1. 20:34 28th Sep 2014

    Notes: 2

    Anonymous said: halo bang akhyar. mau nanya nih bang. saya seriang ngeliat nih abang posting cerpen gitu dan sepertinya itu cerpen pilihan gitu lho. nah menurut abang sendiri cerpen yang baik dan bagus itu gimana ya?

    halo juga. 

    pertama, itu adalah cerpen Kompas. jadi bukan pilihan saya, tetapi pilihan Kompas, yang mereka terbitkan setiap hari Minggu. Ada banyak cerpen-cerpen itu yang saya suka, banyak juga yang tak saya suka. Saya mengirimkan cerpen-cerpen ini hanya dengan iktikad berbagi dan (mungkin) juga memberi tahu khalayak “media sebesar Kompas bisa saja loh, memilih cerpen yang kriuk kriuk.” tentu saja Kompas yang di sini menggunakan majas sinekdot totum pro parte.

    kedua, “baik dan bagus” yang kamu sandingkan di cerpen kemudian malah kamu tanyakan ke saya, adalah beban yang terlampau besar. mengapa? karena bisa jadi “baik dan bagus” menurut pikiran kamu dan saya begitu berbeda. akan sangat menyenangkan jika kamu bertanya, “nah menurut abang sendiri cerpen yang abang sukai itu biasanya yang bagaimana ya?”

    ketiga, tentu ada yang protes, “jadi kita tidak bisa gitu, bertanya di ruang kelas, terutama kelas sastra, cerpen seperti apa yang baik dan bagus.” nah dalam konteks kelas ya bisa. dalam kelas tentu ada upaya-upaya “menyamakan gelombang” pemahaman tentang apa baik dan buruk, yang tentu saja bisa dibantah sana-sini dan dibela dengan alasan ini-itu. 

    keempat, biasakanlah memudahkan orang lain, bahkan dalam bertanya ;)

    Selamat menunggu Senin :)

     
  2. 19:22

    Notes: 2

    Tags: prosa

    Beras Genggam

    Cerita pendek yang indah ini adalah karya Gus TF SakaiTerbit di Kompas, 29 September 2014. Semacam membaca “panduan”. Menarik.

    Bertahun-tahun kemudian, walau akhirnya kau tahu Kramat Ako bukan penduduk asli kampung kami, kebanggaan kami terhadapnya takkan berkurang sama sekali. Kata Wak Usman, ”Jangan menepuk air ke muka. Sejak zaman Paik Lidah, tak ada yang asli di kampung kita. Bahkan nenek-moyang kita, Linduang Bulan, berasal dari kaba, semacam cerita yang didendangkan oleh orang-orang kampung hulu.”

    Cerita-cerita yang didendangkan itu, bagi orang-orang kampung hulu, juga cuma cerita pelipur lara. Artinya, kata Wak Usman, Linduang Bulan tidak benar-benar ada. Nenek-moyang kami tak lebih cuma dongeng, tidak nyata. Dalam pikiran kanak-kanak kami waktu itu, tentu saja hal itu tak masalah. Tetapi, bertahun-tahun kemudian, setelah kami tak kanak-kanak lagi, hal ini jelas sangat mengganjal. Bagaimana, coba, sebuah kampung, sekelompok manusia, bisa muncul begitu saja?

    Dan sebenarnya, bukan hanya nenek-moyang yang tidak nyata. Banyak hal lain di kampung kami juga tak masuk akal atau tidak kami mengerti. Biasanya hal itu berkaitan dengan larangan, pantangan, berbagai adat dan kebiasaan, yang kami tak tahu kenapa sesuatu tidak boleh dilakukan dan sesuatu lain boleh atau malah harus dilakukan. Dalam hal inilah, kau tahu, seperti yang akan kami ceritakan, Kramat Ako sangat membantu kami. Sesuai namanya, ako dalam bahasa kami berarti ’akal’. Sedangkan kramat adalah kata yang kami gunakan untuk menyebut orang-orang sakti.

    Tentu bukan hanya Kramat Ako orang sakti di kampung kami. Sejak puluhan atau ratusan tahun lalu, setiap zaman di kampung kami selalu ada orang-orang sakti. Kramat Gonok, Kramat Pago, Kramat Paku, adalah beberapa di antaranya. Menurut Wak Usman, orang-orang sakti ini didatangkan Tuhan seperti sesuai dengan kebutuhan kampung kami pada masa itu. Kramat Pago misalnya, ia didatangkan pada masa orang-orang Belanda ingin masuk menjajah kampung kami. Sesuai namanya, pago yang berarti ’pagar’, Kramat Pago bagai memagari kampung, membuat orang-orang Belanda tak berdaya, pontang-panting pergi dari kampung kami karena, selain tubuh Kramat Pago kebal tak mempan senjata, ia juga bisa dengan mudah membuat segerombol tentara Belanda terpelanting terpental jauh hanya dengan mengibaskan tangannya.

    Berbagai larangan dan pantangan, hal-hal tak masuk akal itu, kami sadari pula kemudian, juga banyak berasal dari kampung hulu. Bahkan falsafah hidup kami, dune takoko jadi guru, juga berasal dari falsafah hidup orang-orang kampung hulu yang di kampung hulu berbunyi alam terkembang jadi guru. Dan Kramat Ako, dengan caranya sendiri, telah memperlihatkan pada kami bagaimana kami harus menggunakan akal, belajar dari alam, justru melalui berbagai larangan dan pantangan itu.

    Pantangan menebang pohon di Bukik Coro misalnya, baru kami pahami setelah terjadi longsor yang menimbun tiga keluarga di hutan perbukitan itu. Orang-orang bilang itu dikarenakan makhluk halus penunggu hutan Coro marah, tetapi kata Kramat Ako jenis tanah di Bukik Coro adalah tanah yang mudah dikikis air, sehingga, bila pohon-pohon ditebang dan akar-akar pohon jadi hilang, tak ada lagi yang mengikat dan menahan tanah dalam posisi semula. Begitu pula larangan tak boleh bermain ke Lubu Lekok ketika bintang Buluk bersinar terang, setelah dijelaskan Kramat Ako kami lalu tahu tak ada sama sekali bili (bahasa kami untuk menyebut iblis) yang turun dari bintang memakan habis burung-burung lekok.

    Burung lekok, di kampung kami, adalah semacam burung bangau. Kenapa kami namakan lekok karena pada musim tertentu burung ini selalu datang beramai-ramai ke Lubu Lekok. Lubu Lekok adalah rawa dangkal di sebelah utara kampung kami, di pinggir Sungai Tangari. Saat bintang Buluk bersinar terang, itu pulalah saat air akan naik dari sungai dan Lubu Lekok akan tergenang. Ikan-ikan juga akan berenang naik, sampai ke Lubu Lekok, dan itu adalah sumber makanan anak-anak burung lekok ketika nanti telur-telur mereka menetas. Jadi, bila saat itu, ketika bintang Buluk bersinar terang itu—jelas Kramat Ako—kami bermain-main ke Lubu Lekok, maka yang sebenarnya terjadi adalah ikan-ikan akan tak naik dari sungai. Dan artinya, calon-calon anak-anak burung lekok akan tak punya sumber makanan. Inilah sebab burung-burung lekok lalu menghilang, bukan karena ada bili turun dari bintang.

