu. Batu yang dibesarkan di sungai. Sungai yang mengalir di bawah bukit.

    Ketika kecil, ia sering diajak ayahnya bergadang di bawah pohon cemara di atas bukit. Berbekal senter, ayahnya senang sekali menggendongnya menyeberangi sungai yang jernih dan gemericik, menyusuri jalan setapak yang berkelok-kelok dan menanjak.

    Sampai di puncak, mereka memandang takjub ke seberang, menikmati gemerlap cahaya lampu kota. Sesekali mereka berbaring di tanah, melihat bintang-bintang. Bila dingin malam kian menyengat, mereka membuat unggun api, berdiang menghangatkan badan, menghangatkan sepi.

    Ia terpesona melihat kunang-kunang berpendaran.

    ”Kunang-kunang itu artinya apa, Yah?”

    ”Kunang-kunang itu artinya kenang-kenang.”

    Ia terbengong, tidak sadar bahwa ayahnya sedang mengajarinya bermain kata.

    Bila ia sudah terkantuk-kantuk, ayahnya segera mengajaknya pulang. Dan sebelum tiba di rumah, ia sudah terlelap di gendongan, terbungkus sarung ayahnya yang baunya sangat kenangan. Ayahnya lalu menelentangkannya pelan-pelan di atas ranjang.

    Sekian tahun kemudian, saat ia pamit untuk pergi merantau, ayahnya membekalinya dengan sarung kesayangannya sebagai kenang-kenang.

    ”Pakailah sarung ini saat kau sakit dan rasakanlah khasiatnya,” pesan ayahnya.

    Ketika suatu hari ia pulang, ayahnya menyambut girang: ”Hai, bagaimana sarungku? Enak, kan?” Ia peluk ayahnya yang sudah ringkih dan sakit-sakitan.

    ”Aku ingin ke bukit. Aku rindu pohon cemara itu,” ayahnya berkata. ”Maukah kau mengantarku ke sana?”

    Malam itu malam purnama. Ia menuntun ayahnya yang kurus dan ringkih menyusuri jalan setapak menuju pohon cemara di atas bukit.

    Di bawah pohon cemara ayahnya duduk bersila, melantunkan sebait tembang Asmaradana:

    Aja turu sore kaki

    Ana dewa nganglang jagad

    Nyangking bokor kencanane

    Isine donga tetulak

    Sandhang kalawan pangan

    Yaiku bageyanipun

    Wong melek sabar narima

    Dalam perjalanan pulang tembang itu terus mengiang.

    Ia tak tega melihat ayahnya berjalan goyah. Ingin sekali ia menggendongnya sampai rumah. Tapi ayahnya bilang, ”Di dalam tubuhku yang lemah terdapat jiwa yang kuat dan berat. Kau tak akan sanggup menggendongnya.”

    Dulu saya sering menemani Ayah menulis. Ayah betah menulis hingga menjelang dini hari. Suara mesin ketiknya terdengar sampai kamar mandi. Hanya siaran pertandingan sepak bola di televisi yang bisa menghentikan keasyikan menulis Ayah.

    Sesekali Ayah terlihat kesal, memukul-mukul mesin ketiknya dan mengumpat, ”Asu!” Dengan geram Ayah mencabut kertas dari mesin ketik, meremasnya, dan melemparkannya ke tempat sampah.

    Kali lain, saat menemukan puisi bagus di koran, Ayah tersenyum dan berseru, ”Asu!” Saat bertemu teman karibnya di jalan, Ayah dan temannya dengan tangkas bertukar ”asu”. Syukurlah, Ayah tak pernah mengucapkan ”asu” kepada saya. Demikian pun saya tak pernah meng-”asu”-kan Ayah.

    Pernah saya bertanya, ”Asu itu artinya apa, Yah?”

    ”Asu itu anjing yang baik hati,” jawab Ayah.

    Kemudian ganti saya ditanya, ”Coba, menurut kamu, asu itu apa?”

    ”Asu itu anjing yang suka minum susu,” timpal saya.

    Mendengar jawaban saya, Ayah langsung memeluk saya seraya berkata, ”Kamu sudah gila, anakku. Kembangkan bakat gilamu. Kamu akan menjadi penyair kesayangan langit dan bumi.”

    Ayah sering mengajak saya ke kantor pos, mengirim tulisan ke koran atau majalah. Ayah suka gelisah menunggu-nunggu tulisannya terbit. Ketika tulisannya dikembalikan dan tak bisa dimuat, Ayah termenung murung sambil tak henti-hentinya merokok. Tanpa ampun Ayah membakar berkas-berkas tulisannya di tempat pembuangan sampah.

    Sebaliknya, ketika tulisannya muncul di koran, Ayah seakan tak pernah kehabisan alasan untuk berbahagia. Hebatnya, Ayah tak pernah mau berbahagia sendirian. Ia mengajak saya makan enak di Warung Bu Ageng. Itu warung milik Om Butet, teman Ayah. Sebelum membuka usaha warung makan, Om Butet bekerja sebagai redaktur di sebuah koran lokal. Menurut Ayah, Om Butet sebenarnya tidak cocok menjadi redaktur karena beliau bukan jenis orang yang tahan mendekam di dalam ruangan.

    Ayah saya seorang pengarang yang kaya. Dompetnya selalu penuh. Penuh dengan semoga. Apa boleh buat, kadang Ayah harus berjauhan dengan uang pada saat yang tidak tepat. Ayah pun menemui Om Butet di kantornya, menyerahkan tulisan dan minta honornya dibayar kontan di muka.

    Yang menjengkelkan, Ayah suka menjadikan saya sebagai alasan. Mungkin karena wajah saya bernuansa memelas dan mudah menimbulkan rasa iba. Saya ingat bagaimana Ayah menyerahkan amplop berisi tulisan kepada Om Butet seraya meminta, ”Tolonglah, Bro. Sudah dua hari anakku kagak doyan makan, minta dibelikan celana yang sakunya enam.” Entah bagaimana ceritanya, tahu-tahu di saku baju Ayah sudah ada amplop yang isinya lumayan.