    Bintang-bintang, memang, harus kami katakan, adalah salah satu sumber pelajaran alam penting yang diberikan Kramat Ako. Setelah bintang Buluk menandakan air masih akan tergenang di rawa-rawa itu misalnya, ada bintang Goge yang muncul di ufuk barat saat senja sampai lepas Magrib. Bintang bergugus segi enam itu memberi tanda inilah saat ideal buat menyemai. Bila kami lalai, padi akan tak dapat waktu yang cukup memperoleh air. Karena, 20 hari setelah kemunculan gugus bintang Goge, air akan segera surut.

    Tetapi, seperti sudah akan kami ceritakan, di kampung kami tak hanya ada Wak Usman, Wak Raitan, atau Wak Rapani, orang-orang atau tokoh-tokoh yang mengikuk (menuruti, percaya pada) Kramat Ako. Melainkan juga ada Wak Janewo, tokoh yang, bersama keluarganya, turun-temurun, entah sejak kapan, seperti tak suka atau bahkan benci pada Kramat Ako.

    Tak ada yang tahu pasti apa sebab Wak Janewo tak suka pada Kramat Ako. Tetapi Wak Rapani, yang usianya sudah hampir 80 tahun—seusia dengan Kramat Ako—pernah bilang mungkin semua berawal dari teguran Kramat Ako pada Nyik Jamain, ayah Wak Janewo, dulu sekali, saat Nyik Jamain masih hidup, tak boleh mengolah tanah menggunakan traktor. Kata Wak Rapani, ini berkaitan dengan pantangan atau larangan lain di kampung kami yang disebut dulak tana.

    Dulak tana adalah keharusan menggunakan tajak, semacam cangkul kecil, untuk membalik tanah. Nyik Jamain yang keturunan terpandang, hidup berkecukupan, punya banyak tanah, menganggap adalah bodoh tetap menggunakan tajak pada saat mampu membeli traktor. Kami sendiri yakin, kau pasti akan sependapat dengan Nyik Jamain. Tetapi, Kramat Ako bilang: tanah garapan kampung kami adalah jenis tanah bok (bahasa Krmat Ako untuk menyebut tanah gambut) yang bila dibalik atau diolah terlalu dalam akan membuat tanah jadi asam. Dan Kramat Ako benar belaka. Bukan hanya hasil yang tahun demi tahun terus menyusut, tetapi juga banyak tanah Nyik Jamain yang akhirnya tak lagi bisa ditanam.

    Peristiwa yang agak jelas kami ingat, mungkin karena saat itu kami sudah remaja dan Nyik Jamain sudah meninggal, adalah ketika Wak Janewo mendatangi Kramat Ako tak terima ditegur karena golek api. Di sepanjang jalan pulang dan berpapasan dengan kami yang bermain-main di pinggir Tangari, kami mendengar bagaimana Wak Janewo meredong-redong (mengumpat-umpat, memaki-maki). Dan kami ingat pula, itulah saat kami pertama tahu (tepatnya pertama tertarik, pertama peduli) bahwa Kramat Ako bukan orang kampung kami. Umpatan ”tak usali (asli)” dan ”tau apo (tahu apa) golek api” menyembur meletus-letus dari mulut Wak Janewo.

    Golek api adalah larangan tak boleh membuat unggun di ladang. Saat itu, mungkin karena cepat dimatikan—Kramat Ako sendiri yang bergegas memadamkan api—memang tak ada sesuatu yang terjadi. Tetapi, di saat lain, ketika Wak Janewo kembali melanggar golek api, lama, sampai berhari-hari, api tak bisa dipadamkan. Ladang Wak Janewo di Lubu Tingkek, sampai jauh ke pinggir hutan Rimbo Sekejam, hangus hitam mengabu-arang. Dan yang amat membuat susah, kabut-asap bagai mengepung kampung, membuat kami hampir-hampir tak bisa bernapas. Kata Kramat Ako: api sukar dimatikan dan kabut-asap jadi tebal karena jenis tanah bok bisa memendam sisa pembakaran. Hal yang baru saat itulah kami paham, dan mengerti, maksud pantangan golek api. Dan agak jelas juga, peristiwa itu pulalah yang membuat kami mulai merasa kagum, bangga pada Kramat Ako. Dan ya, benar, saat itu pulalah kami mulai bertanya-tanya.

    - Siapa sebetulnya Kramat Ako?

    + Dulu ia bernama Jumali. Seorang pintar, sekolah tinggi di kota, puluhan tahun lalu datang kemari, kata orang ia ”meneliti”, lalu memutuskan menetap di kampung kita.

    - Kenapa memutuskan menetap?

    + Karena ia senang pada kampung kita. Karena semua apa yang ada membuatnya suka. Katanya, ”Apa-apa yang ada di sini semua masuk akal.”

    Masuk akal! Jangankan kami para remaja, orang-orang dewasa atau orang tua-tua pun, bahkan, kala itu konon tercengang. Masuk akal, justru hal itulah di kampung kami paling mengganjal. Tetapi, Kramat Ako yang menjelma dari Jumali, hari demi hari, terus memperlihatkan bagaimana alam, bagaimana semua yang tak masuk akal itu, ternyata, telah sejak lama menuntun kami.

    Setelah gugus bintang Goge, Kramat Ako menunjuk gugus bintang Betigo, juga di ufuk barat, yang terdiri dari tiga bintang berderet membentuk garis lurus. Kualitas terang tiga bintang ini menandakan akan berapa lama berlangsungnya musim kering. Dari situ, selain mengerti kapan membereskan dami di sawah, kami juga tahu apa palawija yang cocok pada musim itu. Dan begitulah terus, selain durian dan duku yang musimnya tetap, panennya berurutan, dan hasilnya untuk tabungan, palawija dan padi menghidupi kami sepanjang tahun. Tetapi, seperti masih sedang kami ceritakan, tidak begitu halnya dengan Wak Janewo.

    Selain banyak tanah Wak Janewo yang tak lagi bisa ditanam, terpengaruh orang-orang kampung hilir yang mengganti durian dan duku dengan sawit, ia juga mengolah sawah dengan cara berbeda. Mirip-mirip Nyik Jamain, Wak Janewo menganggap adalah bodoh panen tetap sekali pada saat bisa dibuat tiga kali. Lalu datanglah apa yang ia sebut padi unggul, pupuk kimia, obat-obat pemusnah hama. Tetapi, kata Kramat Ako: tanah butuh istirahat, alam memerlukan waktu memulihkan keseimbangan. Dengan demikian, padi lokal akan lebih sehat; akan lebih tahan. Dan maka, bertahun-tahun kemudian, seperti akhirnya masih kami ceritakan, kau lihatlah semua kini: pada masa kabut-asap makin menggila, sawah-sawah Wak Janewo ranggas—tak ada hasilnya.

    Tetapi tentu, seperti kini kau sangat tahu, kami punya hal-hal itu. Hal-hal berkaitan dengan larangan, pantangan, berbagai adat dan kebiasaan. Setelah bertahun-tahun, kami yakin, hampir semua sudah kami ceritakan. Tetapi yang ini, bore gonggom, apakah juga sudah kami ceritakan atau belum, kami ragu.

    Bore gonggom, bila disebut dalam bahasamu beras genggam, adalah kebiasaan kami mengumpulkan beras segenggam demi segenggam dari seorang demi seorang dari rumah demi rumah, sampai terkumpul banyak, lalu memberikan kepada keluarga yang kemalangan atau tertimpa bencana. Harus kami katakan, kata segenggam maknanya tidaklah benar-benar segenggam. Bagi mereka yang cukup mampu, segenggam bisa berarti seliter dan, bagi mereka yang sangat mampu, segenggam bisa berarti sekarung. Maka begitulah, setelah terkumpul lebih 16 karung, kami pun lalu mengantarkan ke keluarga Wak Janewo.

    Dengan bore gonggom ini, semua akan kembali sama. Keluarga yang kemalangan dan yang tidak kemalangan akan sama tetap mempunyai beras. Tetapi begitulah, Wak Janewo benar-benar keturunan Nyik Jamain. Bukannya disimpan sebagai cadangan, karung-karung beras itu ia naikkan ke gerobak, lalu menjualnya ke kota.

    Bertahun-tahun ke depan, walau kau sangat tahu Wak Janewo penduduk asli kampung kami, tak seorang pun pernah mengingatnya lagi. Kata Wak Usman, yang kelak jadi bido (semacam ujar-ujar) kampung kami, ”Harta-benda hilang, itu bukan bernama hilang. Sanak-saudara hilang, itu tak pernah disebut hilang. Akal-budi hilang, itulah sebenar-benar hilang.”

     
  3. 19:11

    Notes: 5

    Tags: Cerita

    Benar & Layak

    Tulisan ini adalah karya Samuel Mulia. Terbit di Kompas, 29 September 2014. Wah, kali ini mas Sam mulai belajar “mengira-ngira” Tuhan. 

    Di hari Senin pagi, satu minggu yang lalu, saya kepikiran gara-gara pesan yang dikirim oleh seorang teman lama. Begini bunyi pesan itu. Dalam memberikan persembahan kepada Tuhan, kita harus terlebih dahulu dalam kondisi benar dan memiliki kehidupan yang layak di hadapan Tuhan….

    Fisik

    Duh…, saya tertusuk rasanya. Sakitnya tu di sini (sambil menunjuk dada). Sejujurnya saya agak tersinggung, dan disusul dengan suara nurani yang memang senangnya ”bernyanyi”. ”Nyanyiannya” seperti ini.

    Kalau setelah saya mengevaluasi hidup, dan ternyata hasilnya tidak benar dan tidak layak, jadi selama ini doa yang saya panjatkan, persembahan yang saya berikan, pertolongan saya lakukan itu sia-sia belaka? Begitu?

    Bagaimana cara saya mengetahui saya ini benar dan saya ini layak? La wong saya sering kali dikuliahi dengan perkataan macam begini. Belum tentu yang benar di mata kamu adalah benar di mata Tuhan. Artinya, bisa jadi, belum tentu pesan yang dikirim teman saya itu benar di mata Tuhan, bukan?

    Tetapi sungguh menarik untuk mengetahui bagaimana saya itu benar dan layak agar persembahan saya itu diperkenankan-Nya. Kalau saya membaca isi Injil, sejujurnya saya tak pernah bisa benar dan tak pernah bisa layak. Saya tak sanggup melakukan seperti yang tertulis di dalamnya. La wong infrastruktur yang diberikan kepada saya mengandung sisi baik dan sisi tidak baik.

    Apakah pesan yang diberikan teman saya adalah sesungguhnya hanyalah buatan manusia, bukan pesan yang diartikan sesuai dengan apa yang benar di mata Tuhan? Karena sudah acap kali manusia itu senang sekali membuat aturan main agar hidup itu jangan sampai tidak sempurna, padahal ia tahu betapa tidak sempurnanya hidup ini.

    Katanya tangan kiri itu tangan yang kotor, maka saya diajari makan itu pakai tangan yang bersih, yaitu tangan kanan. Nah, kemudian saya bertanya, apakah itu kebenaran ilahi atau kebenaran manusiawi? Kalau saya mengikuti kebenaran manusiawi, apakah itu berarti saya sudah hidup benar dan layak di hadapan Tuhan?

    Kalau saya tidak menyetujui pendapat orang tua dan bukan tidak menghormatinya, apakah saya dianggap kurang ajar dan anak yang tidak tahu diri? Karena di suatu hari ada seorang ibu menegur bahwa saya tidak benar melawan orang tua. Apakah teguran itu membuat si ibu sungguh layak dan benar, bahkan ketika ia tidak mampu melihat perbedaan antara berbeda pendapat dan melawan?

    Hati

    Saya ditegur di meja makan karena makan dengan piring yang saya tumpuk dengan piring kotor di bawahnya. Katanya itu menunjukkan bahwa saya hobi menumpukkan pekerjaan. Teman saya menasihati jangan merayakan hari ulang tahun sebelum waktunya. Pamalikatanya.

    Apakah yang pamali itu benar? Layak? Kebenaran dan kelayakan yang berasal dari manakahpamali itu? Apakah kebenaran dari tiga contoh di atas itu sesuai dengan kebenaran dari kacamata Tuhan? Apakah yang kelihatan baik di mata manusia itu sudah pasti baik di mata Tuhan?

    Sehingga kalau saya menjalankan ketiga contoh di atas, saya mendapat pujian dari manusia, saya lulus dari ujian kebenaran dan kelayakan hidup, tetapi apakah itu juga akan meluluskan saya dalam ujian yang diberikan Tuhan? Kalau saya tidak lulus, apakah manusia yang telah mengajarkan aturan main pamali atau tidak, akan membela saya?

    Di pagi yang sama teman saya mengirimkan sebuah video bagaimana hidup bahagia. Ada tiga hal. Enak makan, enak tidur, dan enak buang air besar. Selama ini saya bersyukur saya dapat melakukan itu semua. Apakah saya bahagia? Tidak.

    Karena ukuran saya bahagia bukan itu. Apakah tayangan dalam video itu benar? Bisa jadi benar dan baik buat orang itu, tetapi tidak untuk saya. Terus kalau begitu, saya menjadi manusia yang tidak benar, tidak baik?

    Nah, sekarang saya ingin bertanya, kalau saya menulis, saya tidak bahagia, apakah Anda akan menilai saya tidak benar, karena saya tidak bersyukur? Jadi kalau di mata Anda, saya tidak benar, apakah itu berarti saya tidak layak dan tidak benar di hadapan Tuhan?