    Saya curiga, jangan-jangan dari Om Butet-lah Ayah belajar mengucapkan ”asu” dengan fasih. Om Butet, kan, pemain teater juga; ia piawai meluncurkan kata ”asu” dengan berbagai nada. Di kemudian hari Om Butet dikenal sebagai seorang bintang film terkenal, selain pengusaha rumah makan yang sejahtera.

    Pernah pada suatu sore, setelah seharian hanya terbengong-bengong di depan mesin ketik, Ayah membangunkan saya yang sedang tertidur di kamar: ”Ayo kita ke Warung Bu Ageng.” Saya bertanya-tanya dalam kepala. Saya tahu Ayah sedang tak punya uang. Kok berani-beraninya mau mentraktir saya.

    Sekali itu saya tak bisa berkonsentrasi makan karena sibuk memikirkan bagaimana Ayah mau bayar. Ayah tenang-tenang saja, makannya lahap pula.

    Ah, Ayah. Diam-diam ia sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Selesai makan, dengan cekatan Ayah menyusupkan sebuah amplop kecil ke saku baju Om Butet. Aneh, bayar makan saja pakai amplop, pikir saya. Om Butet segera mengambil amplop itu dari saku bajunya dan bersikeras mengembalikannya kepada Ayah sambil berkali-kali bilang ”gratis”. Ayah menolak dan minta agar Om Butet membuka amplop itu. Ternyata isinya secarik kertas bertuliskan sebuah syair yang entah kapan Ayah tulis:

    Yen atimu kepenak

    Manganmu yo enak

    Yen atimu seneng

    Ngombemu yo nyamleng

    Om Butet tampak terharu bercampur senang membaca tulisan tangan Ayah. Keunikan garis tulisan Ayah setara dengan keunikan garis tangannya. Saya terharu melihat Om Butet terharu. Saya menyesal telah makan dengan sedih.

    Sementara Om Butet terharu, Ayah menarik tangan saya, mengajak saya segera angkat kaki. Ayah dan saya cepat-cepat pergi dan seekor anjing menyoraki kami.

    Kisah Ayah membayar makan dengan puisi merupakan penyegar sempurna bagi rindu saya kepada Ayah. Saya suka tertawa sendiri mengenang peristiwa yang getir-getir sedap itu. Belakangan saya lihat syair gubahan Ayah sudah terpigura dan terpasang di dinding rumah makan Om Butet.

    Kini jalan ke bukit sudah lebih lapang dan nyaman. Dengan rindu yang sudah saya rapikan, saya berangkat menuju Ayah.

    Di tengah perjalanan saya bertemu dengan seekor anjing besar yang tiba-tiba muncul dari tikungan. Sosok anjing itu sungguh menakutkan. Gawat. Menurut kabar yang saya dengar, sebulan terakhir ini sudah ada beberapa orang menjadi korban gigit anjing gila. Mereka diserang demam berkepanjangan, bahkan ada yang kesurupan.

    Anjing itu menghadang saya persis di tengah jalan. Tatapan matanya yang liar dan nyalang membuat saya mundur beberapa jengkal. Saya deg-degan.

    Saya mencoba menyapanya baik-baik: ”Selamat sore, njing.”

    Ia malah tersinggung. Matanya tambah mendelik. Mungkin karena saya memanggil namanya tidak lengkap.

    Saya ulangi salam saya: ”Selamat sore, anjing.”

    Ia semakin marah. Menggeram. Mulutnya mangap, lidahnya terjulur. Saya gemetar. Saya memanggil Ayah dalam hati dan bertanya apa yang sebaiknya saya lakukan untuk menjinakkan anjing edan itu. Saya tidak mau sakit gila karena digigit anjing gila. Tanpa digigit anjing gila pun saya bisa gila sendiri.

    Saya menyapanya lagi dengan manis, ”Selamat sore, asu.”

    Ia terperanjat dan langsung mingkem. Sorot matanya berangsur normal.

    Saya ucapkan sekali lagi salam saya dengan tegas dan mantap: ”Selamat sore, su!”

    Ia merunduk, kemudian minggir dengan sopan, mempersilakan saya lanjut jalan.

    Sementara saya melanjutkan perjalanan, dari belakang sana terdengar teriakan, ”Tolong, tolong! Anjing, anjing!”

    Menjelang sampai di atas bukit, saya berpapasan dengan seorang lelaki tua berkacamata. Dialah Om Butet yang bintang film itu. Dia berjalan tergesa-gesa.

    ”Hai penyair, kamu sudah ditunggu-tunggu ayahmu,” Om Butet berseru.

    Saya balik menyapa, ”Mengapa Om kelihatan terburu-buru?”

    ”Aku ditinggal asuku. Apakah tadi kamu bertemu dengan asuku?”

    Saya terpana.

    Demi cinta saya yang tak berkesudahan kepada Ayah, jalan menuju kuburannya saya beri nama Jalan Asu.

    Yogyakarta, 2014

     
  3. 19:11

    Notes: 2

    Tags: Cerita

    Seharusnya…

    Tulisan ini adalah karya Samuel Mulia. Terbit di Kompas, 10 Agustus 2014. Kita sudah “seharusnya”?

    Di sebuah situs, seorang politikus berkomentar bahwa kita se‎harusnya belajar dari Brasil, meskipun tuan rumah di Piala Dunia, tetapi mengakui kekalahan dan bersikaplegowo. Saya sungguh tertarik dengan ungkapan seharusnya belajar dari, yang tertulis pada pernyataan itu.

    Menurut ”ngana”?

    Kalimat itu sampai memaksa saya berpikir keras dan kemudian menyetujuinya. Memang seharusnya kita
    belajar legowo, seharusnya kita belajar disiplin dan menaati peraturan dalam mengantre, dalam berkendaraan, seperti di Negeri Matahari Terbit.

    Seharusnya kita belajar supaya mengendarai kendaraan tidak sembarangan di tengah jalan seperti di beberapa negara yang pernah saya kunjungi, seharusnya saya itu belajar untuk tidak jadi pengkhianat, seharusnya saya ini belajar membuat perusahaan saya semakin maju setelah studi banding ke sana dan kemari.

    Tetapi yang penting, setelah seharusnya saya belajar dari, hal apa yang harus saya lakukan kemudian? Kalau mengacu dari kalimat di atas, maka kalau saya dinasihati demikian, maka saya harus mencoba melakukannya, bukan?

    Artinya saya seharusnya mengeksekusi nasihat itu. Jadi kalau saya tadinya tidak legowoseperti tim Brasil, maka sekarang harus belajar jadi legowo seperti mereka. Artinyaseharusnya belajar dari, dimaknai dengan melakukan eksekusi yang konkret.

    Kemudian saya menceritakan hal ini di sebuah acara makan siang di garasi mobil bersama beberapa pegawai kantor, sambil mencocol ayam goreng dengan sambal terasi yang berakhir membuat jari-jari tangan berbau terasi, bahkan setelah dicuci.

    Seharusnya saya ini belajar bahwa makan sambal terasi itu sebaiknya dengan sendok dan garpu kalau tak mau berakhir seperti itu. Sudah berjuta kali peristiwa itu terjadi, tetapi yaa, tetap dilakukan senantiasa.

    Nah, kadang seharusnya belajar dari tak bisa tereksekusi, karena seperti makan pakai tangan itu, enaknya luar biasa. Bisa menerobos masuk ke busway di tengah orang lain terjerat kemacetan, itu enaknya luar biasa. Iya, kan?

    Teman saya mengungkapkan pendapatnya. ”Aku dah biasa tu Mas dengerin kataseharusnya. Sampai bosen. Aku, kan, naik kereta. Baru aja tadi pagi kejadiannya. Ada pengumuman, kereta yang seharusnya berangkat pukul 07.12 sekarang masih di Stasiun Karet. Lah, kalau memang seharusnya berangkat pukul sekian, ya, mestinya sebelum 07.12 keretanya udah nyampe kali. Dan itu aja ya Mas, diumumin- nya pukul 07.20. Menurut ngana?”

    Belajar doang

    Jadi, kata seharusnya dalam cerita teman saya tampak memiliki makna menghaluskan agar tidak terasa mengeruhkan. Ada kesan bahwa dengan mengatakan seharusnya, pengertian penumpang sangat diharapkan karena mereka sudah berusaha semaksimal mungkin agar kereta berangkat tepat waktu, tetapi ternyata tidak.

    Maka kemudian saya bertanya lagi. Bagaimana kalau setelah seharusnya kita belajar dari sana-sini agar menjadi begini dan begitu, masih saja tidak memiliki kemajuan yang signifikan?

    Bagaimana kalau saya sudah belajar dan kemudian tidak bisa legowo? Bagaimana kalau sudah studi banding, hasilnya tetap sama? Apakah saya keliru memilih tempat untuk studi banding? Bagaimana kalau tidak bisa membuat rupiah kuat seperti mata uang negara-negara lain?

    Seharusnya saya belajar dari adalah sebuah anjuran yang baik, yang bijak, dan yang sungguh mulia. Anjuran yang sejujurnya membuat seseorang atau sebuah masyarakat atau sebuah negara menjadi maju dan naik kelas. Tetapi pertanyaannya kemudian, mengapa setelah saya belajar dari, saya tidak maju?

    Nurani saya langsung nyeletuk. ”Kalau itu masalahnya, elo mau maju apa enggakciinnn.” Saya langsung membantah. ”Sudah pasti, saya mau. Itu mengapa saya memutuskan belajar dari.”

    Tetapi setelah terpancing nurani yang bawel itu, saya mulai berpikir. Kalau seharusnya belajar dari sudah saya lakukan dan saya masih tetap tidak bisa naik kelas, mungkin karena I don’t see myself as I am but I see myself as they are.

    Padahal mereka itu berbeda dengan saya. Di negara lain bus umum berjalan pada jalur yang sudah ditentukan, di tempat saya bus bisa berjalan dan berhenti di mana saja sesuka sopirnya. Di negara saya berbeda-beda, tetapi bisa tetap satu. Di negara-negara lain bisa menjadi satu karena tidak berbeda.

    Jadi untuk mencapai hasil maksimal dari nasihat mulia itu, tak bisa hanya ada kemauan semata, tetapi harus didukung dengan karakter manusianya. Tetapi bukankah katanya, setiap negara itu memiliki karakter masyarakat yang berbeda-beda sehingga hasil yang tampak juga menjadi berbeda-beda?

    Terus saya baru sadar, pernyataan itu, kan, hanya berbunyi seharusnya saya belajar dari. Pernyataan mulia itu tak mengandung anjuran untuk mengeksekusi. Jadi belajar doang. Mau dieksekusi atau tidak, tergantung yang mendengarkannya. Iya, kan? Tuh,kan, saya ini suka tidak membaca dengan benar, sih.

     
  4. 19:22 4th Aug 2014

    Notes: 2

    Tags: prosa

    Suara 2

    Cerita pendek ini adalah karya Taufik Ikram JamilTerbit di Kompas, 3 Agustus 2014. Satu kata untuk cerita pendek ini mengerikan.