    Hidup ini memberi banyak kemungkinan, termasuk kemungkinan kalau manusia salah menerjemahkan apa kebenaran dan kelayakan yang sesuai di mata Tuhan. Siapa tahu, Tuhan itu tidak membutuhkan saya yang benar dan saya yang layak, tetapi hanya membutuhkan manusia yang berniat memiliki hubungan yang dekat dengan-Nya.

    Siapa tahu hubungan dekat yang dimaksud itu adalah sebuah hubungan dengan hati bukan dengan aktivitas fisik, artinya yang penuh dengan naik dan turun, hubungan yang alamiah, yang tidak dibuat-buat.

    Sehingga doa yang saya panjatkan, pertolongan yang saya berikan, persembahan berupa uang yang saya lakukan, akan senantiasa benar dan layak dan senantiasa berkenan tanpa harus mengevaluasi apakah saya ini benar dan layak.

    Sama seperti orang tua yang selalu mencintai dan mengerti anaknya, meski mereka tahu pasti anaknya telah dan akan banyak melakukan ketidakbenaran dan ketidaklayakan.

    Saya pernah dinasihati begini. Manusia itu hanya melihat apa yang di depan matanya, tetapi Tuhan itu melihat hati.

     
  4. dengan cinta, angka-angka tak terhingga yang bersembunyi di antara 0 dan 1 muncul begitu saja. inilah yang membuat cinta membuat suatu momen menjadi sarat sekaligus berat. dengan cinta waktu tak lagi kita maknai dengan satu dua tiga dan seterusnya. tetapi 1, 1.1, 1.11,…
     
  5. 19:21 23rd Sep 2014

    Notes: 10

    Tags: prosa

    Penyair yang Jatuh Cinta pada Telepon Genggamnya

    Cerita pendek yang seolah surealis ini adalah karya Agus NoorTerbit di Kompas, 21 September 2014. Menarik. Sungguh menyentil.

    1.

    Karena tak ingin dianggap kampungan dan ketinggalan zaman, maka ia pun memutuskan untuk membeli telepon genggam. Sebagai penyair, ia merasa perlu tampil bergaya. Apalagi saat ini penyair dekil dan miskin sudah tak lagi mendapat tempat dalam pergaulan. Maka penyair kita tercinta ini pun mulai rajin menabung duka, honor yang didapat dari puisi-puisi yang ditulisnya. Lumayan, setelah cukup banyak duka diperoleh, ditambah utang sana-sini pada teman-temannya, akhirnya penyair kita pun bisa membeli telepon genggam.

    Telepon genggam bekas, tentu saja. Itu pun model lama. Sudah rusak keypad-nya. Danngadat huruf-hurufnya. Kalau memencet huruf ”a” yang muncul di layar huruf ”k”. Bahkan kadang-kadang sama sekali tak muncul hurufnya. Tapi penyair kita tetap bangga. Maklum, telepon genggam itu barang mewah pertama yang sanggup dibeli dengan seluruh kepedihannya.

    Dengan penuh gaya, segera ia menelepon ke sana-kemari. ”Halo, kamu siapa? Inihandphone baru saya. Apa kamu bisa dengar suara saya?” Begitulah sepanjang hari ia menelepon siapa saja, ke nomor rumah sakit, nomor panji pijat, nomor yang serampangan dicomotnya dari Yellow Pages, sampai ke nomor-nomor yang hanya ada dalam khayalannya. Meski telepon genggam itu tak ada pulsa.

    ”Tak apa tak ada pulsa,” batinnya, ”yang penting kini aku sudah bisa bergaya. Apa gunanya jadi penyair kalau tidak bergaya!”

    Di depan cermin ia pandangi tubuhnya yang kerempeng, pantatnya yang tepos, dan celana jins yang kedodoran. Tapi tubuh itu kini kelihatan lebih gagah karena menenteng telepon genggam. Ia tak lagi minder dengan wajahnya yang penuh jerawat, juga matanya yang kelam oleh penderitaan. Ia yakin pacarnya kini pasti bangga karena ia telah punya telepon genggam. Setelah mandi, menyisir rambutnya dengan model klimis, menyemprotkan sedikit minyak wangi agar bau balsem di tubuhnya hilang, maka penyair kita tercinta ini pun segera berkunjung ke rumah pacarnya.

    2.

    ”Lihat,” ia pamer pada pacarnya. ”Sekarang aku punya telepon genggam. Betapa imut telepon genggam ini. Ia seperti memiliki mata yang sendu, seperti sepasang matamu.”

    Pacarnya yang hitam manis itu hanya diam saja.

    ”Aku yakin, ini telepon genggam paling cantik di dunia. Wajahnya seperti wajahmu yang memiliki senyum paling menawan di dunia.”

    Mendengar itu, pacarnya malah cemberut.

    ”Menurutku, ini telepon genggam paling sexy. Kamu tak akan mungkin menemukan lagi telepon genggam seperti ini. Sungguh beruntung aku memiliki telepon genggam ini, sebagaimana kau juga begitu beruntung punya pacar seperti aku. Percayalah, aku akan merawat telepon genggam ini dengan baik, seperti aku akan merawat dan mencintai kamu.” Lalu dielusnya telepon genggam itu. Diciuminya pelan-pelan.

    Tiba-tiba terdengar: braakkk!!! Pacarnya masuk rumah, sambil membanting pintu.

    3.

    Semakin terlihat cantik saja telepon genggam itu. Setiap kali menatap berlama-lama, penyair kita merasakan ada yang berdesir lembut dalam hatinya. Kadang ia heran, bagaimana sebuah telepon genggang bisa membuat seseorang merasa begitu bahagia? Setiap zaman memang memiliki ukuran kebahagiaan yang berbeda-beda, batinnya, saat merasakan kesedihannya perlahan-lahan menguap. Telepon genggam itu telah mengubah hidupnya. Ia teringat hari-hari sedih ketika ia belum memiliki telepon genggam. Ia teringat tetangganya, seorang tukang becak, yang rela tak membeli beras karena uangnya habis untuk beli pulsa. Orang memang perlu bergaya untuk sekadar merasa bahagia.

    Ketika telepon genggam itu bergetar, ia merasakan jantungnya berdebar, sekan-akan telepon genggam itu telah menjadi jiwanya. Matanya berkaca-kaca. Tiba-tiba ia ingin menangis karena merasa begitu bahagia. Lalu ia ambil tisu bekas yang tergeletak di meja di sisi ranjangnya. Ah, kebahagiaan memang seperti tisu, yang kita butuhkan saat sedih. Hanya saja: kita tak tahu di mana mesti membelinya.