    Mata saya sudah tersangkut di ufuk timur, tempat bulan purnama penuh akan memperlihatkan wajahnya yang awal. Begitu saja ingin saya rebahkan penat pada cahaya merah kesumba, membiarkan angin mempermainkan keinginan saya untuk malam. Kedatangan istri saya bersama Kiki—anak kami—yang segera melosor duduk di sebelah kanan, kemudian menujukan pandangan pada titik yang sama dengan penglihatan saya, terasa menambah daya saya untuk menyegerakan purnama. Genggaman istri saya di pergelangan tangan seperti menyatukan harapan kami bahwa purnama malam ini harus berhasil, harus terjadi.

    ”Kiki?” tanya saya, yang langsung dijawab istri saya dengan kerdipan mata, ditambah sedikit anggukan.

    Ia rangkul anak itu, kemudian mencium dua pipinya, yang meresap ke sanubari saya sebagai taman dengan bunga-bunga semerbak. Ada seekor burung kecil, bertengger di dahan bunga raya yang menyerahkan lelahnya yang telah sepanjang siang mempersembahkan keindahan warna. Beberapa ekor kupu-kupu seperti menari di antara ruang udara, sebelum akhirnya hilang di kerimbunan bunga.

    Bersamaan dengan khayalan itu, saya letakkan telapak tangan saya pada kepala Kiki. Saya membelai-belai rambutnya yang disambut Kiki dengan manja, bahkan menekukkan leher di pergelangan tangan saya. Muncullah keinginan saya untuk merangkulnya, mendekapnya ke dada saya, sehingga terasalah bagaimana saya dengan dia adalah bagian yang tak terpisahkan. Dengan mata yang tetap melekat di ufuk timur, tak sadar saya berucap, ”Ya, anakku. Suaramu akan keluar bersama keindahan purnama.”

    ”Sstt…,” terdengar istri saya berdesis, sambil meletakkan jari telunjuk pada apitan kedua bibirnya. Matanya seolah-olah berkata agar saya menahan diri untuk tidak melanjutkan kalimat yang baru saja keluar tadi.

    Saya mengiyakan, justru dengan semakin mendekapkan kepala Kiki ke dada saya. Telapak tangan saya kemudian begitu saja membelai-belai rambut di ubun-ubunnya. Dengan takzim, saya kecup bagian istimewa tersebut yang secara serta-merta seperti meluluhkan semua bentuk kesombongan saya dengan satu pengakuan bahwa tugas saya adalah membuka jalan untuk anak saya bagi kemaslahatannya setelah jalan tersebut disumbat oleh ambisi-ambisi saya pada berbagai keserakahan; merasa diri lebih dari segala yang wujud secara kasatmata, kemudian berhasrat menaklukkannya dalam penjara keakuan saya tanpa tenggat, tanpa sekat.

    Saya segera mengalihkan larutan perasaan itu dengan menancapkan pandangan ke wajah istri saya. Disadarinya hal itu, ditandai dengan cara kembali membalas tatapan saya dengan matanya. Tapi hanya sekejap, hanya sekejap. Ia kembali menyangkutkan pandangan ke ufuk timur, tempat purnama akan memperlihatkan wajahnya yang pertama. Masih saya lihat seulas senyum yang tersungging di bibirnya, sebelum saya mengarahkan pandangan serupa: ke timur, ke tempat purnama memperlihatkan wajahnya yang awal.

    ”ENGKAU yakin bahwa purnama malam ini akan berhasil, akan terjadi kan?” tanya saya kemudian, pasti kepada istri saya, meskipun mata saya mengarah kepada Kiki.

    ”Abang juga kan?”

    Sau, darah menggemuruh di dalam tubuh saya. Tiba-tiba saja di benak saya menandai pertanyaan balik itu sebagai cetusan keraguan tentang kedatangan purnama. Cepat saya mencari alasan untuk menolak penandaan tersebut, tetapi saya juga tidak dapat membohongi secebis pertanyaan yang membalik di dalam pikiran saya sendiri—bukankah pertanyaan balik dari istri saya tersebut terjadi karena pertanyaan saya juga? Pertanyaan tentang apakah ia yakin bahwa purnama akan muncul malam ini, akan terjadi malam ini.

    Pertanyaan-pertanyaan itulah agaknya yang membuat saya bingkas dari duduk, menyebarkan pandangan lebih luas. Awan hitam bergayut pada beberapa tempat, diseret angin dengan berat. Langkah saya juga ikut terangkat, menuju pagar serambi kamar tidur kami di lantai dua ini yang memang menghadap ke timur. Memang, serambi ini diciptakan untuk memetik berkah matahari pagi sekaligus menimang kehadiran bulan, apalagi pada malam purnama yang seolah-olah muncul hanya sekitar 15 derajat lebih tinggi dari lantai serambi. Tak pelak lagi, tempat ini menjadi idola bagi kami sekeluarga ketika sedang sama-sama berada di rumah.

    ”Abang yakin kan, purnama malam ini akan berhasil, akan terjadi kan?” tanya istri saya, meniru pertanyaan saya kepadanya beberapa waktu lalu. Cuma saja, saya tak mampu menjawab pertanyaan tersebut walaupun hanya melalui pandangan atau tindakan tubuh lainnya, sehingga pertanyaan itu seperti mengambang dalam senja yang makin tua. Apalagi angin yang pada awal saya berada di sini, saya biarkan mempermainkan keinginan saya untuk malam, melalui awan hitam yang diseretnya, telah mengisyaratkan suatu ancaman. Tirai hitam tebal yang dibuatnya dari kumpulan mendung, tak mustahil menutup purnama yang awal, sampai satu bulan berikutnya.

    ”Jadi?”

    Saya tarik pertanyaan yang mengambang itu, pertanyaan yang dapat memberi pesan sebagai pertanyaan balik atau penegasan suatu kejadian. Pertanyaan balik, jelas mengulangi keraguan tentang jadi atau tidaknya purnama awal muncul malam ini. Sedangkan penegasan suatu kejadian adalah bagaimana mungkin purnama awal akan singgah di sini yang kalau dilisankan maupun dituliskan akan tertera seperti ini, ”Jadi, purnama awal tidak akan terjadi karena ditutup mendung, bahkan disertai hujan lebat.”

    Alamak, saya tidak berani mengucapkan, apalagi menuliskan kalimat tersebut. Sebab makna yang dibawanya adalah bagaimana kami terpaksa tidak dapat lagi mendengar suara anak kami, Kiki. Kami harus menunggu sebulan lagi, sebab suara Kiki hanya keluar pada purnama penuh yang awal, di antara pukul 18.00 sampai 19.00. Peristiwa yang terjadi hanya sekali dalam sebulan. Waktu sebulan untuk menunggu sesuatu yang dirindukan, tentulah merupakan hal ikhwal luar biasa.

    SYAHDAN, Kiki telah berumur enam tahun. Tapi sejak bayi, kami tidak pernah mendengar suaranya. Ia tidak menangis, tidak tertawa, tidak mengeluarkan suara apa pun. Tidak ada yang kurang dari alat ucap dan pendengarannya, termasuk segala sesuatu yang berhubungan dengan sistem motorik di tubuhnya. Emosionalnya pun mantap. Ia menanggapi suatu rangsangan, bahkan memerlukannya. Kesemuanya ini kami ketahui setelah berkonsultasi dengan berbagai ahli. Cuma itu sajalah masalahnya, tidak mengeluarkan suara sedikit pun walau sekadar dehemen atau lain hal yang sejenis dengannya.

    Singkat cerita, begitulah kejutan itu terjadi kurang dari setahun lalu. Kiki mengeluarkan suara, memanggil aku dan istriku, kemudian menuturkan beberapa kalimat yang masih kuingat betul yang memang berkaitan dengan dunia anak-anak. Setelah beberapa kali terjadi, kami kemudian mengambil kesimpulan bahwa Kiki hanya mengeluarkan suara pada bulan purnama penuh yang awal. Tak ayal lagi, purnama penuh yang awal merupakan waktu yang kami tunggu lebih dari hari raya. Kami menunggunya, berkumpul di serambi kamar yang di sana-sini telah kami hias untuk menambah kegembiraan itu.

    Cuma saja, beberapa bulan terakhir, purnama penuh yang awal seperti tak pernah ke daerah kami. Asap telah menyelimuti alam yang menutup penglihatan dari keindahan ciptaan yang asali termasuk keindahan bintang-bintang, cahaya, juga bulan purnama penuh yang awal—waktu penungguan kami sekeluarga. Bulan senantiasa tersaput kabut yang berisi partikel-partikel pembakaran yang kami sebut jerebu.

    Saya dan istri saya telah bersabar menghadapi kenyataan tersebut. Ketiadaan bulan purnama yang awal akibat ditutup jerebu, menyebabkan kami menunggu bulan berikutnya. Tetap dengan cara yang sama. Membayangkan keindahan-keindahan dengan perasaan penuh bahagia. Begitulah sejak sepekan terakhir, jerebu sudah menghilang, disambut hujan yang mengepung hampir setiap hari. Limpahan air itu memang lebih selalu mengguyur menjelang malam, seperti juga hari ini.

    Suara ikamat dari masjid telah memanggil saya untuk segera meninggalkan rumah, rukuk bersama-sama orang yang rukuk. Saya berpikir, toh waktu untuk sama-sama bersujud itu pun tak akan lama. Semacam jadwal Kiki mengeluarkan suara masih banyak tersisa, usai Maghrib menjelang Isya. Tapi apa hendak dikata, hujan menderas sewaktu saya di dalam masjid.

    Tirai air saya terobos tanpa mengerjakan sholat bakdiah Maghrib. Gelap di langit terus bergayut yang telah menelan waktu Kiki untuk mengeluarkan suara. Purnama penuh yang awal, tak jadi lagi malam ini, sehingga kami harus menunggu bulan depan. Cahaya terang dari alam yang berada di puncaknya, terpaksa tak dapat kami lihat lagi di bulan ini, sehingga saya dan istri, kembali tidak dapat mendengar suara Kiki.

    ”Tak apalah Bang. Suara Kiki agaknya memang hanya untuk purnama penuh yang awal, cahaya puncak dari alam—tanpa polesan yang memalsukan,” kata istri saya.

    Ya, mungkin saja. Saya tak dapat memberi komentar apa-apa, pun tak berbuat apa-apa lagi, selain hanya mengarahkan pandangan ke ufuk timur, tempat bulan purnama penuh yang seharusnya memperlihatkan wajahnya yang awal.

     
  5. 19:11

    Notes: 3

    Tags: Cerita

    THR

    Tulisan ini adalah karya Samuel Mulia. Terbit di Kompas, 3 Agustus 2014. Siapa yang menggunakan THR dengan baik dan benar? :))

    Tiga huruf di atas itu sungguh menjadi tiga huruf kecintaan saya setiap tahun. Apalagi setelah mendapatkan THR, masih dilanjutkan dengan gajian. Saya tak membayangkan mereka yang berpenghasilan di atas seratus juta rupiah per bulannya.

    Tetapi beberapa bulan yang lalu, saya disodori sebuah pertanyaan oleh nurani saya sendiri. Apa makna THR buat saya? Saya itu suka kesal sama nurani saya sendiri. Terlalu bawel.

    Bayar utang

    Beberapa karyawan di perusahaan saya yang tidak merayakan hari raya Idul Fitri, telah mengajukan permohonan agar mereka boleh menerima THR yang seyogianya mereka terima pada bulan Desember, yang masih lima bulan lagi untuk dijalani. Di ruang rapat saya bertanya, apa alasan mereka mengajukan permohonan itu. Salah satu dari mereka memberi alasan seperti ini. ”Istri saya sudah lama pengen beli kamera, Mas.”