    Tak apa aku diputus pacar, batinnya, karena kini aku punya telepon genggam yang lebih pengertian dari seorang pacar. Kini ia mengerti, kenapa banyak orang merasa perlu memiliki lebih dari satu telepon genggam. Punya banyak telepon genggam memang lebih menyenangkan ketimbang punya banyak pacar. Ia tersenyum memikirkan itu. Tak usah larut dalam kesedihan, batinnya. Sebab kesedihan punya waktunya sendiri-sendiri, yang mengerti kapan saatnya mesti pergi. Lagi pula, kesedihan hanyalah cara kita memberi nama pada sesuatu yang sebelumnya tak bernama.

    Kemudian ia tiduran di ranjang. Dibaringkan telepon genggam itu di sisinya. Malam itu ia tidur ditemani telepon genggamnya dengan perasaan yang ganjil ketika melihat sepasang cicak berkejaran di dinding, sementara suara angin pelan-pelan menggesek jendela kayu yang sudah reyot engselnya, dan ia merasakan bagai ada seseorang yang bernapas dengan tenang di sampingnya. Dipeluknya dengan penuh gairah telepon genggam itu, sembari memejam dan berbisik pelan, ”Aku kangen kamu….”

    Ia berharap ada suara penuh kerinduan menjawab dari telepon genggam itu. Tapi ia hanya mendengar suara pilu seekor anjing melolong dalam telepon genggam itu.

    4.

    Ia semakin jatuh cinta pada telepon genggamnya. Kian hari telepon genggam itu kian terlihat sexy. Ia suka memandangi telepon genggam itu: membaca pesan-pesan gelap yang dikirim entah siapa, mengintip foto porno dan video mesum, sembari membayangkan tubuh pacarnya. Ada saat-saat telepon genggam itu membuatnya berahi. Dengan gemetar ia menyentuh telepon genggam itu. Rasanya sintal dan kenyal, seperti payudara. Kadang-kadang telepon genggam itu menjadi basah, seperti tubuh perempuan yang berkeringat, ketika ia memeluknya.

    Disebabkan perasaan bangga dan bahagia, ia sering memamerkan telepon genggam itu pada kawan-kawannya. ”Aku yakin telepon genggam ini juga mencintaiku. Ketika aku merasa sedih, ia menghiburku. Ia suka bernyanyi. Bukan, itu bukan bunyi ringtones. Tapi ia memang benar-benar bernyanyi. Ia paling suka nyanyi lagu dangdut.”

    ”Cukuplah kamu menjadi penyair gagal,” kata kawan-kawannya. ”Jangan memperburuk nasibmu dengan menjadi gila.”

    Bagi kawan-kawannya, telepon genggam itu hanyalah telepon genggam rusak, tapi bagi penyair kita tercinta, telepon genggam itu selalu memberinya ilham yang menakjubkan. Ketika ia ingin menulis puisi, ia mendengar telepon itu berbicara dengan kata-kata yang tak akan pernah mampu ia terjemahkan menjadi puisi. Ah, kata-kata abadi memang kata-kata yang tak akan mungkin bisa dituliskan ke dalam puisi, batinnya. Mungkin suatu kali ia akan menulis puisi seperti ini: aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan suara yang tak sempat diucapkan telepon genggam kepada kata, yang membuatnya bahagia. Telepon genggam itu memberinya cinta, kenangan, dan hal-hal yang tak pernah tepermanai. Barangkali, ia membatin, seperti dalam puisi, telepon genggam ini hanya melankoli. Telepon genggang ini hanyalah sesuatu yang kelak retak, tapi ia ingin membuatnya abadi. Itulah yang membuatnya semakin mencintai telepon genggamnya. Apalagi dengan telepon genggam itu ia bisa menelepon ibunya. Bila kesepian tengah malam, sering ia iseng menelepon ibunya, di surga.

    ”Apa kabar, Ibu? Pasti Ibu bahagia, sudah ketemu Tuhan. Jangan khawatirkan nasibku. Sebagai penyair aku memang miskin, tapi bahagia. Seperti dulu sering kau nasihatkan padaku, Ibu, kebahagiaan, secuil apa pun selalu lebih nikmat bila dibagikan. Karena itulah, Ibu, kalau Ibu kesepian di surga, teleponlah aku.” Lalu ditutupnya telepon genggam itu, dengan mata berkaca-kaca. Kerinduan pada ibu adalah kerinduan pada kata. Karena ibu adalah muasal segala kata.

    Malam itu, menjelang tidur, ia melihat bayangan ibunya keluar dari telepon genggam. Ia mendengar suara orang cuci muka di kamar mandi. Ia teringat pada ibunya yang selalu bangun tengah malam untuk menunaikan shalat. Bila doa tak menolong hidupmu, setidaknya doa bisa membuatmu tenang, begitu kata ibunya saat ia masih berusia 10 tahun. Ia ingat, seminggu sebelum Lebaran, ibu membelikannya baju dan celana baru, dan dua hari kemudian meninggal dunia. Nasib buruk adalah karib penyair. Sejak itu ia ingin selalu menulis puisi untuk ibunya. Dan itulah yang membuatnya tersesat menjadi penyair. Meski hanya menjadi penyair gagal, seperti kata teman-temannya. Tapi ia kerap menghibur diri: jauh lebih beruntung menjadi penyair gagal ketimbang menjadi presiden gagal.

    5.

    Ia mendekam dalam kamarnya karena tak mungkin pulang kampung Lebaran ini. Tak ada ongkos. Harga tiket kereta api jauh lebih tinggi dari honor puisi. Ia sudah berusaha menjual telepon genggamnya, tetapi pedagang loakan itu malah tertawa, ”Telepon genggam rusak begini, dikasih gratis pun saya enggak mau!”

    Dari dalam kamarnya yang sumpek, ia mendengar gema takbir malam Lebaran yang bagai meledeknya. Perutnya keroncongan. Terbayang makam ibunya yang penuh semak belukar. Ia mencoba memejam. Lebaran yang semakin mahal memang bukan untuk orang-orang miskin seperti dirinya. Lagi pula ia malu bila pulang kampung bertemu kawan-kawan semasa kecilnya yang pasti sudah sukses dan menenteng gadget terbaru yang mewah. Ia tertidur sembari memimpikan telepon genggam yang bisa menyelamatkannya dari kesedihan. Sementara matanya terkantuk-kantuk, tiba-tiba melintas ide sebuah puisi: Malam Lebaran. Bulan di dalam telepon genggam.

    6.

    Tengah malam, penyair kita tercinta tergeragap bangun—seperti ada suara memanggil-manggilnya—dan dilihatnya telepon genggam itu berkedip-kedip, seperti isyarat yang tak ia pahami maknanya.

    Barangkali, Tuhan mencoba meneleponnya.

     
  6. 19:11

    Notes: 8

    Tags: Cerita

    Uni

    Tulisan ini adalah karya Samuel Mulia. Terbit di Kompas, 21 September 2014. Nah…

    Saya ini senang sekali mengamati manusia, termasuk diri sendiri. Tentu pengamatan saya sebatas pengamatan dua mata saja. Tidak ada buku referensi, data akurat, atau hasil penelitian yang teliti dan jitu yang mendukung tulisan ini.