    Kalau melihat kepanjangan dari THR yaitu tunjangan hari raya, maka THR adalah sejumlah dana yang ditujukan untuk dipergunakan menunjang hari raya. Dengan IQ jongkok ini, saya mengartikan menunjang hari raya itu, yaaa…menunjang segala sesuatu yang berhubungan dengan keperluan hari raya. Dan hal yang terpenting adalah menunjang sesuatu yang diperlukan, bukan sesuatu yang diinginkan.

    Nah, kalau mengambil contoh alasan karyawan saya di atas, maka penjelasan macam ”sudah lama pengen beli kamera” itu, bukan sebuah hal untuk menunjang hari raya. Kalaupun kamera bisa digunakan untuk mengabadikan momen istimewa itu, alasan karyawan saya itu bukan untuk tujuan mengabadikan hari raya.

    La wong keinginan memiliki kameranya sudah sejak lama ada, bahkan jauh sebelum hari raya tiba. Berarti sudah lama direncanakan untuk dibeli, dan ia melihat THR bisa menjadi sebuah alat untuk memenuhi apa yang diinginkan, dan bukan yang dibutuhkan.

    Sementara itu, salah satu teman saya malah menggunakan dana THR untuk membayar utang. ”Paling enggak buat ngurangin utang kartu kredit gue ….” Meski hanya mendengar dari dua mulut saja, THR bisa digunakan untuk sebuah tujuan yang melenceng jauh dari tujuan utamanya.

    Dalam THR terkandung kata hari raya. Artinya hari yang dimaknai setiap agama sebagai hari istimewa, dan yang memaknainya adalah umatnya yang memercayai ajaran agama tersebut. Kemudian melintas lagi sebuah pertanyaan. Begini.

    Memberi nilai

    Bagaimana kalau seseorang berkata bahwa ia tidak memercayai ajaran agama apa pun, sehingga merayakan hari raya tak pernah ada di dalam agendanya, apakah ia masih berhak menerima THR? Apa perlunya menunjang mereka?

    Apakah hanya karena kolom agama di KTP-nya terisi, ia berhak menerima itu? Apakah seyogianya, yang bersangkutan dengan besar hati untuk menolak saja tunjangan itu, sehingga ia menjadi contoh manusia yang fair, dan bukan hanya mau seenaknya saja?

    Saya sungguh tak mengerti dan tak bisa menjawabnya. Pertanyaan itu hanya menari-nari di benak saya sampai mumet rasanya. Kemudian saya malah KO sendiri karena nurani saya mulai menyinggung cara saya hidup gara-gara THR.

    Nyaris tiga puluh tahun saya bekerja sebagai profesional. Digaji dan menerima THR selama nyaris tiga puluh tahun itu. Selama masa panjang itu saya menerima THR dengan riang gembira, dan menggunakan THR itu untuk memenuhi banyak keinginan yang tak berhubungan dengan hari raya.

    Selama masa itu saya hanya menerima THR, tanpa pernah merasa risau bagaimana saya hidup. Bagaimana saya mengeksekusi apa yang saya percayai dalam hidup sehari-hari.

    Dalam dunia kerja dan di luar dunia itu, saya ini pun bukan contoh yang baik. Apalagi menunjang kebutuhan orang lain, wah…itu jarang sekali saya lakukan. Saya menolong atau menunjang kalau sedang lagi ada maunya.

    Selama ini saya berpikir bahwa THR itu hanya sejumlah dana yang diberikan sebagai kewajiban sebuah perusahaan kepada karyawannya. Saya ini tak pernah merasa bahwa pemberian THR itu sejujurnya sebuah penilaian atas bagaimana saya hidup.

    Sebuah penilaian yang harusnya dilakukan diri sendiri dengan menggunakan nurani terhadap apa yang selama ini saya perbuat. Baik terhadap sesama manusia dan kepada Sang Kuasa yang setiap hari memberi napas hidup.

    Napas yang acapkali saya salah gunakan. Malas ke rumah ibadah tetapi rajin ke mal, napas untuk berselingkuh, menipu, menjahati manusia, menjatuhkan, untuk membiarkan iri hati merasuk ke dalam hati, dan yang digunakan untuk berucap, tiada maaf bagimu.

    Tunjangan hari raya itu seyogianya memberikan makna dalam bentuk sebuah keberanian untuk menyodorkan dua pertanyaan kepada diri sendiri. Sudah sepantasnyakah saya ini menerima THR? Dan kualitas manusia macam apakah yang akan saya capai setelah menerima THR untuk kesekian kalinya?

     
  6. 14:31

    Notes: 4

    Tags: politik luar negeri

    LBB, PBB, dan Hantu Perang

    Terbit di Kompas, 3 Agustus 2014. Beginilah wajah dunia kita.

    Empat belas bulan setelah Perang Dunia I berakhir, berdirilah Liga Bangsa-Bangsa. Lembaga internasional pertama ini adalah cikal bakal Perserikatan Bangsa-Bangsa dengan salah satu misi utama menjaga perdamaian dunia. Ironisnya, 19 tahun berselang, meletuslah PD II.

    Laman The Wall Street Journal menempatkan Liga Bangsa-Bangsa (LBB) sebagai satu dari 100 peninggalan Perang Dunia (PD) I yang membentuk kehidupan hari ini. Berdiri 10 Januari 1920, LBB menjadi kelanjutan Konferensi Perdamaian Paris tahun 1919.

    Dalam konferensi itu, Presiden Amerika Serikat Woodrow Wilson, diplomat Inggris Lord Robert Cecil, dan tokoh Persemakmuran Jan Smuts menyodorkan proposal yang menjadi landasan pembentukan LBB. Visi Wilson tentang perdamaian antarnegara dipaparkan dalam pidato di Kongres AS, terkenal dengan sebutan ”14 Poin”.

    Di antara ”14 Poin” terdapat langkah mengakhiri diplomasi rahasia, hak setiap bangsa memilih pemerintah tanpa campur tangan luar, serta pembentukan LBB. Ide itu dikembangkan Wilson saat menjadi profesor hukum Universitas Princeton.