    ABCDE vs KLMNOP

    Saya teringat kepada masa di sekolah dahulu. Dalam satu kelas kami mendapat pelajaran yang sama. Satu tambah satu sama dengan dua. Itu diajarkan untuk saya yang IQ-nya anjlok dan mereka yang IQ-nya menjulang tinggi, bahkan tinggi sekali.

    Dengan materi pelajaran yang sama, kami diuji. Saya tidak mendapat juara, mereka menjadi juara kelas. Secara tidak langsung, saya menjadi murid yang biasa. Kalau mau lebih kelihatan manusiawi dan santun, murid yang biasa-biasa banget.

    Buat saya, adanya peringkat juara adalah sebuah diskriminasi dan bukan pemacu semangat. Penilaian itu datang dari mata manusia yang masuk ke dalam kategori murid yang biasa-biasa banget. Saya tidak tahu kalau dari kacamata murid yang IQ-nya tinggi banget.

    Dalam mata pelajaran agama maupun etika, saya dan murid-murid lainnya diajari sebuah pelajaran yang sama. Penghinaan itu tidak baik, kalau berbicara itu yang santun, sampai soal memaafkan yang juga harus dilakukan.

    Kami sama-sama menyimak semuanya itu, tetapi tak semua dari kami menjalankan nasihat itu. Di dalam rapor kenaikan kelas, nilai tinggi dalam pelajaran ini tak akan memberi kesempatan seseorang untuk menjadi juara.

    Dua kejadian yang kontradiktif itu buat saya cukup membingungkan, tetapi akhirnya saya menyimpulkan bahwa itulah uniknya manusia. Di satu sisi bisa menjadi penghina yang luar biasa, di satu sisi manusia menjelma menjadi malaikat yang luar biasa. Pertemuan kedua sisi manusia yang ekstrem itu melahirkan ungkapan seperti serigala berbulu domba.

    Pendidikan formal atau tidak formal mengajarkan saya ABCDE, ketika saya beribadah saya diajarkan untuk KLMNOP. Saya mau menerapkan KLMNOP ketika berdampingan dengan ABCDE, ternyata beberapa kali malah terjadi friksi.

    Perbedaan memberi warna pada kehidupan. Demikian yang pernah saya dengar. Artinya, saya dan Anda setuju bahwa setiap orang berhak memiliki pendapatnya sendiri-sendiri dan perbedaan itu yang menghasilkan warna. Nah, kalau demikian adanya, seharusnya hidup itu seperti lagu bunga-bunganya Syahrini di Sappada Mountain yang diakhiri dengan kalimat telak, I feel free. Tetapi ternyata yang ada, perbedaan tak jarang melahirkan permusuhan.

    Mirip kodok

    Mengapa terjadi demikian? Ini perkiraan saya yang didapati dari hasil sebuah perjalanan hidup. Mungkin sebagai manusia, saya ini takut mengetahui kalau sesuatu yang baik dan tidak baik itu bergumul seperti pergumulan yang terjadi di padang Kurusetra, dan Kurusetra itu adalah diri saya sendiri.

    Sisi baik saya bersuara bahwa sisi tidak baik saya harus dihilangkan atau diminimalkan. Sisi tidak baik saya berteriak mungkin lebih kencang bahwa sisi baik saya terlalu mengada-ada, karena tak ada manusia yang mampu bersih seratus persen dari perbuatan tidak baik.

    Sisi baik saya gemar membuat aturan main sebanyak mungkin agar sisi tidak baik saya kalah telak. Sisi tidak baik saya menyuarakan bahwa aturan main itu hanya guyonan belaka yang bakal menjadi beban, karena sejak aturan itu mulai dibuat, saya tahu persis saya tak bisa melakoni semuanya dan bakal menjadi bumerang.

    Sisi baik saya mengatakan uang bukanlah segala-galanya, sisi tidak baik saya bersuara benar tidak segalanya, tetapi ah… yang benar saja masak saya tidak suka punya uang banyak. Sisi baik saya takut mengetahui gempuran yang disuarakan sisi tidak baik. Dan semakin ketakutan, saya semakin membuat aturan main yang begitu banyaknya.

    Kalau sudah begitu, saya jadi berpikir, mungkin di situlah letak uniknya saya sebagai manusia. Bukan karena saya hidup mirip kodok di dua dunia, bukan karena saya memiliki kehidupan dengan dua muka, tetapi keunikannya karena saya terkejut, kok, kayaknya ketidakbenaran bisa mendatangkan kebenaran.

    Saya terkejut kalau ternyata saya senang punya uang banyak, meski saya tahu itu bukan segalanya. Saya terkejut karena perbedaan pendapat yang membuat hidup lebih berwarna, ternyata mengancam keberadaan saya, dan membuat saya tak bisa bernyanyi bahagia seperti Syahrini dan mengatakan I feel free.

    Saya dinasihati untuk memaafkan. Waktu saya dinasihati itu, saya mengangguk-angguk tanda setuju. Setelah itu ada suara lain yang berbicara. ”Iya elo emang punya kemampuan memaafkan, tetapi elo jangan lupa bro, kalau elo juga punya kemampuan yang sama besarnya untuk tidak memaafkan.”

    Maka seringlah saya mendengar ucapan macam begini. ”Sudahlah kita ini, kan, manusia. Sopasti pernah salah dan pernah benar. Pernah baik, pernah tidak baik.” Maka saya bergumam sendiri. Semoga kalau suatu hari saya angkat kaki dari bumi ini, Tuhan menyetujui seperti banyaknya mulut yang bersuara seperti itu.

    Dan kalau saya lolos dari hari penghakiman, itu karena kemanusiaan saya yang unik, dan bukan karena saya telah membuat aturan main yang baik dan benar, meski tak bisa saya lakoni seratus persen.

     
  7. Pada malam gelap kita terlelap. Waktu pagi baru berjingkat kita tercekat. Tuhan di mimpi ke mana pergi. Selamanya atau sementara saja.
     
  8. 19:22 17th Sep 2014

    Notes: 10

    Tags: prosa

    Pabrik Skripsi

    Cerita pendek yang parodik ini adalah karya On Thok SamiangTerbit di Kompas, 14 September 2014. Akhirnya muncul juga cerita berlatar Melayu.

    Afan Waham memang gudangnya ide-ide gila. Ada-ada saja lontaran gagasan dari pikirannya. Tetapi, ya, begitu saja, sekadar gagasan saja. Lama kelamaan gagasan itu akan menguap dan lenyap dikubur waktu. Maka ketika dia menyatakan hendak mendirikan pabrik skripsi aku tidak terkejut.

    Begitu juga ketika dia meminta aku untuk menjadi manajer produksi di pabrik yang akan didirikannya itu, kuanggap dia hanya sekedar bercanda. Bahkan ketika undangan peresmian pabriknya sudah di mejaku, aku masih saja meragukan kesungguhannya. ”Seriusawak rupanya?” tanyaku lewat handphone.

    ”Alamaaak, kalau main-main mana mungkin aku mengajak awak tu. Selama ini memanglah banyak ide gilaku yang tak berhasil, tapi yang ini beda, Kawan! Selain nilai komersial dan prospeknya menjanjikan, bisnis ini cukup prestisius. Karena itu harus ditangani secara serius. Awak kan orang yang suka serius, inilah tempatnya!” celotehnya panjang lebar.

    ”Serius bagaimana? Masa awak tak tahu kehebohan akhir-akhir ini?”

    ”Apa itu?”

    ”Guru-guru naik pangkat dengan karya ilmiah diupahkan.”

    ”Nah, itu dia. Karena lagi trendnya orang mengupah karya tulis, apa salah kita memanfaatkan momen itu?”

    ”Tetapi artinya kan kerja itu menyalah, ndak benar,” potongku.

    Atan Waham terdiam. Tetapi hanya beberapa detik. ”Kata orang bijak, orang rasional menyesuaikan diri dengan kondisi sekeliling,” ucapnya terkekeh.

    ”Mengutip George Bernard Shaw itu jangan setengah-setengah. Dasar otak komersial,” celaku juga tertawa, sekedar mengimbangi gurauannya.

    ”Eh, aku salah, ya?” tawanya terhenti seketika.

    ”Dagang sajalah yang awak tahu,” ejekku masih tertawa. ”Filsuf Irlandia itu tak berhenti sampai di situ. Dia bilang juga,”Orang yang tidak rasional menyesuaikan kondisi sekeliling dengan dirinya. Semua kemajuan bergantung pada orang yang tidak rasional,” tambahku mengutip kalimat Bernard Shaw yang tadi dikutipnya sepotong.

    ”Ah, terserah awaklah!”  ucapnya enteng menutup pembicaraan.   

    Atan Waham tidak main-main. Dia bisa meyakinkan sekaligus meminta Walikota berkenan meresmikan pabrik skripsinya. Alasan yang paling sering digembar-gemborkannya adalah bahwa usahanya bergerak di bidang jasa intelektual. Makanya dengan sangat percaya diri dia menamai pabriknya dengan sebutan ”Pilar Akademika”.

    ”Kita berharap dengan adanya Pilar Akademika ini, birokrasi pembuatan karya ilmiah dapat dipangkas. Sehingga kita tidak akan mendengar lagi keluhan mahasiswa yang susah bertemu profesornya melebihi bertemu birokrat di perkantoran,”urai Pak Walikota yang sudah bergelar Ir, Drs, MP, M.Sc, MH, MA, M.Ed, M.Pd. di depan dan belakang namanya. Lengkapnya nama Walikota itu, Ir. Drs. Caba Tulen, MP, M.Sc., MH, M.Ag, M.Pd.

    Usai acara aku sempat berbincang dengan beberapa undangan. ”Kalau sudah selesai kuliah, untuk apa lagi skripsi?” tanyaku heran pada seorang pemuda yang membawa map berisi bahan untuk skripsi.

    ”Bos saya, Pak. Dia hendak jadi caleg tahun depan. Makanya dari sekarang dipersiapkan segalanya, ya…termasuk gelarnyalah,” jawab anak muda dengan senyum misterius.

    ”Itulah, Pak. Aneh juga rasanya negeri awakni,” gerutu seorang ibu separuh baya.   ”Untuk jadi presiden ndak perlu syarat sarjana, tapi guru harus sarjana. Makanya jadilah sarjana jadi-jadian asal jadi. Sekepuk buruk banyaknya sarjana yang tidak mampu membuat karya ilmiah, termasuk kami ini. Untunglah ada pabrik Pak Cik Atan Waham ni,” lanjutnya.

    ”Kami guru ni yang serba salah, Pak!” timpal seorang ibu muda pula.

    Wah, lama-lama di sini aku bisa menjadi tempat luahan perasaan mereka. Tetapi tidak etis pula rasanya jika aku meninggalkan mereka. Makanya aku bertahan saja mendengarkan mereka berkeluh-kesah.

    ”Ada kawan yang mengirimkan empat belas buah buku sastra. Ada cerita anak, ada cerpen. Sebagian buku itu pemenang lomba tingkat nasional yang dilaksanakan Pusat Perbukuan, Jakarta. Tetapi tak satu pun yang diterima untuk syarat kenaikan pangkat ke IVB karena dia tidak membuat Penelitian Tindakan Kelas atau PTK. Entah apa hebatnya PTK itu. Inikan penjajahan intelektual namanya, Pak. Ndak dihargai guru yang punya kemampuan menulis bidang lain. Padahal sebaris puisi yang bagus saja, sebuah cerpen yang sarat nilai dan sastrawi, dapat disebut sebagai sebuah karya intelektual, yang nantinya dapat ditularkan guru kepada para siswa.”

    ”Barangkali maksud pemerintah supaya guru lebih fokus pada pembelajaran di kelas,” aku mencoba berdalih, berbasa-basi. ”Apa puisi, cerpen, dan karya sastra itu bukan materi pembelajaran? Itu malah bisa langsung dirasakan anak, langsung dapat dipraktekkan dalam pembelajaran. Bukan semata-mata untuk kepentingan naik pangkat guru. Iya, kan, Pak? Lagi pula PTK yang disusun guru itu banyak yang palsu….”

    ”Ah, kalau itu kasuistis, Bu. Puisi, cerpen dan lainnya itu pun lebih mudah lagi menjiplak-nya,” tangkisku.

    ”Kalau disyaratkan yang dinilai itu hanya yang termuat di media nasional, mana mungkin mereka menjiplak. Terlalu berani betul orang itu. Kalau pun mereka berani, akan lebih cepat atau mudah ketahuannya.”

    ”Tetapi itu kan berat, Bu. Hanya beberapa gelintir guru saja yang bisa menulis di media nasional.”

    ”Katanya mau professional, ya ndak bisa tanggung-tanggung. Kalau tidak, ya ndak usah buat aturan yang membuka peluang guru berbohong dan menipu. Apa bangsa ini dirancang untuk jadi penipu semua?”

    Kacau, kacau. Aku harus cari jalan untuk kabur, pikirku. Kalau tidak, aku benar-benar akan menjadi tong sampah kejengkelan mereka. ”Tapi melalui Pilar Akademika ini kan urusannya mulus?” selidikku sambil berusaha keluar dari keramaian.

    ”Mulus karena fulus, Pak,” ucapnya kecut.

    Tiga hari kemudian aku datang ke pabrik skripsi Atan Waham. Aku mau menegaskan padanya bahwa aku sungguh-sungguh tidak dapat memenuhi permintaannya untuk bergabung dengannya, meskipun katanya beberapa orang berebut menduduki posisi yang dia tawarkan kepadaku. Sekitar lima ratus meter menjelang gapura bertuliskan ”Pilar Akademika” itu, aku tertegun melihat orang-orang yang berjubel di depan gerbang. Mulanya kukira mereka hendak berunjuk-rasa, tetapi tidak ada teriakan-teriakan dan caci maki. Tak ada lempar-lemparan batu. Antrian panjang yang meluber sampai ke jalan raya itu begitu tertib. Mirip warga di RT-ku ketika antrian membeli minyak tanah. Bedanya, para pengantri ini tentunya tidak membawa diregen tempat minyak tanah, tetapi mengepit map berisi bahan-bahan untuk karya ilmiah mereka. Semuanya berpakaian necis, bergaya intelek.