    Namun, tak diragukan, isi Traktat Versailles (1919)—yang mengharuskan Jerman membayar ganti rugi akibat perang— membuat ide Wilson berantakan. Dalam ”Dunia Belajar dari Kegagalan Traktat Versailles” (Kompas, 20/7), kewajiban Jerman membayar ganti rugi berasal dari poin ke-9 dalam ”14 Poin”. Poin itu dianggap memicu benih PD II.

    Wilson pun mendapat Hadiah Nobel Perdamaian 1919. Ironisnya, AS justru tidak bergabung dalam LBB karena tak disetujui Kongres AS. Situs resmi PBB menyebut, absennya beberapa negara besar, seperti AS, turut mendorong kegagalan LBB hingga diganti menjadi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 1946.

    ”Saat PD II pecah, terlihat jelas bahwa Liga gagal menjalankan tujuan utama menjaga perdamaian,” demikian situs PBB. PD II pun meletus pada 1 September 1939 hingga 2 September 1945.

    Selain AS, Jerman hanya enam tahun menjadi anggota LBB sejak 1926. Uni Soviet hanya lima tahun sejak 1934. Jepang dan Italia mundur pada 1930-an. LBB praktis bergantung pada Inggris dan Perancis yang enggan bertindak tegas.

    Lalu, apakah LBB sepenuhnya gagal mengemban misinya? Eduard Benes, Perdana Menteri Cekoslowakia (1921-1922), dalam artikel ”The League of Nations: Successes and Failures” yang dimuat majalah Foreign Affairs edisi Oktober 1932 menulis, sebelum PD I, poros kebijakan luar negeri semua negara berpusat pada ego masing-masing.

    Dengan LBB, yang anggotanya mencapai 57 negara pada September 1934-Februari 1935, mereka disadarkan, tak satu negara pun hidup sendiri. Mereka dituntut menghindari perang saat menyelesaikan sengketa.

    Namun, LBB juga menyimpan titik lemah. Tak ada AS dan Uni Soviet (hingga 1934). Ada kekuatan besar Eropa, namun tiga di antaranya di bawah cengkeraman fasis dan revolusioner: Jerman (Hitler), Italia (Mussolini), dan Rusia (komunis). Alhasil, tak sampai 20 tahun, pecahlah perang dengan skala lebih besar dan dramatis.

    ”Quo vadis” PBB

    ”Liga telah mati. Jayalah Perserikatan Bangsa-Bangsa,” demikian pidato Cecil, arsitek LBB, pada sidang terakhir LBB di Geneva, Swiss, 12 April 1946.

    Hari itu, LBB resmi dibubarkan. Perannya sebagai penjaga perdamaian dunia digantikan PBB yang berdiri 24 Oktober 1945. Secara operasional, peran itu dijalankan Dewan Keamanan (DK), satu dari enam badan PBB.

    Namun, semakin bertambah usia, PBB seperti tak berdaya mengatasi berbagai konflik dunia. Mantan Wakil Tetap RI untuk PBB Hasan Kleib melihat, DK PBB tak lagi bergerak sesuai peranan awal, pemegang mandat menjaga perdamaian dan keamanan dunia.

    ”Tugas mereka memantau seluruh dunia, konflik apa yang terjadi, dan menyiapkan langkah penyelesaiannya,” kata Hasan, yang kini Direktur Jenderal Multilateral Kementerian Luar Negeri. ”Namun, karena kepentingan nasional anggotanya, tugas itu bisa tidak bergerak.”

    Dia mencontohkan kasus Palestina yang selama 67 tahun tidak juga usai. Setiap kali disidangkan, kasus itu hampir pasti diveto AS, satu dari lima anggota tetap DK PBB selain Rusia, Tiongkok, Inggris, dan Perancis. Dalam hal ini, DK PBB terkesan membiarkan.

    ”Tahun 1980, sudah ada Resolusi 465 DK PBB yang mendesak penghentian dan penghancuran pembangunan permukiman ilegal Israel di Tepi Barat. Sudah 34 tahun resolusi itu tidak dijalankan,” paparnya.

    Hak veto lima anggota tetap DK PBB, pemenang PD II, seperti duri pengganjal PBB menjalankan misinya. ”Sekarang orang melihat DK PBB tidak demokratis dan tidak representatif,” ujar Hasan.

    Itu sebabnya, sejak 1995 mulai digulirkan reformasi DK PBB. Struktur DK PBB (5 anggota tetap dan 10 anggota tidak tetap) dinilai tidak lagi mewakili 193 anggota PBB.

    Menurut Hasan, Indonesia juga aktif dalam proses reformasi itu. Alternatif yang diusulkan adalah menambah anggota, dengan masa jabatan lebih lama, dan bisa dipilih lagi.

    ”Posisi Indonesia jelas, hak veto tidak demokratis. Karena tak mungkin dihapus, harus diatur kapan bisa digunakan. Regulasi itu diharapkan menuju ke penghapusan veto,” ujarnya.

    Namun, hampir 25 tahun reformasi DK PBB jalan di tempat. Akankah situasi ini mengarah pada PD III seperti diingatkan kolumnis Anatole Kaletsky dalam ”Powder Keg of 1914 Looks Too Familiar” di International New York Times, 27 Juni 2014?

    ”Awal 1914, hampir tak bisa membayangkan Inggris dan Perancis berperang melawan Jerman, membela Rusia menghadapi Austria terkait perselisihan dengan Serbia. Tetapi, pada 28 Juni 1914, hal itu terjadi,” tulisnya.(MH SAMSUL HADI)

     
  7. 14:29

    Notes: 3

    Tags: politik luar negeri

    Ratapan

    Terbit di Kompas, 3 Agustus 2014. Tulisan ini layak diperhatikan.

    Rafah, Khan Younis, Gaza City, Jabalya, Beit Lahiya, dan Beit Hanun rasanya begitu dekat di hati. Kota-kota itu pernah kami kunjungi tak lama setelah digempur habis-habisan oleh Israel pada perang 2008-2009. Dan, beberapa di antaranya kami kunjungi lagi pada tahun 2012.

    Perang Israel-Hamas (27 Desember 2008-18 Januari 2009) begitu dahsyat. Gempuran Israel yang diberi nama Operation Cast Lead, paling kurang, menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa, menyebabkan 1.440 orang Palestina tewas dan 5.380 orang terluka. Rumah-rumah ambruk. Gedung-gedung sekolah rusak berat. Masjid-masjid tidak lagi berdiri tegak karena kubahnya sudah rata dengan tanah. Rumah sakit-rumah sakit menjadi begitu muram karena begitu banyak orang terluka, anak-anak dan perempuan tak berdaya, bergeletakan. Dan, kamar mayat penuh. Perkebunan jeruk dan zaitun rusak parah. Kini, tragedi itu berulang.

    Gaza City menjadi kota mati ketika malam tiba. Ah, betapa terpencilnya kota itu dari dunia luar. Semua sisinya—laut, darat, dan udara—ditutup oleh Israel dengan moncong senjata dan tank serta kapal perang dan pesawat tempur. Meminjam ratapan Yeremia ketika melihat Jerusalem yang runtuh dan menjadi sunyi: laksana seorang jandalah ia, yang dahulu agung di antara bangsa-bangsa, yang dahulu ratu di antara kota-kota, sekarang menjadi tak berdaya. Demikian pula keadaan Gaza City dan kota-kota di Jalur Gaza ketika itu dan kini.

    Pada malam hari, tersedu-sedu ia menangis. Tak ada seorang pun yang menghibur dia. Negara-negara Arab yang biasanya ramai-ramai mendukung Hamas (Palestina) kini seperti diam. Ali Younes, analis CNN, mengatakan, apa yang terjadi saat ini di luar kebiasaan. Danielle Pletka dari The American Enterprise Institute berpendapat, perang kali ini ”perang kelompok berhaluan keras—Persaudaraan Muslim, Hamas, Hezbollah, dan pendukung-pendukung mereka, yakni Iran, Qatar, dan Turki—melawan Israel dan negara-negara Arab yang lebih moderat, termasuk Jordania, Mesir, dan Arab Saudi”. Dalam bahasa lain, Fareed Zakaria mengatakan, ”Inilah proxy war untuk mengontrol atau mendominasi Timur Tengah.”

    Posisi mereka berseberangan dengan Qatar, Turki, dan Iran yang mendukung Hamas, juga Hezbollah dan Persaudaraan Muslim. Turki yang tidak senang dengan perubahan di Mesir (dengan tersingkirnya Muhammad Mursi) harus berhadapan dengan koalisi Kairo dan Riyadh. Sementara itu, Hamas ingin menegaskan posisinya, semacam mempertegas posisi tawarnya dengan Fatah, setelah tercapai kesepakatan untuk membentuk pemerintahan Palestina bersatu.

    Karena itu, perundingan perdamaian baru akan memberikan hasil kalau melibatkan, selain Mesir, juga Turki dan Qatar serta tentu Amerika Serikat yang bisa menekan Israel dalam peta baru di Timur Tengah ini. Sementara itu, hingga Jumat lalu, sudah 1.654 orang Palestina tewas—80 persen di antaranya penduduk sipil, termasuk sedikitnya 296 anak-anak. Apa yang bisa penduduk Gaza lakukan selain meratap ketika melihat orang-orang yang dicintai tewas berkalang tanah?

     
  8. 14:22

    Notes: 10

    Anonymous said: halo bang, saya stalker-nya abang di twitter. hehe. bang, mau nanya. gimana pandangan abang tentang homoseksualitas? mau tau aja. thanks, bang :D

    pertama, terimakasih telah melakukan hal yang bahkan saya sendiri pun tak ingin melakukannya :)

    kedua, membaca atau mengetahui sesuatu tentang seseorang kemudian mengkonfirmasi atau mengklarifikasi kepada seseorang itu langsung, alih-alih membicarakannya di belakang, adalah tindakan bermatabat. terimakasih. 

    ketiga: tindakan bermartabat ini akan lebih baik lagi jika ditambahkan dengan kesabaran dan kecerdasan yang memadai. kesabaran untuk scroll down  lebih lama lagi di akun twitter saya itu. saya haqqul yaqin  dari tigapuluhan ribu tweet  saya pasti, sedikit banyak jawaban kamu akan terjawab. kecerdasan, untuk kemudian mengutip pernyataan-pernyataan saya itu sehingga pertanyaanmu menjadi lebih tajam sehingga memudahkan saya untuk meresponnya. 

    keempat: jika langkah ketiga sudah kamu lakukan kamu bisa melakukannya langsung di twitter dengan “quote” tweet saya yang kamu anggap “perlu diberi perhatian” lalu “mention” saya. hal ini penting, karena menurut saya, apa yang dimulai di twitter selesaikanlah di twitter. tak perlu dibawa ke tempat lain. nah, jika kamu tak memiliki akun di sana, bolehlah kamu me-copypaste semua tweet  saya perkara yang hendak kamu “dalami” di atas, dan bertanyalah dengan modus anonim di ranah tumblr ini.

    kelima: duh, kamu belum paham juga yah, tumblr bukanlah tanah yang cocok menanam benih berbentuk pertanyaan, ulasan, atau apapunlah itu yang sedikit banyak bisa menggores tafsir keagamaan “arus utama”. masyarakat tumblr tidak menyukainya, mereka membacanya, tetapi tak akan meninggalkan jejak. tumblr adalah tanah tanpa konflik. camkan itu :)

    keenam: taqabballlahu minna wa minkum :)