    Aku terpaksa memarkir motor di pinggir jalan. Lalu berjalan kaki menyelinap di antara pengantri.

    ”Ei, antri Pak. Sama-sama ingin cepat!” tegur seorang pengantri dengan sinis melihatku menyelinap saja memotong antrian.

    ”Maaf, saya tidak ….”

    ”Ya, tetap antri, Pak. Kami sudah sejak subuh di sini. Masa Bapak langsung nyelinap saja.”

    ”Tapi Bapak kan lihat, saya tak bawa apa-apa. Saya bukan ingin membuat skripsi, saya….”

    ”Apa pun urusan Bapak, tetap antri,” suaranya makin keras dan tegas.

    Keributan kecil itu tampaknya akan berlanjut jika aku tidak mencari jalan pintas. Kuambil HP, kutelepon Atan Waham. Ada juga beberapa orang yang mencibir ketika aku menyebut nama Atan Waham. Dikiranya aku pura-pura kenal dengan sang pemilik pabrik. Tak sampai tiga menit, Atan Waham muncul di gerbang. Dia menyelinap di antara para pengantri. Meskipun berkeringat, wajahnya cerah sumringah begitu sampai di depanku. ”Terima kasih,awak datang juga akhirnya,” celotehnya dengan tertawa lebar.

    Mulutku terkunci seketika. Ucapannya yang antusias dan bersahabat itu membuatku kehilangan kata-kata. Sebenarnya aku ingin menyampaikan maksud kedatanganku di situ saja. Tidak perlu masuk ke kantornya. Tetapi melihatnya begitu bersemangat menyambutku, aku tak sampai hati. Apalagi beberapa pengantri mendengar percakapan kami. Bisa-bisa aku dianggap menjatuhkan marwahnya di depan para peminat yang berjubel itu.

    Sambil menggandengku, dia melanjutkan, ”Kenapa tak telepon tadi, biar dijemput mobil kantor.” Aku menurut saja ke dalam.

    Di ruang kerjanya tampak beberapa kertas berserakan di meja. Agaknya dia bergegas keluar begitu mendapat telepon dariku tadi. Puluhan skripsi, makalah, bahkan tesis dan disertasi bertumpuk-tumpuk di pojok dekat meja kerjanya. Tumpukan paling tinggi terdapat pada karya bertuliskan CAR. Pastilah itu singkatan dari Classroom Actions Reseach atau yang lebih dikenal dengan PTK (Penelitian Tindakan Kelas). Karya ilmiah jenis inilah yang menjadi primadona sebagai syarat untuk naik pangkat ke IVB seperti yang disebut guru muda beberapa hari lalu.

    ”Ini order paling laris saat ini,” jelas Atan Waham tanpa kuminta seraya menepuk tumpukan karya bertuliskan CAR itu. ”Karena masih menunggu awak, semua pekerjaan manajer produksi kutangani dulu. Kerja awak cuma merevisi karya yang sudah jadi. Itu pun awakdibantu tiga asisten. Ndak susah, kan?” lanjutnya.

    Aku termangu, tak tahu harus berkata apa. Semua yang hendak kukatakan pada Atan Waham ketika akan ke sini tadi, lenyap entah kemana. Untunglah sejurus kemudian meluncur ucapanku, ”Maaf, Tan. Aku benar-benar tak bisa.”

     ”Awak bisa, cuma tak mau, ya kan?”

    ”Apa bedanya? Aku ni guru, Tan!”

    ”Siapa bilang awaktu presiden?” Atan Waham mencoba bercanda. ”Dari dulu juga aku tahuawaktu guru. Guru yang sudah menulis puluhan buku. Itu sebabnya aku meminta awakmenjadi manajer produksi di sini,” lanjutnya masih berusaha meyakinkanku.

    ”Awak tahu sikap hidupku kan?” tanyaku setelah kami cukup lama terdiam.           

    Atan Waham menatapku lekat-lekat. Ada kekecewaan di wajahnya. Tetapi sejurus kemudian dia tersenyum, lalu dengan setengah mengiba dia membujuk,”Awak tak kasihan padaku? Cobalah sebulan-dua, kalau tak selesa, terserahlah.”

    Hampir saja aku luluh dipaksa begitu. Tak tega aku melukai sahabat kentalku ini. Meskipun dalam hal-hal tertentu kami punya prinsip dan sikap hidup yang berbeda, namun persahabatan kami tak pernah renggang. Salah satu sebabnya adalah karena kami tidak pernah saling memaksakan prinsip dan sikap hidup.

    Akan tetapi sekarang, bukankah Atan Waham sudah memaksakan prinsip dan sikap hidupnya kepadaku? Hampir dua minggu dia membujukku agar mau bekerja di kantornya, di Pilar Akademika. Setiap kali dia merayuku, setiap kali itu pula aku menolak, tetap mengatakan tidak sanggup. Hanya saja aku tidak tega menjelaskan alasanku kepada Atan Waham. Bagaimana pun halusnya bahasaku, dia pasti tersinggung jika kukatakan aku tak sanggup jadi pelacur intelektual. Setahuku membuat karya ilmiah untuk digunakan oleh orang lain merupakan pembohongan terencana, penipuan. Bukankah dalam etika penulisan karya ilmiah, mengutip satu kalimat saja sudah harus mencantumkan sumbernya? Apatah lagi membuat satu karya ilmiah. Pelakunya sama saja dengan pelacur, pelacur intelektual.

    ”Cari saja yang lain, ya Tan!” ucapku akhirnya memohon pengertiannya setelah melihatnya putus asa membujukku. ”Aku sangat menghargai pertemanan kita. Aku tak ingin rusak gara-gara ini. Jadi tolong hargai sikapku….”

    ”Iya, aku hargai. Tetapi jelaskan kenapa engkau menolak?” tanyanya putus asa.

    ”Aku belum sanggup menjadi pelacur.” Meluncur juga akhirnya kalimat itu dari bibirku tanpa sadar.

    Atan Waham terdiam, macam patung belum jadi. Rona wajahnya yang berkeringat berkilat-kilat, kusut, meleleh.

    * Ide cerpen ini terinspirasi dari sms Mas Darsan (Yogya). Terima kasih, Kawan!

    Catatan:

    awak = kamu; engkau (dapat juga bermakna saya, aku, tergantung konteks kalimat)

    sekepuk buruk = ungkapan yang menyatakan sudah terlalu banyak (bahasa Melayu
    Telukriti)

    selesa = serasi; sesuai